Saturday, February 25, 2012

Download Geratis Modul TV Dengan Enam Saluran Untuk HP Symbian

0 comments
Download geratis aplikasi untuk nonton tv di hand phone symbia s60v2, download modul tv dengan enam saluran atau channel geratis untuk hp s60v2, nonton tv di hp download geratis aplikasi, aplikasi download geratis untuk hp nonton tv di modul tv.


Tak ada yang tak mungkin di dunia ini asalkan kita mau belajar dan berdo'a pada yang maha kuasa, betul gak cie so bijak ahh.. Beneran nih buktinya ada juga aplikasi untuk nonton tv di hand phone symbian. nama aplikasinya modul tv dan di lengkapi dengan 6 saluran atau enam channel yaitu TV Bamm, Diya TV, Get unjabi, Polymers TV, Sakshi TV, TV5 sayangnya Anda harusregistrasi dulu dan login maka Anda dapat menikmati acara TV-nya.Tapi bagi sobat yang mau mencoba dan mendownloadnya saya kasih link download geratis modul Tv dengan enam channel di bawah.

Download Geratis Modul TV Dengan Enam Saluran Untuk HP Symbian
Readmore → Download Geratis Modul TV Dengan Enam Saluran Untuk HP Symbian

Download Adobe Photoshop Untuk Hp Symbia s60v2 Geratis

3 comments
Download geratis adobe photoshop untuk symbian, download aplikasi symbian adobe photoshop geratis, download adobe photoshop s60v2, download software adobe photoshop geratis untuk symbian, adobe photoahop untuk handphon geratis, adobe photoshop download geratis untuk hp symbian geratis.
Wah dari judul di atas sih kayaknya menarik yah? Kebayang gak Software untuk mengedit foto di komputer yaitu adobe photoshop nah sekarang sobat bisa sedot dan pasang adobe photoshop di hp symbian sobat wah wah wah keren eum, yang tertarik saya kasih link downloadnya dan sobat bisa berkomentar dan like terlebih dahulu jika belum maka proses download akan cepat dan singkat.

download disini geratis adobe photoshop untuk hp symbian s60v2.


terimakasih atas kunjungannya tinggalkan jejak anda di komentar atau di buku tamu saya, selamat mencoba lihat juga postingan saya sebelumnya Download Game Klasik 365 Board Games 2.
Readmore → Download Adobe Photoshop Untuk Hp Symbia s60v2 Geratis

Download Game Klasik 365 Board Games 2

0 comments


Putar hingga sepuluh permainan yang berbeda dengan keluargaatau teman. Menyesuaikan aturan dan mengubah tingkat kesulitan yang Anda sukai. Paket lengkap, yang dirancang untuk mengingat rasa game klasik, termasuk permainan angsa, pertempuran angkatan laut, kekuatan 4, catur, backgammon, kuda kecil, dam, Reversi, permainan pabrik dan kutu.Selamat bersenang-senang!

Permainan Dewan 365 Deluxe adalah permainan Hubungkan 2Media. Kami memilih untuk mengklasifikasikan permainan untuk men-download games mobile 365 perusahaan dalam genusdeluxe "Monopoli, Scrabble, Uno" ("Classic"). Permainan Dewan365 Deluxe juga peringkat dalam "alamat, Arcade ..." genre.

Tertarik untuk mendownload-nya?
Readmore → Download Game Klasik 365 Board Games 2

Thursday, February 23, 2012

Rosemarry ft Gania - Super Girl (Lyrics)

0 comments

Readmore → Rosemarry ft Gania - Super Girl (Lyrics)

CERPEN PADA TIKUNGAN BERIKUTNYA Cerpen Musmarwan Abdullah

0 comments

PADA TIKUNGAN BERIKUTNYA 
Cerpen Musmarwan Abdullah 


Aku berjalan kaki menempuh jalan pinggiran kota menuju ke kantor redaksi. Cerpenku kali ini dimuat pada saat yang tepat, di saat aku membutuhkan uang sesedikit apapun. Nah, cuma itu yang ingin kusampaikan padamu, kawan.
Selebihnya, tak ada yang dapat kuceritakan. Di ruang langit menggelantung awan-asap mesiu. Di hamparan tanah, darah berpercikan di batu-batu jalan. Dan, kemanapun wajah kupalingkan, yang kulihat hanya tentara-tentara.
"Berhenti!" tiba-tiba berteriak sekelompok tentara yang berdiri di tepi jalan yang tengah kulewati. Dan, begitulah aku wajib berhenti setiap tubuh kerempeng ini berpapasan dengan tubuh-tubuh mereka yang gagah dalam uniform militer yang megah.
"Angkat bajumu!"
Dan, aku mengangkat bajuku. Mereka meneliti sekeliling pinggangku. Tak ada pistol-rakitan yang terselip di sana. Tak ada sebilah rencong yang menantang di situ.

"Keluarkan kartu pendudukmu!"
Ya, kukeluarkan kartu pendudukku. Mereka membaca dengan suara agak tinggi: "Nama lengkap: Musmarwan bin Abdullah! Jenis kelamin: laki-laki! Tempat/tanggal lahir: Tanjong, sembilan-belas-enam-tujuh! Agama: Islam! Pekerjaan: penulis cerita pendek!" Sampai di sini mereka berhenti. Tentara yang membaca itu melihat ke arah temannya.

"Coba buktikan!" kata temannya itu.
Lalu mereka memberiku selembar kertas dan sebatang pena. Sambil tetap berdiri di situ aku menulis, "Tak ada yang dapat kuceritakan padamu, kawan, di saat inspirasi telah menjadi langka di ruang kontemplasi para tukang tulis cerita. Dialog telah gagal antara pemerintah dan kaum pemberontak. Pemerintah mengakui, mereka telah bikin melarat propinsi ini selama berpuluh-puluh tahun. Tetapi pemberontak tetap bersikukuh; ingin propinsi ini lepas dari republik. Maka pemerintah menetapkan propinsi ini dalam status darurat militer...."

"Hentikan!" teriak mereka. Dan begitulah aku wajib menghentikan tulisanku. Tentara yang berteriak itu melihat ke arah temannya. Teman itu mengangguk, "Orang ini dapat dipercaya," katanya. Lalu menyambung, "Darurat militer diberlakukan untuk menumpas pemberontak yang ada di seluruh propinsi ini, kau tahu?!"
Aku mengangguk. Dan, aku dilepaskan untuk meneruskan langkahku. Di tikungan berikutnya aku berpapasan dengan sekelompok tentara yang lain. "Berhenti!" teriak mereka.
Dan, aku berhenti.
"Angkat bajumu!"
Aku mengangkat bajuku.
"Mana Ka-Te-Pe-mu!"
Aku menyerahkan KTP-ku. Mereka membaca dengan suara agak tinggi, "Nama: Musmarwan bin Abdullah! Tempat/tanggal lahir: Tanjong, sembilan-belas-enam-tujuh! Kawin/tidak kawin: kawin! Pekerjaan: penulis cerita pendek!" Sampai di data ini mereka berhenti. Tentara yang membaca itu melihat ke arah temannya.
"Coba buktikan!" teriak temannya itu. Dan aku pun disuruh menceritakan sesuatu dengan lisan.
Sambil tetap tegak di situ aku berkata: "Tak ada yang dapat kuceritakan padamu, kawan, di saat inspirasi adalah ilham yang hampa di ruang kontemplasi para tukang tulis cerita. Aku tak punya keinginan untuk menembak tentara dan membunuh polisi karena aku bukan orang-orang pemberontak itu. Aku malah menyesal pada cerita-cerita ciptaanku yang tidak mampu memberikan pencerahan pada orang-orang kampung agar mereka tidak lagi memusuhi tentara dan membenci polisi, terutama di tengah darurat militer seperti ini. Atau barangkali selama ini memang ada yang tidak beres pada dua institusi ini?"

"Sudah! Cukup!" teriak mereka. Lalu menyambung, "Darurat militer digelarkan untuk menumpas pemberontak yang ada di seluruh propinsi ini, kau tahu?!" 
Aku mengangguk. Selanjutnya aku bebas meneruskan langkahku. Dan, pada tikungan berikutnya aku berjumpa lagi dengan sekelompok tentara yang lain. Hal yang sama terjadi. Aku disuruh bercerita. Dan, aku bercerita. Dan, pada kalimat-kalimat terakhir ceritaku kubilang, "Aku bukan penganut rasisme. Waktu kaum pemberontak membunuh dan mengusir orang-orang transmigran, aku malah menangis sambil memeluk anakku karena terbayang pada anak-anak mereka yang terseret-seret di semak-semak belukar seraya mulut mendesis memanggil ibu atau ayah mereka yang terbunuh hingga tidak dapat menuntun mereka mengarungi belantara demi belantara."

"Sudah! Cukup! Sedih sekali kau bercerita!"
Dan, aku dibiarkan meneruskan jalanku. Di tikungan berikutnya lagi nasib yang sama menimpaku pula. Dan, aku bercerita lagi. Pada sepanjang kalimat terakhir kubilang, "Dulu waktu zaman DOM banyak orang kami yang mati tak wajar kendati kesalahannya sangat kecil dan cukup patut untuk dimaafkan. Sekarang ketika salah satu dari kelompok masyarakat propinsi ini mau benar-benar merenggut tanah kaya ini dari rangkulan republik, eee, semua mau pamer wajah dan jasa di sini. PMI dengan mayat-mayatnya, Komnas HAM dengan bukti-bukti orang matinya, Kontras dengan data-data orang hilangnya, televisi dengan liputan perangnya, LSM dengan jasa makelarnya, para cendekiawan dengan komentar-komentar empatinya. O, indah nian. Semua yang di ibukota kebagian job bagus di propinsi ini. Dulu waktu kami menggelepar-gelepar bagai binatang-binatang tak berharga di bawah matahari DOM, kemanakah mereka semuanya? Di propinsi malang ini, setiap tragedi kemanusiaan akan selalu tertutupi oleh tragedi kemanusiaan berikutnya. Lingkaran siklus itu telah membuktikan, ternyata mereka tidak berarti apa-apa bagi kami."

"Sudah! Cukup!" teriak tentara yang berdiri di depanku. "Baik! Jalan!" Dan, aku kembali meneruskan jalanku. Di tikungan berikutnya lagi-lagi kutemui nasib yang sama. Kukatakan pada mereka, "Dalam setengah hari ini aku sudah delapan kali di-sweeping. Apakah itu belum cukup?" "Haa.. haa.. haa...!" mereka tertawa. Lalu aku disuruh membuktikan dengan jalan meceritakan kembali kronologi pemeriksaan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan. Ya, kuceritakan. Panjang sekali. Berbusa kedua pinggir mulut ini. Dan, setelah itu aku disuruh lanjutkan jalanku.
Pada belokan selanjutnya aku berpapasan lagi dengan sekelompok tentara yang lain lagi. Peruntungan yang menimpa tiada beda. Aku lagi-lagi disuruh bercerita untuk membuktikan bahwa aku benar-benar tukang cerita. Kubilang, "Tak ada lagi yang dapat diceritakan."
"Ceritakan saja!"
"Ruang langit tempat turunnya ilham telah tertutup asap mesiu."
"Cerita apa saja!"
"Tak ada."
"Tentang apa saja!"
"Tidak."
"Apa saja yang melintas di pikiran!"
"Tidak."
"Baik! Jalan! Memang sudah beku otak pengarang kita ini!"
Kulanjutkan perjalananku. Langkah tak bisa kucepatkan karena lelah. Ketika tiba di kanto redaksi, hari sudah sore. Staf bagian keuangan sudah pulang. Aku gagal mengambil honorariumku. Di dompet sudah tidak tersisa sepeser pun. Aku teringat, makanan yang tersisa di rumah hanya cukup dimakan berdua oleh anak dan isteriku tadi pagi. Dan malam ini tak ada sesuatu yang akan kubawa pulang. Mau mengutang, tidak ada tempat untuk mengutang di saat semua tengah melarat.

Aku tiba di rumah manakala senja baru berganti malam. Di kamar kudapati isteri dan anakku sudah tertidur pulas. Aku tahu kenapa isteriku mengambil inisiatif membawa tidur anak kami lebih cepat dari biasanya, hingga ia sendiri jatuh terlelap tanpa sengaja.
"Tuk.. tuk.. tuk!!!" ketika aku mau ikut tidur tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku dengan malas membukanya. Seorang tentara bertopi baja menjengukkan wajahnya melalui renggang pintu yang terkuak setengah. "Darurat militer diberlakukan untuk menumpas pemberontak yang ada di seluruh propinsi ini, kau tahu?!" katanya.
Aku mengangguk. Ia menarik kembali wajahnya. Pintu sudah boleh kututup kembali.
Saat Subuh kurebahkan tubuhku pelan-pelan di samping isteriku. Aku mendesiskan kata-kata mesra padanya, kata-kata selamat tidur. Ya, tidurlah kalian dengan lelap meski perut tidak terisi apa-apa sejak siang tadi. Yang penting jangan memberontak. Di negeri ini memberontak dilarang. Dan, yang lebih penting lagi, jangan menangis. Di propinsi ini tangis tiada artinya.

Kembang Tanjong, 27 Juni 2003

Readmore → CERPEN PADA TIKUNGAN BERIKUTNYA Cerpen Musmarwan Abdullah

CERPEN LELAKI NGUNGUN Cerpen Mohammad As'adi

0 comments

LELAKI NGUNGUN 
Cerpen Mohammad As'adi 


Tatap kosong dan kerut wajah lelaki itu tak lagi memancarkan cahaya. Watak kerasnya tak lagi memiliki kekuatan apapun. Ia tinggal menunggu saat-saat untuk pulang.
Saya jadi begitu iba ketika semua anaknya masih saja memiliki rasa takut luar biasa kepadanya. Sungguh, ia sudah tidak memiliki kekuatan apapun untuk marah, atau melempar bakiak ke tubuh kami seperti semasa kami kecil.
Hidup baginya tinggal menunggu waktu, begitu ngungun dan sendirian. Seluruh sahabat seusianya satu persatu telah pergi. Tidak ada lagi tempat untuk menumpahkan seluruh kesepiannya atau ide-ide briliannya tentang hidup dan kehidupan.
Aku jadi teringat ucapan ibu beberapa hari sebelum ia meninggalkan kami untuk selama-lamanya. ''Kalau Allah menghendaki saya harus pulang terlebih dahulu, jaga ayahmu. Jangan ada dendam atau kebencian. Memang begitulah watak ayahmu. Kamu harus ingat, bagaimanapun juga ia telah mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkan dan memberikan kehidupan pada kalian semua, anak-anaknya.''
Antara ibu dan ayah sungguh jauh berbeda. Ibu adalah perempuan yang begitu sabar, setia dan memiliki kesadaran terhadap datangnya kematian. Ibu adalah perempuan yang mengerti benar arti sebuah cinta dan kehidupan. Tidak saja kepada anak-anaknya, tetapi juga Sang Khalik.
Tasbih, mukena dan Alquran tidak pernah lepas dari genggamannya. Hidup bagi ibu adalah sebuah pengabdian, kepada Allah, ayah dan seluruh anak-anaknya. Tidak mengherankan bila perempuan itu selalu merasa was-was jika harus pulang kepada Sang Khalik mendahului ayah.
''Bukan ibu takut mati, tetapi ibu takut ayahmu bakal kesepian. Sebab, ibu punya perasaan kalian semua tidak akan mampu mendampingi ayah kalian.'' Saat itu saya hanya bisa menundukkan kepala. Saya jadi teringat masa kecil kami. Dari empat belas bersaudara, nyaris tidak ada satupun yang tidak merasakan tempelengan ayah, atau sakit karena diperlakukan sebagai 'musuh'. Ayah memang begitu keras, disiplin dan diktator. Namun, di antara wataknya itu sesungguhnya terselip sebuah kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan yang kemudian diturunkan pada anak-anaknya.
Kadang ia seperti Leonardo da Vinci atau Einstein. Bahkan, walau lebih banyak seperti harimau, sering muncul cahaya Rumi dari sorot matanya. Pernah suatu kali ia bicara pada saya bagaimana harus menyikapi kehidupan, ''Hati yang bersih adalah cermin tanpa noda sehingga bisa menerima banyak sekali bayangan, atau pantulan. Yang bersih telah meninggalkan keharuman dan warna; setiap saat mereka dapat melihat keindahan tanpa halangan*. Maka hiduplah dengan hati, nurani dan tanpa kebencian.''
Begitulah kalau ayah sudah mulai berbicara soal hidup. Ia acapkali menghadirkan kata-kata orang bijak, tidak terkecuali Rumi atau yang lain. Ketika berbicara soal semesta, ia akan mengutip ayat-ayat Alquran, bahkan juga paranormal.
Angan-angannya pun selalu membumbung tinggi. Semua keinginannya harus dituruti, termasuk mempekerjakan ibu untuk menghidupi seluruh anak-anaknya, sementara ia begitu sibuk dengan pikiran dan angan-angannya, sampai-sampai ia kehilangan kesadaran bahwa dalam hidup ini ada kehidupan yang wajib ditanggungnya, yaitu isteri dan anak-anaknya.
Ia juga lupa akan hakekat cinta sejati dari seorang lelaki, terhadap ibu, anak-anaknya dan Sang Khalik. Ia pun tidak menyadari, gairah hidupnya yang keras dan meledak-ledak sesungguhnya telah melukai hatinya dan meluluhlantakakan harapan-harapannya. Terlebih lagi ketika ibu telah tiada. Ia tampak begitu kesepian.
Setiapkali berhadapan dengan ayah, saya selalu teringat kepada ibu yang kini berada di pelukan Sang Khalik. ''Jangan ada dendam atau kebencian. Jangan sekali-kali meninggalkan ayahmu sendirian. Lihat saja hatinya. Ia memang keras, tapi sesungguhnya memiliki kecintaan kepada kalian. Jika ada rasa dendam, seharusnya ibulah yang paling mendendam. Tapi tidak. Jangan. Cintailah ayahmu seperti ibu mencintai kalian.''
Tubuh renta lelaki yang biasa kami pangil Ayah itu kini lebih banyak tergolek di pembaringan. Usia tuanya telah merenggut seluruh wataknya. Ia seperti kepompong, bukan untuk lahir kembali menjadi kupu-kupu yang indah, tetapi untuk pulang kepada yang memilikinya.
Kadang-kadang aku mendengar ia menyebut nama Allah dan istighfar. Cahaya matanya seperti mengucapkan kata, ''Mari sayang, dekat-dekatlah dengan aku, maafkan ayahmu yang telah melukai hatimu.''
Tatapan itu acapkali membuat hati saya gemetaran, luka-luka hati saya seperti mengucurkan darah dan sakit. Tetapi, ketika di depan mata berkelebat wajah ibu, saya menangis dan merasa bersalah, lalu luka menjelma jadi luka-luka yang lain. Tidak. Tidak boleh ada rasa dendam sedikit pun di hati saya. Seperti ibu, walau lukanya lebih dalam, tidak secuil pun memiliki rasa dendam atau kebencian kepada ayah.
Ketika masih muda dan kuat, ayah mengajarkan kepada kami tentang hidup dengan kekerasan, keterasingan dan keterpisahan serta penuh angan-angan. Sementara ibu mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada kami. Ketika mata ayah memancarkan api kemarahan, mata ibu memancarkan air dan menyiramnya hingga padam. Sehingga, ketika ibu pergi meninggalkan kami selama-lamanya, kami merasa kehilangan dan bertahun-tahun merindukan kehadirannya kembali.
Setiapkali aku mengunjungi ayah, selalu menyempatkan melongok kamar ibu dan menatap wajahnya pada foto keluarga. Di wajahnya yang cantik dan lembut itu saya belajar betapa cinta itu mengalahkan segala kebencian, kedengkian, amarah dan dendam. Cinta yang memancar dari wajah ibu bagai samodra keindahan. Kalau sudah begitu kerinduan pun sirna. Wajah itu pun mampu mengajarkan kearifan. Hidup harus dijalani dengan kesungguhan dan kesadaran untuk ikhlas meninggalkan segala-galanya dan mengabdi pada cinta.
Barangkali perasaan ayah sama dengan perasaan saya terhadap kepergian ibu sepuluh tahun yang lalu. Bahkan, mungkin luka yang dideritanya jauh lebih dalam. Apalagi, selama hidup bersama ibu, ayah memiliki ketergantungan besar kepada ibu yang senantiasa dilukai hatinya. Barangkali luka-luka hatinya itu kini menjadi beban paling berat bagi ayah.
Kalau ibu yang paling tertindas saja selalu memaafkan, kenapa saya tidak?
Kenapa saudara-saudara saya yang lain juga tidak?
Saya merasakan, kadang ia merindukan kehadiran seseorang, juga anak-anaknya, yang terasa telah hilang dari kehidupannya. Ia begitu kesepian. Kalau saya menatapnya, tampak ada butir-butir kecil di antara cahaya matanya yang redup, Ia selalu bertanya bagaimana kabar Fuad, Zaim, Nur atau saudara saya yang lainnya. Kalau sudah begitu, akhirnya ia akan terdiam.
Berhadapan dengan ayah sekarang, seharusnya bukan dendam atau kebencian yang kita tancapkan di dadanya. Tapi, sebuah cahaya cinta, atau belaian dengan ucapan dan hati yang bersih. Tidak lama, ya mungkin tidak lama lagi ia akan pulang kepada Sang Khalik menyusul ibu, dan itu pasti terjadi.
Ia kini tidak mampu lagi mengepakkan sayap kegagahannya, atau menghunjamkan cahaya kemarahan kepada siapapun. Yang ia bisa hanya bergumam dalam pergulatan menuju akhir perjalanannya. Ia sudah sangat redup, ia seperti Lelaki Ngungun.
* Kata-kata Jallaludin Rumi dalam sebuah karyanya.

Readmore → CERPEN LELAKI NGUNGUN Cerpen Mohammad As'adi

CERPEN PEREMPUAN YANG BERENANG SAAT BAH Cerpen Isbedy Stiawan ZS

0 comments

PEREMPUAN YANG BERENANG SAAT BAH 
Cerpen Isbedy Stiawan ZS 


Entah dari mana ia tahu kalau aku berada di kota ini. Pagi-pagi sekali, ia menelepon dan mengharap aku menemuinya. Aku sempat kaget ketika penelepon itu menyebut namanya: Shinta Larasati. Kemudian kudengar ucapan syukur bahwa ia selamat saat gempa dan tsunami beberapa hari lalu. "Nta selamat. Juga anak kembarku," lanjutnya dengan tetap menyebut dirinya Nta sebagai sapaan dari namanya. "Meski si kembar masih harus dirawat. Ia banyak meminum air."
"Suamimu?" segera kutanya nasib suaminya, Teuku Nurgani, orang Aceh. Dan karena Nurgani, dia dibawa ke kota ini setelah menikah tiga tahun lalu. Shinta tak langsung menjawab. Beberapa kejap terdiam. Aku yakin, gagang teleponnya masih menempel di telinganya. Aku menanti cemas apa yang akan dikatakannya. "Abang tak bisa diselematkan. Ia digulung gelombang besar, dan sampai kini Nta belum menemukannya. Tapi Nta yakin, abang sudah meninggal," jelasnya beberapa kejap kemudian. Terdengar isaknya.
"Lalu, kau di mana sekarang?" secepatnya kutanyakan posisinya. Aku tak lagi berpikir apalagi bertanya dari mana ia dapat informasi kalau aku ada di Banda Aceh. Bahkan aku juga tak menceritakan mengapa dan untuk urusan apa aku datang ke kota yang nyaris punah dari peta bumi ini. Kukira, dan ini selalu kukatakan kepada teman-temanku, ini tidaklah begitu penting. Aku datang bukan mengataskan namakan relawan yang acap ditulis secara resmi, juga tak menggunakan suatu lembaga apa pun.
Ia menyebut suatu tempat di sekitaran Bandara Blang Bintang. Tak kutanya apakah ia di penampungan para pengungsi ataukah di suatu rumah. Sebab kemudian ia menceritakan detik-detik ia melawan maut. Katanya, ketika semburan gelombang berkekuatan dahsyat, ia berlari kencang menghindar kejaran air. Si kembar didekapnya erat-erat. "Nta tak mau melepaskan salah satu si kembar. Dalam pikiran Nta lebih baik mati bersama, atau kami selamat bertiga," katanya.
Shinta bercerita bahwa saat itu yang terpikir hanyalah tempat berlindung. Tetapi, sampai lebih 50 meter ia berlari tak satu pun tempat yang dianggapnya dapat menyelematkannya. Ia terus lari. Sekencangnya. Kedua anaknya-Ranti dan Santi-terguncang-guncang dalam dekapan tangannya. Ia kalah dengan kekuatan lari air. Shinta, demikian ceritanya, sempat tergulung dan berenang dalam air bah sampai ia tertolong tembok yang ternyata adalah dinding sebuah Masjid.

Shinta berkata, "Nta naiki tembok masjid itu. Tak berpikir apa-apa, selain ingin selamat. Ingin selamat. Nta memohon diselamatkan Tuhan. Ketika air mulai surut, Nta langsung sujud syukur..."
"Suamimu di mana saat itu?"
"Abang sedang jalan pagi...," lalu suaranya tersekat. Isaknya kembali 
kudengar. "Nta tak punya siapa-siapa lagi di sini. Nta takut," ujarnya lagi.

Ah! Shinta Larasati. Nama itu kembali akrab di benakku. Padahal sejak Teuku Nurgani menikahinya tiga tahun silam, aku sudah melupakannya. Namanya sudah kuhapus dari memoriku, bahkan seluruh nomor telepon dan alamatnya sudah kubuang dari notesku. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaannya. Tak hendak mengusik kehangatan rumah tangganya. Betapa pun ia pernah singgah-bahkan sulit terpisahkan, dari hatiku. Tuhan telah menentukan lain. Cuma tiga bulan perkenalannya dengan Teuku Nurgani, ia pun dilamar. Setelah menikah dibawa ke kampung kelahiran sang suami: menetap hingga bencana itu datang pada Ahad, 26 Desember 2004.
Aku sempat putus asa ketika ia mengutarakan hendak menikah. Tetapi, aku tak dapat berbuat apa-apa. Tersebab waktu itu aku memang belum mau berumah tangga. Padahal ia sangat menunggu aku melamarnya. "Nta tak mau persahabatan kita dinodai. Segeralah melamarku, Sat!" "Dengan apa aku melamarmu, Shinta? Modalku belum ada untuk membawamu..." kataku. Meski aku berjanji tetap akan menikahinya. "Aku juga ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku." 1)
Aku serbasalah. Ia memang terbawa emosi. Gamang ketika banyak temannya sudah berkeluarga. Selain itu, sebagai anak sulung kedua orang tuanya seakan menumpukan harapan padanya. Itu sebabnya, aku relakan ketika Nurgani melamarnya. Aku juga tak datang sewaktu resepsi pernikahannya. Tak sedap membiarkan hatiku yang luka semakin koyak. Undangan dari Shinta kubiarkan tergantung di dinding kamarku, bahkan hingga kini masih ada di sana. Foto Shinta Larasati dan Teuku Nurgani terpajang di halaman muka undangannya.
Dan, kalau sampai hari ini aku belum berkeluarga bukan lantaran frustrasi. Hanya aku tak punya semangat berteman khusus dengan lain perempuan. Meski di kantorku banyak yang menggoda. Aku tetap dingin dan hatiku sekeras batu sehingga tak seorang pun dapat memecahkannya. Daniel kerap mencoba untuk mencairkan kebekuan hatiku dengan menewarkan beberapa nama perempuan, namun selalu gagal.
"Kau harus realistis, Sat! Usiamu terus bertambah. Apa kau menginginkan perempuan seperti Shinta, mana mungkin kaudapatkan dua orang yang sama persis!" tandas Daniel. "Kalau aku mau, Shinta sudah jadi istriku. Hanya waktu itu aku belum mau berumah tangga," jelasku. Aku tersinggung ketika ia mengira kalau aku memilih hidup seperti ini karena Shinta tidak menikah denganku. Padahal Shinta menikah dengan Teuku Nurgani lantaran aku belum siap melamarnya. "Sekarang modalmu sudah cukup, bukan? Kenapa tidak mencari perempuan lain? Di kantor ini saja kukira banyak yang bisa kaujadikan istrimu, kalau saja kau benar-benar tidak frustrasi pada perempuan," timpal Daniel.
Aku tak tergoda oleh ocehannya. Teman-teman perempuan di kantorku hanya kujadikan mitra kerjaku. Pada waktu yang lain kutempatkan mereka sebagai kawan diskusi, ataupun lawan saing demi menyemangati pekerjaan. Awalnya Daniel mengira hatiku mulai mencair, dan suatu saat nanti akan memilih salah satu dari mereka. Perkiraannya meleset. Sampai aku dipromosikan jabatan yang bagus dan pindah ke kota Jk, aku tak juga jatuh hati dengan salah satu dari teman sekantorku.
Aku mengemasi barang-barang yang ada di ruang kerjaku, lalu memasukkan ke dalam kotak-kotak kardus yang telah disiapkan. Setelah itu kunaiki ke mobil. Tak banyak cakap. Aku juga jarang menyambut godaan Daniel, terutama soal perempuan. Bahkan ketika ia memberiku setangkup roti yang katanya dari Endah, tanpa kusahut langsung kumasukkan ke dalam mulut. "Ternyata kau hanya lapar makanan, bukan perempuan," Daniel berbisik. Setelah itu aku pamit. Pada Daniel, sahabatku yang sangat dekat di kantorku, juga seluruh karyawan lainnya. Tak ada tangis. Tak perlu mengumbar kesedihan.
Aku pikir tak perlu bersedih dalam hidup ini. Meski aku tetap punya rasa haru, begitu menyaksikan orang bersedih. Maka itu, ketika kusaksikan berita gempa dan stunami menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan Aceh, segera kuputuskan ke kota ini. Aku harus menolong sebisa apa yang ada pada diriku. Setidaknya, dengan keahlian sebagai dokter, aku akan menolong banyak korban yang cedera.
Itulah mengapa sore tadi aku sudah tiba di kota ini. Kota yang telah penuh oleh sampah puing dan lumpur hitam, sebuah kota yang nyaris lenyap dari peta. Kota yang kini berserakan mayat di setiap sudut tanahnya. Mayat yang mulai meruap amis. Dan, sejak sore tadi begitu kakiku menjejak Tanah Rencong ini, berkali-kali aku bersitatap dengan orang-orang yang pandangannya kosong. Atau seorang inong2) yang duduk bengong di tengah runtuhan bekas rumahnya. Mungkin ia juga kehilangan keluarganya atau suaminya?
Pagi ini seharusnya aku bergabung dengan para relawan yang lain, kalau saja Shinta Larasati tidak meneleponku subuh tadi. Ia berharap sekali aku menemuinya di sekitaran Blang Bintang. Tetapi, aku lupa menanyakan di mana ia menetap. Di penampungan pengungsi ataukah menetap di rumah warga?
Aku berjanji menemuinya agak siang. Sebab pagi ini aku harus ke tenda pengungsian dekatku menginap untuk menolong anak-anak yang terserang diare. Shinta merajuk. Ia berharap menemuinya lebih dulu. Akhirnya aku ke Blang Bintang menumpang mobil Palang Merah Indonesia. Kudapati Shinta yang sedang menunggui anak kembarnya. Katanya, "Terima kasih Sat, terima kasih mau melihat Nta."

Aku tersenyum. Menatap wajah masai itu. Kedua matanya sembab. Barangkali karena kebanyakan menangis. Aku berkata kemudian, "Sudahlah, sedihnya jangan berlarut-larut. Ikhlaskan yang telah pergi. Suamimu mati syahid, pasti dia telah menantimu di surga."
Shinta kembali terisak. Lalu ucapku lagi, "Aku sudah datang kan? Jadi, kau jangan bersedih lagi. Aku segera menolong anakmu." 
Lalu kubuka tasku. Kuambil obat dan kuserahkan padanya. Kuperiksa tubuh Ranti dan Santi. "Kau tak apa-apa kan? Tak perlu kuperiksa kan?"
Ia menggeleng. "Nta sehat. Hanya...."
"Jangan berpikir macam-macam, malah nanti kesehatanmu terganggu. Tenanglah. Yang perlu kauperhatikan kesehatan kedua anakmu," aku menasihatinya. Ketika ingin pamit, Shinta seperti keberatan kutinggalkan.
"Aku harus menolong yang lain. Kedatanganku ke sini untuk memberi pertolongan, bukan."
"Ya Nta maklum. Nta memang tak perlu ditolong. Terima kasih, Sat."
"Bukan itu maksudku, Shinta. Sebagai dokter aku harus menolong orang lain juga. Masih banyak korban yang menderita, yang membutuhkan perawatanku. Maafkan aku. Dan sore nanti, setelah tugasku selesai, aku pasti ke sini lagi. Menemuimu. Menemani Ranti dan Santi," janjiku. Segera kutinggalkan Shinta yang memandangku tak berkedip.
"Nta mengerti. Kalau banyak tugas, kau tak kemari pun tak apa-apa. Nta bisa mengurus sendiri."
"Aduh Shinta... kau marah ya?" kataku. Dan, aku tak mengharapkan reaksinya.


Sore ini kutepati janji. Mengunjungi Shinta. Memeriksa keadaan si kembar dan memberinya obat. Ia menerimaku riang. Wajahnya benderang. Seperti ada bintang di paras yang manis itu. Keadaan Ranti dan Santi mulai membaik. Sejak itu aku sering menemuinya setiap sore atau malam.
"Nta mau pergi dari sini. Di sini Nta sudah tak punya famili lagi," katanya setelah tiga hari pertemuan kami. "Nta tidak sanggup menetap lama di sini, traumatik. Setiap mendengar suara, seperti suara gemuruh air."
"Ke mana?"
"Ke rumah Tante Alin di Jakarta. Semalam Nta nelepon, dan tante akan menjemput Nta."
"Bagaimana kalau ke rumahku?"
Entah kekuatan apa yang membuat kata-kata itu meluncur dari bibirku.
Entah mengapa aku begitu lancang (atau malah itu wajar?) mengajaknya ke rumahku, padahal ia belumlah menjadi istriku? Mungkin itu sebagai tanda, cinta kami yang tertunda akan berpaut kembali? Entahlah.

Aku cemas. Tertunduk. Aku seperti tengah menanti ia mendampratku karena ucapanku barusan. Menyesal. Aku sudah berbuat kurang ajar pada Shinta, perempuan yang sejak dulu sangat kuhormati. Segera ingin kuralat, meminta maaf kalau aku lancang dan bukan karena sengaja. Namun belum lagi ucapanku keluar, Shinta mendahului dengan ujaran: "Kalau Abang menikahi Nta, bolehlah."
Lampung, 17 Januari-4 Februari 2004

1) ucapan Rendra dalam satu puisinya.
2) perempuan (bahasa Aceh).


Readmore → CERPEN PEREMPUAN YANG BERENANG SAAT BAH Cerpen Isbedy Stiawan ZS

KALUNG TASBIH DARI MAKKAH Cerpen Anita Retno Lestari

1 comments

KALUNG TASBIH DARI MAKKAH
Cerpen Anita Retno Lestari

Aku hanya bisa menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan Tuhan.... Suamiku mengalami gegar otak berat, kakinya patah, dan tulang belakangnya remuk.
Sepulang naik haji, ayah memberiku kalung tasbih yang katanya dibelinya di Makkah dan pernah dibawanya memasuki Masjid Nabawi dan di depan Makam Rasulullah SAW ayah berdoa semoga aku menjadi perempuan salehah yang bahagia di dunia dan akherat.
''Setiap habis shalat, gunakan kalung tasbih ini untuk berdzikir,'' pesan ayah ketika menyerahkan kalung tasbih yang kini selalu menemaniku ke mana pun aku berada. Aku pun selalu menggunakan kalung tasbih itu untuk menghitung kalimat-kalimat thoyibah yang kubaca sehabis shalat.
Dan, setelah aku menikah, kalung tasbih itu tiba-tiba hilang. Seingatku, sebelum hilang, kalung tasbih itu kuletakkan di dekat bantal ketika aku hendak tidur dengan suamiku. Tapi, suamiku mengaku tak tahu menahu ketika aku mencari-cari kalung tasbih yang raib itu.
''Mungkin kamu lupa menyimpannya. Suatu ketika pasti ketemu lagi,'' ujar suamiku ketika aku menunjukkan perasaan resah atas raibnya kalung tasbih itu.
''Sebaiknya kamu membeli lagi kalung tasbih yang lebih besar, biar tidak mudah hilang,'' lanjut suamiku.
Aku tetap saja merasa resah atas hilangnya kalung tasbih dari Makkah itu. Setelah aku membeli kalung tasbih dan menggunakannya untuk berdzikir, rasanya aku selalu teringat kalung tasbih yang telah hilang itu, sehingga dzikirku tidak pernah bisa khusyuk. Aku merasa bersalah kepada ayah yang kini telah almarhum. Aku merasa telah gagal mempertahankan kalung tasbih dari Makkah itu sebagai milikku.
''Apa sih istimewanya kalung tasbih yang hilang itu, sehingga kamu tampak selalu murung dan gelisah?'' tanya suamiku setelah satu pekan aku selalu murung dan resah sejak kehilangan kalung tasbih dari Makkah itu.
''Kalung tasbih itu bukan tasbih sembarangan, Mas. Almarhum ayah yang dulu membelinya di Makkah, dan pernah dibawanya masuk ke Masjid Nabawi dan digunakan untuk berdzikir di depan makam Rasulullah SAW,'' tuturku.
Suamiku tersenyum. ''Kalau begitu justru kamu harus bersyukur atas hilangnya kalung tasbih itu.''
Aku terpana menatap tajam-tajam wajah suamiku. Tiba-tiba aku curiga, suamiku mungkin sengaja membuang atau menyembunyikan kalung tasbih itu.
''Mungkin jika kalung tasbih itu tidak hilang, suatu ketika bisa menjadi berhala yang kamu puja-puja. Maka bersyukurlah karena kalung tasbih itu hilang.'' Suamiku bicara dengan tersenyum-senyum.
''Maaf, Mas. Benarkah Mas mencuri kalung tasbih itu agar aku tidak bisa menggunakannya lagi untuk berdzikir?'' tanyaku.
Rasanya aku pantas mencurigai suamiku karena justru tampak senang dengan hilangnya kalung tasbih itu.
''Memangnya aku berbakat menjadi pencuri?'' Suamiku balik bertanya dengan wajah tetap berhias senyuman.
''Kalau Mas tidak mencurinya, semoga yang mencurinya celaka!'' Aku mengutuk dengan kesal.
Suamiku terperanjat. ''Kamu telah mengutuk seseorang yang telah mengambil kalung tasbihmu. Waduh, kamu telah berbuat kejam. Bagaimana jika kutukanmu dikabulkan Tuhan?''
''Ah, sudahlah, aku sudah terlanjur mengutuk, Mas. Yang penting bukan kamu yang mencurinya.''
''Bagaimana jika seumpama aku yang mencurinya?''
''Jadi, benar bukan Mas yang mencuri kalung tasbih itu?''
Suamiku mengangguk dengan tersenyum.
Aku mendengus panjang, karena dadaku mendadak terasa sesak. Aku khawatir jika kutukanku dikabulkan Tuhan. Dan, sejauh yang kuketahui, kutukan tidak bisa dicabut jika sudah terlanjur diucapkan.
Lalu, aku berdoa semoga kutukanku tidak dikabulkan Tuhan. Aku tidak ingin melihat suamiku celaka, meskipun telah mencuri kalung tasbih dari Makkah yang kuanggap sangat istimewa itu.
Sepekan kemudian, sepulang kantor, suamiku mengalami tabrakan hebat. Suamiku dirawat di ruang ICU. Mobilnya rusak berat. Dan aku hanya bisa menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan Tuhan meskipun aku sudah berusaha untuk mencabutnya dengan doa-doa.
Ketika aku membesuk suamiku di rumah sakit, aku minta maaf. Tapi suamiku diam saja.
Kini, suamiku mengalami gegar otak berat, kedua kakinya patah, dan tulang belakangnya remuk. Menurut dokter, kecil kemungkinan suamiku bisa pulih seperti sebelum mengalami kecelakaan.
Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit tapi suamiku belum juga pulih, aku kemudian membawanya pulang. Aku ingin merawatnya di rumah.
Sungguh berat merawat suami yang lumpuh dan tidak bisa bicara lagi. Sepanjang waktu suamiku terbaring lemas di tempat tidur. Semua hajat hidupnya aku yang mengurus. Untungnya, suamiku segera dipensiun dan mendapat uang pensiunan sebesar 60 gaji terakhirnya. Dengan uang pensiunan itu kami berdua bisa hidup.
Suatu siang, aku membersihkan gudang. Semua barang rongsokan yang menumpuk di gudang kukeluarkan untuk kubuang ke tempat sampah.
Ketika aku sedang menyapu lantai gudang, mataku menatap seuntai kalung tasbih dari Makkah itu. Segera aku membersihkan kalung tasbih itu. Lalu kuperlihatkan kepada suamiku.
Mata suamiku langsung berkaca-kaca ketika menatap kalung tasbih itu. Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak mengeluarkan suara apa pun. Sepertinya suamiku menangis di dalam hati.
Iba aku melihat suamiku menangis. Pasti suamiku sangat menyesal telah menyembunyikan kalung tasbih itu di gudang dan kemudian aku mengutuknya dan ternyata kutukanku dikabulkan Tuhan.
Dan, meskipun kalung tasbih itu sudah kutemukan lagi, aku tidak mau menggunakannya untuk berdzikir. Aku teringat ucapan suamiku. Betapa kalung tasbih itu bisa menjadi berhala, dan karena itu sebaiknya dibuang saja.
Lalu aku membuang kalung tasbih dari Makkah itu ke tong sampah, bukan karena aku khawatir menjadikannya sebagai berhala, melainkan karena aku memang sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku telah terbiasa berdzikir tanpa kalung tasbih.
Sekarang, bagiku, berdzikir tidak perlu dihitung lagi, karena aku tidak menjualnya kepada Tuhan!
Sastradipati, 2006
Dari Redaksi
Berhubung menyempitnya halaman untuk rubrik cerpen dan esei, maka naskah cerpen dan esei yang dapat dimuat di halaman Sastra ini adalah sepanjang 7000-8000 karakter. Naskah harus dikirim melalui email ke sekretariat@republika.co.id. Naskah cerpen/esei harus diketik dalam format MS Words dan dikirim dengan sistem attachments. Tiap satu file hendaknya hanya berisi satu judul cerpen. Begitu juga untuk naskah esei. Sedangkan untuk naskah puisi, sekali kirim minimal enam judul puisi dalam satu file. Dilampiri foto diri close up dalam gaya santai, biografi singkat dan nomor rekening bank untuk pengiriman honor jika dimuat. Naskah yang tidak memenuhi persyaratan teknis tersebut tidak akan diperhatikan. Terima kasih. red

Readmore → KALUNG TASBIH DARI MAKKAH Cerpen Anita Retno Lestari

RIBUAN GAGAK MASUK KOTA

0 comments

Kategori : Kumpulan cerpen lengkap, cerpen remaja, cerpen , cerpen dengan berbagai judul.


RIBUAN GAGAK MASUK KOTA 

Cerpen Punto Aditya Wardana 



Laki-laki itu menyeret-nyeret gerobak sekaligus peti mati buat anaknya di tengah belantara kota. Di dalam gerobak itu, tergeletak tubuh kecil, yang sudah terbujur kaku, berselimutkan kain sarung kumal miliknya yang sudah tidak karuan warnanya.
Wajah anak lelaki itu telah beku, berkawan dingin yang sejak tadi merajamnya. Terlelap selamanya untuk sebuah kematian yang terasa begitu memedihkan. Busung lapar telah merenggut nyawanya dua hari yang lalu. Laki-laki itu mengumpat pada kemiskinan yang menjerat lehernya. Kemiskinan pula yang menerbangkan selembar nyawa anaknya.
"Tidak, aku tidak boleh benci kemiskinan. Kemiskinanlah yang membuat anakku terbebas dari penderitaan," dia berkata pada dirinya sendiri. Membesarkan hatinya yang terluka menganga. Kematian kadang diperlukan untuk mengakhiri sebuah penderitaan yang berkepanjangan. Kematian kadang mengundang kearifan.
Dari langit gerimis masih terus turun meneritis. Mengguyur kota, membuatnya kuyub menggigil kedinginan. Wajah lelaki itu terlihat basah tertimpa gerimis. Kaos yang membungkus tubuhnya yang tipis juga ikut basah. Dia mendongak. Menantang langit. Menggeram marah pada langit yang masih juga berwarna kelam kelabu. Sesekali terlihat kilat yang menyambar dahsyat disusul petir yang memekakkan telinga. Memotret kota sepreti sebuah pekuburan besar dengan bangunan yang mencakar langit.
Lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan petir yang sesekali masih menyambar. Dengan tegar dia terus menyeret gerobak yang berisi mayat anak semata wayangnya. Menyeretnya tanpa henti seperti napasnya yang terus bersembulan keluar dari lubang hidungnya yang besar. Dua hari sudah dia berputar-putar ke seluruh penjuru kota, mencari tempat penguburan buat anaknya. Dia makin kebingungan dengan malam yang sebentar lagi pasti akan datang menyergapnya.
Hatinya teriris perih. Dia tak tahu ke mana harus menguburkan jenazah anaknya. Di sakunya tidak ada uang sesen pun untuk biaya penguburan. Tak ada yang gratis di kota ini. Semua harus memakai uang. Begitu pula untuk sebuah kematian.
Lelaki itu berhenti sejenak. Hatinya gamang. Tercabik. Menyeka wajahnya yang letih, basah oleh keringat bercampur air hujan. Perutnya berkeriuk lapar. Rasa perih menyayat ususnya. Ketika mendongak, asin air hujan tak sengaja tertelan oleh tenggorokannya.
Memandang gedung pencakar langit di depannya, betapa laki-laki itu merasa dirinya sangat kerdil. Dirinya tak lebih dari sebutir debu di antara lautan pasir yang membentang.
Kemudian desir angin yang membawa hawa dingin itulah yang membuatnya bergerak, menyeret peti mati itu lagi. Dunia harus tetap berputar. Bumi tak mungkin berhenti karena kematian anaknya. Namun, sedetik kemudian, sebersit kebimbangan menyergapnya kembali. Ke mana lagi dia hendak melangkah. Kakinya pegal mengukur jalan kota yang sepertinya tidak berujung. Otot tangannya seakan sudah lumpuh. Hmm, kota yang tidak ramah, untuk sebuah duka sekalipun. Dia tak mempunyai saudara yang bisa dituju. Yang bisa dimintai bantuan.
Di kota sebesar ini ia bagaikan makluk yang terasing. Dia hanyalah seorang penarik sampah dengan upah yang tidak menentu. Harga dirinya tak lebih dari seonggok sampah yang dibuangnya tiap hari. Dia kota sebesar ini siapa yang mau peduli pada seonggok sampah?
Selangkah demi selangkah ia menyeret lagi peti mati anaknya. Langkahnya makin berat karena tenaganya makin berkurang. Di kota sebesar ini tak seorang pun mau peduli. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sebuah mobil mewah melintas dengan cepat. Kubangan air tergilas roda dan wajah lelaki itu tersiram air yang tergencet. Matanya terasa pedih dan perih.
Lelaki itu mengelap wajahnya dengan ujung kaos yang juga sudah basah. Diliriknya wajah anaknya yang makin beku dan membiru. Hatinya terbelah.
Aku harus cepat-cepat menguburkannya, ucapnya dalam hati. Lantas kembali diseretnya peti mati itu. Hari sudah semakin gelap. Senja sudah lama selesai. Kota bermandikan cahaya. Ribuan cahaya lampu telah membuat kota kembali bernyawa. Lelaki itu makin terasing dengan dirinya sendiri. Dia merasa sungguh dekil di kota yang seluruh penghuninya berbau wangi.
Dia pun berhenti sejenak untuk melepas lelah. Kini dia dihadapkan pada jurang keputus-asaan. Dalam keputus-asaan yang memuncak itu tiba-tiba lelaki itu melihat bayangan hitam turun dari langit. Dia seperti tidak percaya pada pandangan matanya sendiri. Langit yang sudah hitam makin bertambah hitam, karena munculnya ribuan bayangan itu.
Ribuan gagak tiba-tiba muncul dari langit, menyerbu kota dengan suara kaok-kaok yang mendirikan bulu roma. Ribuan gagak yang entah dari mana datangnya, muncul begitu saja dari langit yang gelap dan bertabur gerimis. Gagak-gagak yang ganas menyambar-nyambar di tengah kota. Dengan sebuah sekop sampah laki-laki itu mengusirnya. Ribuan gagak terus beterbangan mencari mangsa. Langit seperti berselimut kain hitam, karena banyaknya gagak yang beterbangan.
"Aku mencium bau mayat!" serang warga kota keluar dengan menutup hidungnya. Puluhan gagak langsung menghajarnya tanpa ampun. Keributan segera meledak di kota.

"Lelaki pembawa mayat itulah yang mengundang ribuan gagak masuk kota!" "Lelaki itu harus kita usir!"

"Kota kita berubah menjadi ladang pembantaian. Kota kita menjadi kota kematian!"
"Mana polisi? Mana tentara? Harusnya gagak-gagak itu dimusnahkan. Sebelum kita dilumatnya habis."

Mobil polisi segera datang dengan suara sirine yang menguing-nguing menggetarkan. Ribuan gagak ditembaki dan terkapar mati. Memenuhi jalanan dan darahnya yang amis bertebaran di jalanan. Namun, ribuan gagak yang lain segera berdatangan, dengan suara kaok-kaok memenuhi langit. Gagak-gagak yang lebih ganas dari tadi. Menyambar-nyambar dengan paruhnya yang tajam. Bau kematian merebak ke mana-mana. Memenuhi udara kota.

"Bising! Aku bising dengan suara gagak."

"Bagaimana ini polisi! Kalau kerja yang becus dong. Jangan cuma mau menerima uang suap kami!"

"Kami sudah menembaknya habis-habisan. Lihatlah peluru kami yang habis," polisi muda itu membela diri. Dia belum pernah berhadapan dengan ribuan gagak yang sebanyak itu. Hatinya ngeper juga. Setiap gagak ditembak mati, selalu muncul gagak yang lain yang lebih ganas. "Auh, tanganku kena cakarnya!"

"Ambil bazoka...! Lumat mereka!"

Kegemparan meledak di mana-mana. Ketenangan kota tercabik. Suara gagak berkaok-kaok, desing gagak yang terbang menyambar, mengundang maut.

Bazoka segera dikeluarkan dari gudang senjata, terus melabrak gagak-gagak yang beterbangan. Banyak gagak terkapar mati. Namun percuma, gagak-gagak yang lain segera mengganti. Berkaok-kaok terus tanpa pernah takut mati terkena bazoka.

"Brengsek! Kota kita penuh gagak-gagak brengsek ini!"

"Ke mana lelaki pembawa mayat itu?"
"Dia harus bertanggung jawab atas semua ini. Dialah pengundang gagak-gagak sialan itu."

"Sabar, tenang sedikit. Gagak-gagak itu tak bisa kita usir kalau hanya bermodal panik," seseorang mencoba menenangkan di tengah massa yang panik itu. Namun dia malah bernasib malang, tubuhnya didorong ke belakang hingga dia jatuh terjengkang dan menindih bangkai-bangkai gagak yang bergelimpangan di jalan-jalan.

"Mana petugas kebersihan kota. Dia harus segera menyingkirkan bangkai-bangkai gagak ini."

"Busyet, kondisi segawat ini masih juga kau memikirkan kebersihan. Mikir dong!"

Seketika kota yang biasanya berwajah damai tampak bagaikan neraka. Kepanikan menjadi milik semua orang. Kematian hampir terjadi setiap saat, karena gagak-gagak itu mencabik-cabik daging orang dengan ganasnya. Teriakan tolong melolong di mana-mana. Puskesmas dan rumah sakit penuh dengan korban yang terluka. Tapi mereka hanya terlentang tak berdaya karena tak ada yang mengurusi. Semua orang takut kena serangan gagak. Tak terkecuali dokter-dokter rumah sakit itu. Mereka memilih bersembunyi, mencari selamat sendiri.
Sekarang semua orang sibuk memikirkan keselamatan diri sendiri. Menyelamatkan nyawa yang cuma selembar. Mereka berlindung di dalam rumah, pintu dan jendela rumah dikunci. Mereka menggunakan apa saja untuk melindungi tubuh mereka. Namun, gagak-gagak rakus itu masih juga bisa masuk rumah, entah lewat mana.
Bahkan, ribuan gagak menyusup ke mall, hotel, restoran, pasar, rumah sakit, dan kamar mayat. Mencari mangsa manusia. Menyerang manusia dengan ganasnya. Ribuan orang ketakutan. Teror gagak menyebar ganas ke seluruh kota. Setiap menit selalu ada nyawa yang melayang.
Sementara, laki-laki itu meninggalkan kota dengan masih terus menyeret-nyeret peti mati anaknya. Tak seorang pun peduli. Dia ingin mencari tempat untuk mengubur mayat anaknya. Di belakang punggungnya ribuan gagak masih berpesta pora di tengah kota.
Gerimis masih setia meneritis menemani malam ketika laki-laki itu tertatih-tatih menyeret peti mati anaknya. Dia tak tahu ke mana harus menuju.



Cerpen ini merupakan juara pertama Sayembara Penulisan Cerita Pendek Remaja Tingkat Nasional 2005 yang diadakan oleh Pusat Bahasa Jakarta. Cerpen karya siswa SMP Negeri I Blora, Jawa Tengah, itu menyisihkan 1.139 cerpen peserta lain dari seluruh tanah air. Dewan Juri yang diketuai Hamsad Rangkuti juga memilih cerpen Karena Saya Ingin Berlari karya Kadek Sonia Piscayanti dari Singaraja, Bali, sebagai juara kedua. Dan, cerpen Belati Lempad karya I Komang Widana Putra dari Amlapura, Bali, sebagai juara ketiga. Dewan juri juga memilih tiga juara harapan dan empat pemenang hiburan.
( )
Readmore → RIBUAN GAGAK MASUK KOTA

Friday, February 10, 2012

DOWNLOAD GRATIS SETYA FONT UNTUK HP SYMBIAN

1 comments
Gak ada habisnya yah, pasti ada ajah yang geratis so kenapa harus yang berbayar kalo ada yang gratisan sob haaaa... Oke kalo sebelumnya saya posting DOWNLOAD GRATIS TTPOD V3.70 WITH 20 SKINS UNTUK HP SYMBIAN S60V2, nah kalo yang ini sama juga sob gratisnya sama juga buat hp symbian nama aplikasinya setya font nah dari namanya juga pasti para symbianers jga udah pada tau kan? Kalo ada tulisan font pasti gnanya memperindah tulisan ia kan? haa so tau yah gua? nah aplikasi symbian setya font ini sangan support special caracters untuk android dan blackbary sob so kalo ada temen sms pake android dan blackbary dan menggunakan caracters-nya akan support di hp symbian sobat gimana tertarik gak sob? pastinya dong langsung download dan instal deh.

|| download aplikasi setya font untuk hp symbian gratis ||

Selamat mencoba, instal dan tersenyumlah karna akan bnyak kepuasan dengannya. Salam hangat dari saya sampai berjumpa di postingan berikutnya... eitsss jangan lupa komentarnya sob...
Readmore → DOWNLOAD GRATIS SETYA FONT UNTUK HP SYMBIAN

Sponsor BUS

Dapatkan juga sponsor untuk Blog anda dengan klik gambar di bawah, untuk mengetahui caranya KLIK DISINI. Kalo mau yang lebih tinggi penghasilannya KLIK DISINI Adsense Indonesia

Buat Blog

Alexa Rank

 

Info My Blog

cobi?
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetMsn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
web log free

Recent Comment

| BLOG URANG SUNDA © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |