Friday, February 10, 2012

DOWNLOAD GRATIS TTPOD V3.70 WITH 20 SKINS UNTUK HP SYMBIAN S60V2

4 comments
Nah sobat saya kasih lagi nih yang gratisan mau? Kalo sebelumnya saya posting DOWNLOAD GRATIS SMADAV ANTIVIRUS UNTUK HP SYMBIAN S60V2, nah sekarang saya akan posting download ttpod v3.70 dengan 20 skins untuk hp symbian dan sangat cocok di gunakan di hp nokia 6600 sob.
nah bagi yang mau coba instal aplikasi pemutar musik ttpod dengan 20 skins untuk hp symbian silahkan anda download di link di bawah ini.

|| Download gratis pemutar musik ttpod v3.70 with 20 skins untuk hp symbian s60v2 ||

Selamat mencoba dan jangan lupa tinggalkan pesan anda sebelum keluar dari halaman ini, terimakasih sampai ketemu di postingan saya berikutnya....
Readmore → DOWNLOAD GRATIS TTPOD V3.70 WITH 20 SKINS UNTUK HP SYMBIAN S60V2

Thursday, February 9, 2012

MY LOVE WEST LIVE DENGAN LIRYCNYA

0 comments
Lagu ini sengaja aku postingkan untuk sang kekasih, semoga dengan dia melihat ini akan lebih sayang lagi pada saya....

Readmore → MY LOVE WEST LIVE DENGAN LIRYCNYA

CARA MEMBUAT MENU DROP DOWN HORIZONTAL TAMPIL MELAYANG DI BLOG

0 comments
Sesuai judul di atas yaitu cara membuat menu dropdown horizontal tampil melayang di blog sobat tau kan seperti apa? itu lohh seperti menu di blog saya ini tuhh liat di atas gimana tertarik ga? baca terus ya?
UNTUK LEBIH JELASNYA LIHAT GAMBAR DI BAWAH...


Ohh ia sebelumnya saya ucapkan permohonan maaf saya kepada pengunjung saya yang menanyakan cara membuat menu dropdown horizontal tampil melayang di blog dan saya baru membalasnya, dikarenakan saya sibuk hee, sekali lagi saya minta maaf kepada admin Blog SDN Kauman.
Oke tanpa panjang lebar langsung saja ke TKP sob.
1. pastinya masuk alias login ke akun blog sobat, klik Rancangan => Elemen Laman
2. klik Tambah Gadget => pilih Html/ JavaScrip dan masukan kode di bawah ini.


<style type="text/css">
#msuteja ul li a {position: relative;float: bottom;display: block;width: AUTO;height: 15px;padding: 5px 0 0 0;margin-right: 5px;text-align: center;font-size: 15px;text-decoration: none;color:transparant;font-weight: bold;outline: none;}#msuteja li .current{color: transparant;}#msuteja li a:hover, #msuteja li a:active {background: #4B0082;background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#4B0082), to(#FF0000)); background: -moz-linear-gradient(top,#4B0082, #FF0000); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#4B0082', endColorstr='#FF0000'); -ms-filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#4B0082', endColorstr='#FF0000'); display: inline-block;zoom: 1; *display: inline;border: dotted 1px #555555;padding: 3px 5px;-webkit-border-radius: 20px; -moz-border-radius: 20px; border-radius: 20px; -webkit-box-shadow: 0 1px 0px rgba(1,0,0,.1); -moz-box-shadow: 0 1px 0px rgba(0,0,0,.1); box-shadow: 0 1px 0px rgba(0,0,0,.1); -webkit-transition:all 0.5s ease-in-out; -moz-transition:all 0.5s ease-in-out;-o-transition:all 0.5s ease-in-out;transition:all 0.5s ease-in-out; -webkit-transform:rotate(10deg);-moz-transform:rotate(10deg);-o-transform:rotate(10deg);}color: #ffffff;margin: 0;font-size:18px;padding: 9px 15px 8px;text-decoration: none;}#msuteja {width: auto;float: left;margin: 0;padding: 0;}#msuteja {margin: 0;padding: 0;}#msuteja ul {float: left;list-style: none;margin: 0;padding: 0;}#msuteja li {list-style: none;margin: 0;padding: 0;}#msuteja li a, #msuteja li a:link, #msuteja li a:visited {color: #ffffff;display: block;text-transform: capitalize;margin: 0;padding: 9px 15px 8px;font: Bold 15px Georgia, Arial;}#msuteja li a:hover, #msuteja li a:active {background:transparant;color: #ffffff;margin: 0;font-size:20px;padding: 9px 15px 8px;text-decoration: none;}#msuteja li li a, #msuteja li li a:link, #msuteja li li a:visited {background: #00FFFF;background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#00FFFF), to(#000000)); background: -moz-linear-gradient(top,#00FFFF, #000000); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#00FFFF', endColorstr='#000000'); -ms-filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#00FFFF', endColorstr='#000000'); width: 250px;color: #E6E6FA;-webkit-border-radius: 30px; -moz-border-radius: 30px; border-radius: 30px; border-style: outset;-webkit-transition:all 0.5s ease-in-out; -moz-transition:all 0.5s ease-in-out;-o-transition:all 0.5s ease-in-out;transition:all 0.5s ease-in-out; -webkit-transform:rotate(10deg);-moz-transform:rotate(10deg);-o-transform:rotate(10deg);float: none;margin: 0;padding: 7px 10px;border-bottom: transparant;border-left: transparant;border-right: transparant;font: bold 14px kristen itc, Arial;}#msuteja li li a:hover, #msuteja li li a:active {background: #FF0000;background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#FF0000), to(#00FF00)); background: -moz-linear-gradient(top,#FF0000, #00FF00); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#FF0000', endColorstr='#00FF00'); -ms-filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#FF0000', endColorstr='#00FF00'); color: #ffffff;font-size:20px;font-family:kristen itc;text-align: center;padding: 7px 10px;}#msuteja li {float: left;padding: 0;}#msuteja li ul {z-index: 9999;position: absolute;left: -999em;height: 20px;width: 170px;margin: 0;padding: 0;}#msuteja li ul a {width: 140px;}#msuteja li ul ul {margin: -32px 0 0 171px;}#msuteja li:hover ul ul, #msuteja li:hover ul ul ul, #msuteja li.sfhover ul ul, #msuteja  li.sfhover ul ul ul {left: -999em;}#msuteja  li:hover ul, #msuteja  li li:hover ul, #msuteja  li li li:hover ul, #msuteja  li.sfhover ul, #msuteja  li li.sfhover ul, #msuteja  li li li.sfhover ul {left: auto;}#msuteja  li:hover, #msuteja  li.sfhover {position: static;}#footer-column-divide {clear:both;}#msuteja{font-family:Comic Sans Ms;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3nf55Y0P7nRR87Dup_V0yAFQOAhzEsfSu0AM6uNrkiJymdn_tNVUb9J-52T53wyBSb5-9bHxA5QnZBsas0Me9VJlZBNPhYFCZiM40Onh3zRIvzFB6Slk6p5rXtU8lDmz8RtoOMcWDEdFi/)repeat-x;(0,0,0, 0.80);border:1px solid #C0C0C0;padding:2px 0;z-index:999;top:0px;left:1px;right:1px;position:fixed;-moz-border-radius:10px;-webkit-border-radius:10px;}
</style>


<div id='msuteja'>
<ul id='msuteja'>
<li><a href='http://theant-budiana.blogspot.com'>Home</a></li>
<li><a href='http://theant-budiana.blogspot.com/2008/12/daftar-isi.html' target='_blank'>Daftar Isi</a></li>
<li><a href='#' target='_blank'>Tutorial</a>
<ul class='children'>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/tips%20dan%20trick'target="_BLANK">BLOGGER</a></li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/tips%20dan%20trick%20wordpress'target="_BLANK">WORDPRESS</a></li>
</ul>
</li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/2011/07/tv-streamings-mivo.html' target='_blank'>TV Online</a>
<li><a href='#' target='_blank'>Software</a>
<ul class='children'>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/2011/04/apa-itu-software.html'target="_blank">PENGERTIAN</a> </li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/software%20pc'target="_blank">PC</a> </li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/symbian'target="_blank">SYMBIAN</a> </li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/java'target="_blank">JAVA</a> </li>
</ul>
</li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/islami'>Islami


<li><a href='#' title='lihat yang lainnya juga sob, disini!!!' target='_blank'>Other</a>
<ul class='children'>
<li><a href='https://www.google.com/accounts/newaccount?hl=in&continue=http://www.blogger.com/create-blog.g&service=blogger&naui=8'target="_blank">DAFTAR BLOG</a></li>
<li><a href="http://theant-budiana.blogspot.com/search/label/goresan%20tangan"target="_blank">GORESAN TANGAN</a></li>
<li><a href="http://theant-budiana.blogspot.com/search/label/biantara?&max-results=9"target="_blank">BIANTARA</a></li>
</ul>
</li>
<li><a href='#' target='_blank'>Pramuka</a>
<ul class='children'>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/pramuka'target="_blank">Pengertian,Sejarah & Materi</a> </li>
<li><a href="http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/Pramuka%20Siaga"target="_blank">SIAGA</a> </li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/pramuka%20penggalang'target="_blank">PENGGALANG</a> </li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/search/label/pramuka%20penegak%20dan%20pandega'target="_blank">PENEGAK & PANDEGA</a> </li> </ul>
</li>
<li><a href='http://www.theant-budiana.blogspot.com/2011/10/cara-sederhana-dan-manjur-populerkan.html' target='_blank'><blink>Tukar Link</blink></a></li>
<li><a href='http://theant-budiana.blogspot.com/2011/11/forum-pembicaraan-blog-urang-sunda.html' title='disinilah tempat sobat meninngalkan jejak dengan isi forum atau buku tamu' target='_blank'><blink>Buku Tamu</blink></a></li>
</a></li></li></ul>
</div>

3.klik simpan dan lihat hasilnya...

Warning :
jangan lupa ganti url dan nama kode di atas dengan url dan nama blog sobat.

Selamat mencoba dan jangan lupa tinggalkan pesan sobat, sampai ketemu di postingan saya berikutnya..
Readmore → CARA MEMBUAT MENU DROP DOWN HORIZONTAL TAMPIL MELAYANG DI BLOG

Wednesday, February 8, 2012

DOWNLOAD GRATIS NETQIN ANTI VIRUS UNTUK HP JAVA

0 comments
Nah sobat kalo masih ada yang gratis napa harus beli sih? nih saya kasih aplikasi dengan cuma-cuma alias gratis, kalo sebelumnya saya posting Anti Virus Semedav untuk Symbian s60v2 gratis klik disini. Nah sekarang juga sama gratisnya yaitu Netqin Anti Virus, siapa bilang hp java tidak akan kena virus makanya yuk download rame-rame Gratis Netqin anti Virus untuk Hp Java disini.
Nah gimana sekarang gak usah takut lagi deh lumayan semua virus akan hilang di hp sobat kecuali itu virus sangat nakal, selamat mencoba yah? jangan lupa tinggalkan pesan sobat di bawah dan terus kunjungi blog saya.
Readmore → DOWNLOAD GRATIS NETQIN ANTI VIRUS UNTUK HP JAVA

DOWNLOAD GRATIS SMADAV ANTIVIRUS UNTUK HP SYMBIAN S60V2

2 comments

Kalo sebelum-sebelumnya saya posting Download Gratis Al-Qur'an untuk hp symbian nah sekarang saya kasih lagi nih yang sama gratisnya. Sobat pasti tau kan anti virus yang buatan asli Indonesia itu? ya betul SMADAV Anti Virus sekarang sobat bisa pake di hp symbian s60v2, bagi yang mau download gratis smadav anti virus klik disini.
Terimaksih atas kunjungan sobat selamat mencoba dan semoga bermanfaat, seringlah berkunjung kemari dan jangan lupa tinggalkan komentar sobat ya? Sampai berjumpa di postingan yanglainnya..
Readmore → DOWNLOAD GRATIS SMADAV ANTIVIRUS UNTUK HP SYMBIAN S60V2

Sunday, February 5, 2012

CERPEN RUMAH MALAM Cerpen Aris Kurniawan

0 comments

RUMAH MALAM 
Cerpen Aris Kurniawan 


Lelucon acara lawak di televisi tak pernah mampu menata perasaannya menjadi sedikit rileks. Dengan gerak malas komputer ia nyalakan. Dan mulai mengetik. Beberapa kalimat. Kegelisahan kembali menyerangnya. Ngiang suara tawa perempuan beberapa malam lalu membuat bulu kuduknya meremang. Sunyi terasa tajam menggores perasaannya yang selengang gudang di belakang rumahnya. Ia segera bangkit. Menyambar kunci, sapu tangan, dompet, ponsel dan buku kecil. Membanting pintu kamar, dan menguncinya.
Mendadak tenggorokannya terasa kering. Ia bergerak ke dapur mencari air minum, tapi urung. Dua hari ini galon air kosong. Toko langganannya lupa mengantar pesanannya. Tertegun. Lantas bergegas meneruskan langkahnya ke dapur, memeriksa kompor. Siapa tahu lupa mematikannya setelah tadi ia memasak mie instan. Sifat lupanya sering kambuh jika suasana hatinya dipenuhi ketakutan seperti ini. Konsentrasinya buyar. Tergesa ia ke rak sepatu dan merenggut sandal jepit dari sana, mengenakannya secara serampangan.
Dikuncinya pintu. Tertegun beberapa jenak di teras rumah yang berbentuk joglo. Di situ ada satu set kursi. Ia menghenyakkan bokongnya perlahan di kursi. Menyalakan rokok, mengunyah permen, dan membuka-buka majalah untuk meredakan ketakutannya. Ia merasa lebih aman. Jika suara tawa perempuan itu terdengar, ia bisa langsung lari ke jalan. Mungkin secara refleks ia akan berteriak. Di seberang jalan tampak penjual rokok duduk ngobrol dengan orang yang tengah menunggu giliran dicukur. Di sebelah gerobak rokok itu memang terdapat barbershop yang buka sampai jam sepuluh malam.
Memandang mereka membuat perasaannya sedikit lega. Tapi jika wajahnya berpaling sedikit, pandangannya segera menumbuk jajaran pohon-pohon besar yang menyembunyikan rumahnya, membuat perasaannya kembali diliputi cemas. Batang-batangnya yang besar dengan daun-daunnya yang rimbun menyerupai gumpalan hitam wajah raksasa yang menyeringai mengerikan. Pada siang hari pohon-pohon itu menyejukkan udara panas. Para pejalan menjadikannya tempat berteduh, atau untuk orang-orang yang mengadang angkot.
Di halaman samping rumahnya gerumbul bunga anak nakal terdengar berkeresek. Perlahan-lahan digerakkan lehernya ke sana. Ia terlonjak, dan hampir saja memekik. Seekor kucing tiba-tiba meloncat dari sana. Lantas merangkak dengan sorot mata yang menyeramkan ke arahnya. Ia menahan napas saat kucing itu terus mendekat dan menyentuh-nyentuhkan tubuh ke kakinya. Napasnya sedikit lega, kucing itu tidak berubah membesar dan menerkam dirinya. Ia teringat ucapan seorang kawannya waktu di sekolah dulu, bahwa orang beriman tak merasa takut pada hantu. Waktu itu ia menyahut, beriman pada Tuhan adalah satu hal. Takut pada hantu hal yang lain lagi. Perasaan takut pada hantu bukan berarti tidak beriman pada Tuhan.
Hhh, ia mendesah. Jalan di depan rumahnya sudah mulai sepi. Tak ada tukang bakso atau nasi goreng yang lewat. Heran, pada menghilang ke mana mereka. Seandainya mereka lewat ia akan memanggil dan memborong semua dagangannya asal mau menemaninya sampai subuh. Ia yakin mereka pasti bersedia dengan senang hati. Sebab di jaman susah ini belum tentu berkeliling semalaman dagangan mereka habis. Kenapa saat dibutuhkan malah tak ada. Ia mendengus kesal. Kenapa mereka justru lewat dan membikin berisik saat tak diperlukan.
Ia ingin beranjak, menyeberang jalan, dan duduk bergabung dengan mereka. Mula-mula ia mungkin berpura-pura beli rokok, bertanya ini itu sebelum kemudian duduk di antara mereka. Tapi ia ragu. Ia tak mengenal penjual rokok itu. Ia memang belum lama tinggal di kompleks perumahan ini. Baru beberapa minggu. Mestinya ia sudah bisa mengenal penjual rokok itu. Mestinya ia tidak perlu terlalu membenci kebiasaan para tetangga yang sangat suka bicara, banyak bertanya. Ia menyesal kenapa begitu tak peduli dengan tetangga sebelah, tak pernah sekadar menyempatkan diri mampir di warung rokok itu. Membeli korek api misalnya.
Keinginan seperti itu memang sering muncul, tapi ia merasa kurang punya alasan untuk mampir ke sana. Suaminya bukanlah perokok. Hanya sesekali saja laki-laki itu merokok. Paling banyak sehari tiga batang. Setiap selesai makan. Ia sendiri memang perokok, meski bukan pecandu berat, tapi rokok itu selalu ia beli bersama kebutuhan dapur lain di supermarket. Tapi kalau pun mau, rasanya rumah para tetangga di sini jarang sekali pintunya tampak terbuka. Kecuali pagi menjelang berangkat kerja dan malam sepulang dari kerja.
Kemudian ia merutuki kantor suaminya yang mengadakan acara di luar kota selama beberapa hari sehingga ia ditinggal seorang diri. Meski sebelum berangkat laki-laki itu sudah menawarinya untuk ikut. Tapi ia menolak dengan alasan hendak menyelesaikan tulisannya yang seminggu ini belum juga rampung. Suaminya tahu, itu hanya alasan dibuat-buat. Alasan sebenarnya, ia enggan bertemu dengan kawan-kawan suaminya yang datang bersama istri dan anak-anak mereka. Ia enggan bertemu mereka, karena pasti selalu mengobrolkan dan membanggakan anak-anak mereka.
"Cuek saja, kenapa sih?" ujar suaminya tahu pikirannya.
"Kamu laki-laki, bisa cuek."
Suara tawa perempuan itu mengiang lagi di telinganya. Suara tawa yang terdengar sayup-sayup, namun terasa begitu dekat dan membuatnya merinding. Beberapa malam lalu ia mendengar tawa itu. Suara tawa namun terdengar menyakitkan. Kalau tidak salah dua minggu setelah ia dan suaminya menempati rumah ini. Bukan hanya ia, malam itu suaminya pun mendengarnya. Konon rumah ini dulunya rumah orang China yang dijarah dan diperkosa. Ia memang seorang pengarang yang biasa berpikir rasional sekaligus imajinatif. Justru karena itulah pengalaman itu tak urung membuatnya merinding.
"Suara tawa yang menyayat," ujarnya.
"Seperti tangis," timpal suaminya.
"Mungkin hantu perempuan yang diperkosa itu." Lantas mereka berpelukan lebih erat lagi.
Detik demi detik bergerak begitu cepat. Jam digital di layar ponselnya sudah menunjukkan angka 21.00. Penjual rokok di seberang jalan sana masih asyik ngobrol, sesekali diselingi tawa. Penjual rokok itu ngobrol dengan orang yang baru datang, yang tadi sudah masuk dan sedang dicukur. Satu jam lagi barbershop itu tutup, disusul warung rokok itu. Jalan akan semakin sepi. Apalagi jika hujan. Dadanya makin bergemuruh melihat langit tak menyisakan sebiji pun bintang.
Mestinya ia mengikuti saran suaminya: cuek saja mendengar obrolan istri kawan-kawannya. Sekarang tidak mungkin dia meminta suaminya pulang. Karena, acara puncaknya justru baru dimulai besok. Suaminya paling cepat bisa meninggalkan acara itu pada tengah hari besok. Lebih tidak mungkin lagi jika ia menyusul laki-laki itu.
"Salah siapa? Aku kan sudah ngajak," ujar suaminya lewat telpon.
"Gimana dong, aku takut sekali."
"Takut, apa sih?"
"Suara tawa itu."
"Ah, pengarang masa takut. Ajak ngobrol aja," goda suaminya.
"Aku benar-benar takut, Fred."
"Kamu sih nggak mau denger saranku."
"Aduh, jadi gimana?"
Telepon terputus. Pulsa habis. Ia makin gelisah dan begitu cemas. Otaknya seperti disusupi kawanan semut rangrang. Ia merasa tak punya jalan keluar dari masalah yang dihadapinya kini. Suara tawa itu, sungguh ia tak mau mendengarnya seorang diri. Ia bangkit, dan mondar-mandir berupaya meredam perasaan takut yang makin merasuki benaknya.
Ia berharap penjual rokok di seberang jalan itu melihat dan menghampirinya. Ia tahu hal itu tak mungkin terjadi. Penjual rokok itu tak mungkin dapat memperhatikan dirinya. Jajaran pohon yang memagari rumahnya itu pastilah menghalangi pandangan orang dari luar. Angin bertiup menggoyang-goyang daunan terdengar. Kemudian suara air sungai di belakang rumah.
Ia tak habis pikir kenapa dulu suaminya setuju saja dengan pendapatnya memilih rumah di dekat sungai. Bukankah sungai memudahkan perampok menghapus jejak kejahatan yang dilakukannya? Ia teringat pembunuhan yang dilakukan perampok dengan mengikat korbannya, kemudian tali tadi dibanduli batu besar dan dicemplungkan ke dasar sungai.
Aku harus pergi, gumamnya. Tapi kemudian ia bingung, hendak pergi ke mana. Ia tidak punya kenalan apalagi saudara di kota ini. Suaminya baru satu bulan dimutasikan dari kantor pusat ke kota kecil ini. Kenapa pula suaminya mau saja dimutasikan. Ah, ia tak peduli, pokoknya harus pergi.
Ia harus keluar dari kompleks perumahan itu menuju jalan besar, mencari taksi. Ia akan minta sopir taksi berputar-putar mengelilingi kota sampai subuh. Toh ia bisa mengambil tabungannya di ATM. Bukankah itu bermanfaat untuk sekalian mengenal lorong-lorong kota kecil ini. Tapi, kemudian terbayang jika di tengah jalan ia justru diperkosa, dibunuh dan lantas mayatnya dibuang ke sungai.
Di seberang jalan penjual rokok tampak duduk sendirian, mengisap rokoknya dengan nikmat. Asap putih tebal menutupi mukanya. Masih ada satu orang yang sedang dicukur di barbershop itu. Muncul ide untuk memotong rambutnya di barbershop itu, supaya mendapat alasan ngobrol dengan mereka. Ia berharap mereka menolak dengan alasan salon khusus pria. Tapi jika mereka tak mau menolak rejeki?
Ia meraba rambutnya yang panjang sepunggung. Rambut yang sering menerbitkan pujian suaminya. Biarlah kukorbankan rambut ini, pikirnya. Suaminya pasti bisa menerima penjelasannya, kalau laki-laki itu nanti bertanya. Toh laki-laki itu sangat bijak dan dewasa.
Tapi, keraguan lagi-lagi menyerang benaknya. Ia khawatir tindakannya memotong rambut dapat membuat suaminya berpaling. Di depannya laki-laki itu bisa saja memahami alasan ia memangkas rambutnya. Tapi siapa yang bisa menjamin kekecewaan suaminya tak dilampiaskan dengan cara mencari perempuan lain yang berambut panjang? Ia tahu laki-laki itu menyukai perempuan berambut panjang. Tak tahu kenapa, barangkali perempuan rambut panjang lebih memunculkan kesan keibuan. Atau bisa jadi enak buat bergayutan saat bercinta.
Ia menghela napas berat. Cahaya bolham memantulkan bayangannya yang kaku di tembok. Menit demi menit terus bergerak begitu cepat. Barbershop itu telah bersiap-siap tutup. Bahkan seorang pekerjanya telah lebih dulu pulang dijemut motor. Akhirnya tekadnya mantap untuk mendatangi saja penjual rokok itu. Ia sudah menyiapkan apa-apa saja yang akan dilakukannya. Mula-mula ia akan membeli rokok, lalu ngobrol.
Setelah agak akrab ia akan meminta tolong laki-laki itu supaya tak usah menutup warungnya sampai pagi untuk menemaninya. Ia bahkan bersedia membayar mahal. Kalau perlu ia akan mengajak penjual rokok itu ke rumahnya. Sekadar menemani ngobrol barangkali tak apa-apa. Ia adalah perempuan setia, tak akan mungkin mengkhianati suaminya. Jika tiba-tiba laki-laki itu memaksanya, di dapur ia punya pisau yang cukup tajam.
Readmore → CERPEN RUMAH MALAM Cerpen Aris Kurniawan

CERPEN SIAPA MEMBAWA AGAM DAN INONG Cerpen YS Rat

0 comments

SIAPA MEMBAWA AGAM DAN INONG 
Cerpen YS Rat 


Bingung Agam dan Inong begitu tersentak dan menyadari tubuh mereka terbaring di atas tanah bergelimang lumpur. Masing-masing bangkit, duduk dan selintas saling pandang tanpa berujar sepatah kata pun. Anak lelaki dan perempuan berusia sekitar lima tahun itu sama-sama tak mengerti mengapa di tanah bergelimang lumpur di hadapan mereka juga banyak orang berbaring.
Agam dan Inong mengira, seperti juga mereka, orang-orang yang berbaring itu tak lama lagi pasti akan bangkit. Tapi, setelah ditunggu hingga lewat tengah hari, ternyata tak satu pun di antara mereka yang bangkit. ''Mungkin mereka kelelahan. Kasihan kalau sampai malam tertidur di sini. Aku harus membangunkan mereka.''
Pikiran kanak-kanak Agam menerka sambil melangkah menghampiri tubuh-tubuh yang terbaring itu. Nyata di penglihatannya, lumpur menyelimuti tubuh-tubuh tersebut sehingga tak bisa dia mengenalinya. Inong pun, yang tanpa bicara mengikuti apa yang dilakukan Agam mendapati kenyataan sama.
Perlahan-lahan Agam dan Inong berjongkok serta mengamati sosok tubuh yang terbaring di dekat mereka secara seksama. Dengan sangat berhati-hati keduanya menggoyang-goyang sosok tubuh tersebut. Tak ada reaksi. Sekali lagi mereka coba, tetap saja tanpa reaksi. Ke sosok tubuh lainnya mereka beralih, hasilnya sama saja. Ke yang lainnya lagi, tetap tak ada beda. Terus, bergantian dari satu sosok tubuh ke sosok tubuh lainnya. Hanya lelah yang didapat.
Agam memutuskan mencari tempat untuk beristirahat. Sambil memejamkan mata, dia duduk bersandar pada batang sebuah pohon besar di dataran yang agak tinggi. Tak sedikit pun dia hirau terhadap Inong yang tetap mengikutinya dan melakukan seperti yang dia lakukan.
Dalam diam dan memejamkan mata, ingatan Agam berpulang kepada peristiwa yang tadi dirasakannya bagaikan mimpi, hingga akhirnya dia tersentak dan mendapatkan dirinya terbaring di atas tanah bergelimang lumpur. Tak tau dia kenapa tiba-tiba tubuhnya terbujur dan terapung-apung di tengah laut yang maha luas, tanpa sedikit pun membersit rasa takut meskipun di kemahaluasan laut hanya ada dirinya. Malah, air laut yang mengombang-ambingkan tubuhnya dia nikmati layaknya sedang bermain ayunan.
Bersamaan dengan usainya perulangan kenangan itu di benaknya, Agam kembali membuka matanya. Begitu pula Inong yang berada di sebelahnya, tanpa sepengetahuan Agam ternyata juga mengalami hal serupa. Seketika, secara bersamaan kedua kanak-kanak itu saling pandang dan heran.
"Wajahmu penuh lumpur," ujar Inong kepada Agam.
"Wajahmu juga berlumpur," balas Agam sembari bangkit dan bergegas menuju genangan air di dataran yang rendah, diikuti Inong di belakangnya. Begitu sampai, keduanya membersihkan wajah masing-masing dengan air yang sungguh sangat tak bersih itu. 
"Inong?!"
"Agam?!"
Terperanjat. Agam dan Inong sama menyapa setelah bisa saling mengenali. Kemudian, di dalam diri masing-masing membuncah pertanyaan demi pertanyaan, berbaur dengan kebingungan yang menggumpal. Apa yang telah terjadi? Dimana ayah, ibu dan adikku? Kemana aku harus berjalan untuk kembali ke rumah dan bertemu dengan mereka? Apa ini yang dibilang kiamat, seperti yang sering diceritakan ayah? Kalau memang kiamat, kenapa kami masih hidup?

Selain berjibun sosok tubuh orang-orang yang terbaring bergelimang lumpur, sisa-sisa bangunan menghadang tatap mata kedua bocah yang selama ini tinggal bersebelahan rumah itu. Di antaranya tinggal puing dan tak sedikit yang telah rata dengan tanah. Pada arah terbenamnya matahari, hanya tampak hamparan tanah membentang maha luas berbatas kaki langit. Seolah ada tenaga gaib yang menggerakkan tangannya, Agam segera meraih tangan Inong dan menggandengnya berjalan ke arah tersebut. Inong pun tak menolak.
Telah entah berapa jauh jarak ditempuh. Sama sekali tak terbersit keinginan untuk berhenti. Terus dan terus berjalan, tanpa secuil pun hinggap rasa lelah, juga tak sebutir pun peluh menempel di tubuh. Bahkan, gumpalan pertanyaan berbaur kebingungan yang sempat mendera tak bersisa sepenggal pun. Berganti dengan kedamaian yang datang dan menyeruak memenuhi relung hati Agam dan Inong.
Namun, tiba-tiba tatap mata Agam menangkap sesuatu yang dirasanya aneh. Segera dia menghentikan langkah sambil tetap menggandeng tangan Inong. Di hadapannya, jauh di batas kaki langit, tampak sebuah titik hitam muncul. Inong pun menyaksikan hal yang sama. Di samping titik hitam itu, muncul lagi satu titik hitam yang lain. Satu lagi bertambah di sebelah titik hitam kedua. Satu lagi di samping yang ketiga dan satu lagi di sebelahnya. Masih juga bertambah di samping yang keempat, di sebelah yang kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh dan seterusnya dan seterusnya. Terus pula Agam dan Inong mengarahkan tatapannya mengamati pertambahan titik-titik hitam itu, hingga akhirnya menyatu di batas kaki langit.
Perlahan-lahan seluruh titik hitam bergerak naik, mewujud garis tegak lurus, membentuk sebuah lingkaran dan mendesak ke depan. Nyatalah, pemandangan yang semula tampak aneh itu merupakan sosok orang saling berpegangan tangan satu sama lainnya. Semakin nyata pula, lingkaran sosok orang yang tak terhitung jumlahnya, yang sekarang telah teramat dekat dengan Agam dan Inong, semuanya berusia dewasa.
Menghadapi kenyataan itu, Agam dan Inong tak bergeming. ''Jelas sekali, kedua bocah inilah yang dimaksudkan petunjuk yang kita dapatkan itu. Karena, menurut petunjuk itu tinggal ada dua bocah di dunia ini. Laki-laki dan perempuan. Sekarang kita sudah mendapatkannya.''
Agam dan Inong tak hirau dengan apa yang dikatakan salah seorang di antara orang-orang berusia dewasa itu.
''Kalau begitu kita harus segera menyelamatkan kedua bocah ini sebelum terlambat,'' usul yang lainnya.
''Ya, sebelum malam tiba semuanya sudah harus selesai,'' timpal yang lainnya lagi mengingatkan.
Seorang yang tampak lebih tua dari yang lain melanjutkan.
''Terlebih dahulu kami mohon maaf. Berdasarkan petunjuk yang kami terima, kami harus menemukan sekaligus menyelamatkan dua orang bocah yang masih tersisa. Menurut petunjuk tersebut, kalau kalian tidak kami selamatkan, bahaya maha dahsyat akan memporak-porandakan perjalanan umat manusia menuju alam keabadian.''
Orang itu menarik nafas sejenak.
''Petunjuk itu juga menyebutkan, jika kalian dibebaskan melangkah sesuka kalian, pada akhirnya rasa rindu untuk memiliki teman, sahabat atau bahkan pendamping akan mendera hati kalian. Rasa rindu itu awalnya sekadar membujuk, tapi lama kelemaan akan memaksa diri kalian masing-masing untuk memenuhinya. Lantas, begitu kalian sama-sama berhasil memenuhi rasa rindu itu, saat itulah bahaya maha dahsyat akan memulai aksinya. Romantisme yang ada di lubuk hati kalian akan membuat kalian tak mampu membebaskan diri dari penjara kehendak sosok yang awalnya kalian butuhkan sebagai teman, sahabat atau pendamping tersebut.''

Kali ini lebih panjang, kembali orang itu menarik nafas.
''Pada akhirnya kalian pun berkomplot dan membelokkan perjalanan umat manusia dari menuju alam keabadian kepada perjalanan tak berbatas serta tanpa kepastian. Kalian akan membelokkan perjalanan umat manusia ke arah yang dilumuri pertumpahan darah tanpa ada yang berani mencegah. Karena, setiap yang berusaha mencegah pasti akan dibenamkan ke dalam kolam darah. Jadi, sekali lagi maafkan kami. Kami harus menyelamatkan kalian, demi keselamatan umat manusia hingga sampai ke alam keabadian.''

Agam dan Inong tetap saja diam. Lingkaran orang-orang berusia dewasa itu perlahan-lahan menyebar dan mengelilingi kedua bocah itu. Serentak mereka merapat, dengan cepat memberangus Agam dan Inong.
Mendadak, bumi yang hanya hamparan tanah maha luas berbatas kaki langit bergoyang. Perlahan-lahan. Sedikit kencang. Bertambah kencang! Semakin kencang! Teramat kencang! Maha kencang! Hingga, langit maha tinggi serasa sejengkal di atas kepala.
''Bum! Bam! Dum! Dam! Dor!''

Rubuh! Lenyap! Apa yang ada menyatu dengan tanah. Ini yang kesekian kalianya. Semua berawal dari entah siapa membawa Agam dan Inong entah kemana.
[Medan, 17 Februari 2005]]

Readmore → CERPEN SIAPA MEMBAWA AGAM DAN INONG Cerpen YS Rat

CERPEN SUNYI MATI Cerpen Yudhistira ANM Massardi

0 comments

SUNYI MATI
Cerpen Yudhistira ANM Massardi

Tak lama setelah bumi bergetar, aku bergegas ke luar dari sebuah bangunan pertokoan. Beberapa saat kemudian, bersama sejumlah toko lain, gedung tempat aku berada tadi, ambruk menimbulkan suara debum. Abu beterbangan ke udara. Orang-orang berlarian sambil menjerit-jerit dan menangis. Sekumpulan orang kemudian memanjatkan doa di tengah jalan.
Aku terengah-engah dan bergidik. Aku menghela nafas. Keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori kulitku. Aku pun segera mengucapkan rasa syukur karena bisa mendapatkan waktu beberapa detik untuk menyelamatkan diri dari bencana tertimpa reruntuk bangunan.
Dengan nafas terasa sesak, aku nanar memandang suasana sekitar. Di tengah abu dan isak-tangis, aku mendadak merasa seperti orang asing di kota itu. Segalanya seperti menggumpal, lalu meletup, melontarkan segala sesuatu ke udara, dan melayang-layang, mengambang.
Aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tak tahu harus pergi ke mana. Beberapa saat lamanya aku bengong, sampai kemudian pandanganku terarah ke langit kosong.
"Air! Air!" Ratusan orang tiba-tiba berteriak-teriak sambil berlari ketakutan.
Mendengar itu, aku terhenyak. Tetapi, aku justru merasa semakin tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya, air laut datang bergemuruh, dari segala arah, mengempaskan semua penghalang. Ketika itulah, aku merasa tubuhku terlempar, dan terisap ke dalam suatu pusaran yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Aku terisap ke dalam suatu medan hampa yang sangat sunyi. Sunyi mati. Tak terdengar suara apa pun. Lengang. Senyap.
Seluruh pemandangan di sekitarku, mendadak hilang warna. Gelombang air yang dengan derasnya menghanyutkan lumpur, puing-puing rumah, hewan, manusia, kendaraan, dan pepohonan, juga orang-orang yang mencoba berlari menyelamatkan diri ke ketinggian, semuanya tampak kehilangan dimensi. Kehilangan ruang dan waktu. Semuanya berubah, menjadi seperti gambar di layar gedung bioskop. Menjadi hitam-putih. Menjadi tanpa suara, bagaikan film bisu tahun 30-an. Semua citra yang tampak di layar besar itu pun bergerak dengan sangat lambat, bagai adegan slow motion.
Aku pun kehilangan kontrol terhadap seluruh anggota tubuhku. Aku tak mampu menggerakkan tangan dan kaki. Aku seperti terpaku dan gagu. Juga seperti patung kapas yang mengambang tak jelas. Pikiran dan perasaanku juga berhenti bereaksi. Aku hanya merasa begitu sunyi. Sangat sunyi. Nafasku pun seperti tak ada. Dan aku tidak mencium bau apa pun. Kehidupan seperti berhenti berdenyut. Terisap ke dalam senyap.
Tetapi, aku masih bisa melihat. Aku sekonyong-konyong melihat sosok-sosok seperti gumpalan-gumpalan awan tipis, turun dengan cepat ke bumi. Ribuan gumpalan awan tipis itu, di seluruh bagian tepinya, berpendar cahaya lembut. Seperti cahaya lampu para nelayan di tengah laut. Semuanya melayang dengan ringan, beriring-iringan bagai barisan putih tanpa akhir, mengikuti irama tanpa nada. Mereka berarak bersama, dari segala arah, menuju semua penjuru.
Aku tak tahu, apa gerangan yang kusaksikan. Aku tidak memiliki sedikit pun kenangan mengenai hal yang menyerupai itu. Semuanya begitu asing. Tetapi, pemandangan itu, luar biasa indahnya. Keindahan yang tak pernah kusaksikan seumur hidupku. Pemandangan dari jendela pesawat terbang tatkala mengarungi lautan awan di angkasa, masih jauh dari kesetaraan.
Bahkan, itu sama sekali tak bisa dibandingkan dengan yang kini terbentang di hadapanku. Itu bagaikan gumpalan beribu gema, nada, dan mungkin juga doa. Semuanya mewujud berupa awan tipis yang melayang ringan, membiaskan sinar putih bagai lampu neon yang pipih, sepipih pedang lentur.
Aku tak tahu, berapa lama semua itu berlangsung. Sebab, waktu juga tak ada jejaknya. Arloji di tanganku bukan hanya kehilangan dimensi, melainkan..., ya, seperti juga seluruh tubuhku, telah terurai menjadi butir-butir, ribuan, bahkan jutaan elektron, proton, oksigen, hidrogen. Menjadi satu gugusan massa tanpa isi, tanpa bobot, hilang bentuk!
Tetapi, aku tetap masih bisa melihat. Aku melihat gelombang sosok-sosok awan tipis bercahaya itu terus melayang, ke semua arah, dari semua arah. Ah, apakah masih ada arah? Aku tak tahu! Yang pasti..., ah, apatah pula yang pasti, bila segala sesuatu sudah hilang bentuk, hilang waktu, selain menjadi nisbi, menjadi butir-butir cahaya tak terperi?
Ya, aku melihat, pemandangan berikutnya yang jauh lebih spektakuler! Aku melihat, orkestra awan tipis bercahaya itu kemudian berbalik arah, dari segala arah, ke segala arah..., aduh, alangkah sulitnya melepaskan pikiran dari ukuran-ukuran dan mata angin yang tanpa guna itu! Aku melihat sebuah arus balik, sebuah perputaran..., astagafirullah, itu bagaikan lingkaran berjuta massa yang sedang bertawaf di sekeliling Kabah! Beribu-ribu gumpalan awan tipis berpendar cahaya, bertawaf! Semakin lama semakin banyak, semakin banyak, semakin banyak...! Semakin terang-benderang, semakin berkilauan. Bagaikan teater cahaya di pentas amat luas!
Sementara itu, nun jauh di belakang sana, pada latar belakang -- pada layar monitor raksasa bagai di venu pertunjukan musik rock -- yang menayangkan film bisu dalam gerak lambat tadi, kulihat ribuan orang menggapai-gapai, menggerakkan kedua tangan mereka ke angkasa, dengan mulut terbuka seperti menyerukan sesuatu... Menyerukan sesuatu seperti.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
"Bersujudlah kamu! Bersujuuud!"
Mereka kemudian bersujud. Beribu-ribu manusia tanpa dimensi di layar bioskop, semua tersuruk, semua menyurukkan wajahnya ke bumi, mencium bumi yang terbenam lumpur.
"La ilaha ilallah!"
"Bersujudlah kamu! Bersujuuud!"
Aku pun, tanpa terasa, segera menyurukkan wajahku. Tetapi aku sudah kehilangan wujudku, sudah kehilangan bumiku. Aku tak tahu telah menjadi apa dan berada di mana. Aku tersuruk dan terbenam ke dalam gugusan awan tipis yang berpendar cahaya.
Di layar itu, sekilas aku juga melihat Najwa menangis. Aku juga melihat..., ah, apakah masih ada artinya semua yang aku lihat itu dibandingkan dengan keindahan teater cahaya yang menakjubkan ini?
Ah, tetapi aku juga melihat dia, ya, dia! Aku juga melihat mereka! Ayahku, ibuku, kakak-kakakku, adik-adikku! Ya, aku juga melihat anak-anakku! Mereka melambai-lambaikan tangan ke arahku, menyebut-nyebut namaku, dalam tangis, dengan wajah penuh luka dan airmata.
"Ayah! Ayaaah!"
"Anakkuuu!"
Aku tak kuasa menahan perasaanku. Dadaku penuh. Menggelegak. Aku pun menangis dengan keras. Butiran-butiran hidrogen mengucur membasahi wajahku yang transparan.
"Ya, Allah, di mana aku sekarang.?!"
Belum lagi aku memperoleh jawaban, seluruh pemandangan itu tiba-tiba lenyap. Suasana gelap gulita. Tubuhku tersentak dengan hebat. Kemudian, aku merasa seperti terlempar kembali, dengan rasa sakit luar biasa. Aku terlempar dari sebuah kehampaan menuju sebuah tempat lain yang keras. Terlempar ke tempat yang sangat bising. Kedua telingaku sakit sekali. Udara di sekelilingku mendadak seperti tumpah berdesak-desakkan. Semua memasuki hidungku dengan paksa, lalu menembus ke dalam dadaku, lalu menerobos ke dalam batok kepalaku. Lalu, hidungku mencium bau obat-obatan, bau amis, bau busuk.
"Ya, Allah, di mana mereka sekarang?!
Jakarta, Januari 2005
( )
Readmore → CERPEN SUNYI MATI Cerpen Yudhistira ANM Massardi

Thursday, February 2, 2012

CerpenTahi Lalat Tipis di Atas Bibir Rini Cerpen Sunaryono Basuki Ks

0 comments

Tahi Lalat Tipis di Atas Bibir Rini 
Cerpen Sunaryono Basuki Ks 


Apakah yang membedakan Ayu dan Rini? Sulit dikatakan. Ami mengatakan bahwa Ayu berwajah lebih bulat dari Rini, sedangkan wajah Rini lebih lonjong. Cahyani mengatakan bahwa Ayu sedikit lebih tinggi dari Rini. Kata Dian, Ayu lebih gemuk dari Rini. Sagita bilang suara Ayu lebih jernh dari suara Rini.
Tetapi, dengan perbandingan tetap sulit bagiku untuk membedakan bersaudara kembar itu. Bagaimana bisa dengan mudah mengatakan bahwa wajah Ayu lebih bulat kalau yang hadir di depanku hanya Ayu atau Rini saja, saat mereka tak hadir berdua. Yang jelas, bila mereka menyanyi bersama untuk kegiatan kesenian di jurusan atau fakultas, suara mereka jernih dan membuatku jatuh cinta.
Ayu dan Rini dua bersaudara luar biasa. Keduanya punya suara yang bagus. Keduanya menulis resep untuk majalah dan tabloid wanita, kemudian menerbitkannya menjadi buku. Berdua mereka menulis buku English Games yang diterbitkan oleh penerbit buku terkemuka dan sampai kemarin sudah menghasilkan royalti yang langsung dibelikan satu set komputer sehingga mereka tak perlu lagi pergi ke tempat penyewaan komputer untuk menulis. Sudah ada tujuh naskah buku yang disetujui untuk terbit dan sudah ada tiga judul yang sudah benar-benar menjadi buku dan memberi mereka royalti.
Ayu menulis novel sudah sampai lebih dari dua ratus halaman diketik satu spasi. Ternyata Rini juga menulis novel, bukan novel lain tapi novel itu juga. Kalau Ayu sedang sibuk menulis skripsi, Rini melanjutkan menulis novel itu.
''Kok bisa?'' tanyaku terheran-heran.
''Mindahkan pikiran, Pak.'' Dengan ringan Rini menjawab. Tapi keahlian Rini sebenarnya melukis komik yang Ayu tidak mendalaminya. Mereka mengarang lagu juga dikerjakan berdua. Sementara ini mereka sedang membuat rekaman lagu-lagu yang mereka gubah sendiri.

''Sudah tanda tangan kontrak?''
''Belum.''
''Minta dua kontrak. Satu untuk penggubah lagu, satu untuk penyanyi.''
''Kok gitu, Pak?''
''Kan kerjamu dua. Dan, jangan mau dibeli putus.''
''Apa itu?''
''Kamu dibayar dengan honor besar, tetapi tak punya lagi hak kalau rekaman laku atau kalau ada penyanyi lain yang mau membawakan lagumu. Rugi, kan?''
''Saya tidak ngerti.''
''Makanya jangan sampai tergiur uang banyak. Contohnya Koes Plus, sampai sekarang lagu-lagunya laku tetapi mereka tak bisa menikmati hasilnya.''

Orang bilang, dua bersaudara kembar bisa saling merasakan, tetapi Ayu dengan tegas mengatakan tidak.
''Kalau kamu senang apa Rini bisa merasakan debar senangmu?''
''Tidak.''
''Soalnya dulu ada mahasiswi kembar, yang seorang di sini, yang seorang di Denpasar. Yang di sini konon merasa kesepian dan bunuh diri dengan minum obat serangga.''
Ayu diam. 
''Bukan maksudku menakutimu. Kalau aku menamparmu, bisa?''
''Ya. Kalau saya jatuh dia ikut merasa sakit.''
''Kalau pacar menciummu, rasa?''
Ayu tersenyum dengan mulut terbuka.
''Tidak.''

Yang mengejutkan, selain masing-masing punya rahasia, ternyata Ayu dan Rini punya pacar bersama. Gede yang tinggal di Seririt menjadi pacar bersama mereka.
''Bersama-sama bagaimana? Kamu keroyok?''
''Tidak. Ya gantian.''
''Tak cemburu?''
''Kami saling ngerti.'
''Dan Gede tahu?''
''Ya.''
''Kalau pacaran kalian bergantian?''

Ayu mengangguk.
''Gila!'' pikirku. Tak pernah terpikir olehku sampai bisa terjadi begitu.
''Jadi Gede enak dong. Punya dua pacar sekaligus. Bisa gantian.''
''Tapi kami punya rahasia masing-masing. Saya punya pacar dan dia juga punya.''
''Lalu, dimana dia?''
''Yogya. Kena gempa. Dia mahasiswa UGM.''
''Oh, dari Bantul.''
''Betul. Dan Rini punya pacar dari Sumbawa. Dia Kristen.''
''Dan Yogya?''
''Mukhlas.''
''Oh. Jadi kamu siap jadi mualaf?''
''Ya.''
''Tak menyesal?''
Ayu tersenyum.

Aku tahu itu Ayu sebab dia datang untuk mengkonsultasikan skripsinya, jadi bukan Rini. Aku bukan pembimbing Rini. Pagi itu karena Rini juga datang, kuminta dia ikut masuk ke kantorku dan mereka berdua duduk di depanku. Suara mereka persis sama. Wajahnya sama. Tingginya sama. Jadi, sebenarnya apa yang membedakan mereka? Memang, waktu itu Ayu mengenakan kaos berwarna merah bergaris-garis sedang Rini mengenakan kaos hitam tanpa kembangan. Tapi, perhiasan mereka sama, bibirnya sama, rambutnya sama. Jadi bagaimana?
Ternyata Puspitayani yang memberitahuku. Dia tetangga Ayu dan Rini dalam lima tahun terakhir. Mula-mula merasa bingung juga sampai dia menemukan perbedaannya. Rini punya tahi lalat tipis di atas bibir di bawah lubang hidung kirinya. Sangat tipis seperti sebuah titik yang dibikin. Andaikata Ayu usil dan membubuhkan titik hitam dengan pensil alis di lubang hidungnya, pasti aku tak mampu membedakannya dari Rini.
Pada suatu siang sebuah sms masuk ke dalam HPku.
''Pak, besok saya boleh konsultasi?''
''Oke, jam sebelas,'' jawabku.
Dan jam sebelas seusai aku mengajar, Ayu memang muncul.
''Sudah selesai semua?''
''Maaf, Pak. Kakak tak bisa datang. Agak pusing. Tapi dia sudah janji, kan?
Saya mewakili. Boleh, Pak?''
Yang duduk di depanku seorang gadis yang kukira Ayu juga. Tapi, kemudian kuminta dia mendekatkan wajahnya dan aku dapat melihat sebuah titik hitam tipis di bawah lubang hidung kirinya, di atas bibirnya.
''Oh, jadi kamu. Saya gak tahu, gak bisa bedakan.''
Dia hanya tersenyum.
Seperti biasa aku selesaikan membaca skripsi pada saat itu juga. Aku tak mau menunda pekerjaan. Begitu selesai kuperiksa tak ada lagi beban hutang jadi aku bisa mengerjakan yang lain: menulis atau membaca dengan tenang. Aku bertukar sms dengan Mas Budi Darma atau Agus Noor.
''Sakit apa dia? Batuk?''
''Katanya pusing.''
''Pasti mikir Mukhlas.''
Hanya senyum.
''Tolong sampaikan salamku. Cepat sembuh biar bisa ujian. Kamu sendiri bagaimana?''
''Masih di tangan Pak Pande. Belum sempat baca katanya. Sibuk.''
''Ya nasib. Sabar aja.''
Lalu dia ulurkan tangannya dan dia cium tanganku. Lalu, kutarik tangannya dan kucium pipi kanan dan kirinya. Lalu kutanyakan, kalau kucium apa Ayu bisa ikut merasakan?
Tak kutunggu jawabannya. Kucium bibirnya walaupun disambut dengan dingin. Tak ada balasan. Persis seperti reaksi Ayu yang nol. Jadi, keduanya bereaksi sama?
Lalu kulepaskan. Dia duduk kembali tapi masih tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Persis seperti reaksi Ayu kalau kucium. Mungkin karena kembar, pikirku.
Tiga hari kemudian mereka datang lagi berdua.
''Sudah sembuh?'' tanyaku pada keduanya karena belum tahu mana Ayu mana Rini.
Keduanya duduk di depanku.
''Jadi boleh ujian, Pak?''
''Kalau sudah siap, kenapa tidak?''
Mereka saling pandang seolah menertawakanku. Aku ragu. Mana yang Ayu, mana yang Rini. Lalu, kupandangi mereka dengan jarak dekat. Yang duduk di sebelah kananku punya tahi lalat hitam tipis di bawah lubang hidung kirinya di atas bibir. Yang kiri pasti Ayu. Tapi aku tak mempercayai mataku. Yang duduk di sebelah kiriku juga punya tahi lalat hitam tipis di lubang hidung di atas bibir. Jadi yang mana Ayu, yang mana Rini?
Mana Ayu?''
Keduanya tersenyum.
''Siapa yang mau konsultasi?''
''Keduanya tersenyum?''
Aku terhenyak bersandar di sandaran kursiku.
''Jadi, siapa yang kucium dua hari yang lalu?''
Keduanya tersenyum dan aku tak paham. Benar-benar terpukul, terbaring di matras ring tinju. Mungkin harus ada yang menyiramku dengan air dingin agar aku terbangun.
Singaraja, 15 Oktober 2006


Readmore → CerpenTahi Lalat Tipis di Atas Bibir Rini Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Cerpen Tarian dari Langit Cerpen Khairul Jasmi

0 comments
Tarian dari Langit 
Cerpen Khairul Jasmi 


Budiman duduk termenung.
Kalau saja ia sempat memegang tangan adiknya itu, mungkin Cut Rani, masih hidup. Tapi tidak, air laut telah merenggutkan semua anggota keluarganya. Pagi itu, 26 Desember 2004. Sejarah amat buruk menerjang Aceh.

Pagi cerah, sedikit berawan di langit Aceh. Seperti biasa, jarum jam bergerak teratur. Burung berkicau, ombak di pantai menghempas jinak. Anak-anak telah bangun. Tanpa jam. Yang lain, terlelap di ayunan. Masa depan yang buruk segera dimulai, tanpa orang Aceh dapat menolaknya. Di sejumlah desa dilangsungkan pesta perkawinan. Di tempat lain, orang bergegas ke sawah atau ke ladang. Di kota-kota penduduk bermalas-malasan di pagi itu.
Lantas, bumi pun rengkah. Gempa dangkal dan kuat telah terjadi tidak jauh dari Meulabuh. Lalu air laut mengamuk, membawa magma dari dasar laut. Melanyau seisi negeri. Ratusan ribu orang tewas seketika.
Kepiluan lalu terbentang panjang.
Budiman masih hidup.
Ia ingat adiknya, Cut Rani. Mayatnya tidak ditemukan. Juga tidak mayat ayah bundanya.

Budiman memegang foto adiknya yang disisakan oleh bencana. Cut adalah adik semata wayang. Cinta pada adiknya tak terbeli oleh apa pun jua. Budiman masih ingat, ketika sepekan menjelang musibah, Cut Rani merenggek minta ditemani untuk tampil menari di Banda Aceh.
Dan saat Cut Rani tampil, Budiman serasa memiliki seorang adik, seorang bidadari.
Malam itu:

Ruangan menjadi gelap. Lalu biang cahaya menusuk lembut ke kain putih yang jadi latar belakang pentas. Kain putih itu 'beriak' kecil.
"Assalamualaikum". Beberapa detik kemudian tari Poh Kipah dimulai. Cut Rani meliuk, ia seperti memegang keempat sudut pentas. Ia berlari, ia memainkan bola matanya.
Ketika Cut Rani mulai melentikan jemarinya, ketika hentak kaki menghantam lantai pentas, sepertinya saat itu, gerakannya sedang membawa ruh dari meunasah tua ke sisi tempat duduk para penonton. Ada 27 orang penari yang masuk silih berganti. Tapi, Cut Rani malam itu bagai penari tunggal.
Gadis siswi SMA kelas satu itu benar-benar menguasai gerakan tari yang ia bawakan. Memang sebelum tampil ia berbisik pada kakaknya. "Tari ini untuk kakak," katanya.

Poh Kipah yang berarti tarian kipas, sesungguhnya hanyalah tarian biasa, paut-memaut keseharian anak muda. Tapi, karena ini Aceh, maka tari itu berangkat dari meunasah (surau), sebuah institusi paling kokoh dalam menyemai pengetahuan agama (Islam) kepada anak negeri di Aceh. Nuansa Islam memang kental dalam tarian Pok Kipah ini. Suara pekikan, hentakan kaki yang kuat, keriangan dan kelincahan, benar-benar menjadi kunci suksesnya tari ini.
Begitulah empat orang penari wanita memasuki pentas. Di belakangnya telah duduk para pemain musik tradisi berupa serune kale, rapai dan gendang. Seorang wanita duduk bersimpuh di antara pemusik. Ia mendendangkan syair-syair tradisional. Tentunya bernafaskan Islam. Suasana mulai terasa makin riang, ketika 10 orang penari wanita kembali masuk. Ada kipas di tangannya. Kipas itu, membawa bebunyian yang indah, ditingkah dentum kaki pada lantai pentas dan tepuk tangan yang cepat, ligat dan seirama.
Pada akhirnya, penari tersisih menjadi tiga kelompok. Pada kiri kanan masing-masingnya delapan orang dan di tengah 11 orang penari. Sebenarnya di sanalah pesan itu mulai sempurna. Pesan tarian dari Aceh: mari bergotong-royong dalam keriangan. Mari bersatu dan kesatuan merupakan keindahan yang sungguh memukau. Kesatuan gerak, kesatuan sikap, kesatuan penampilan dan kesatuan hati, menghasilkan sebuah tari yang indah.
Tari Poh Kipah pada awalnya tari ini hanya dimainkan lelaki dan hanya di maunasah saat peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Namun kini, tarian itu, bergerak dari maunasah lantas (hendak) memberi kabar ke seluruh penjuru bahwa Aceh sesungguhhnya adalah keringan, bukan permusuhan apalagi kematian. Jika dulu geraknya hanya sederhana, kini diperkaya. Tapi tetap berpagut pada akar tradisi.
Memang malam itu, penari tampil paripurna. Apalagi Cut Rani.
Tapi, murai kecil itu telah pergi. Atau Cut Rani adalah burung kelana yang belum sempat berkenala. Saat sayap akan dikepak, nestapa merenggutkan segalanya

Budiman duduk termenung. Ia terkenang keluarganya. Ia teringat semuanya. Cut Rani, kini serasa berada di depan Budiman. Ia sedang menari. Tapi bukan tari Poh Kipah lagi. Melainkan tarian aneh. Mungkin tarian dari sorga. Cut Rani menari di atas awam yang merendah. Ia melekatkan cindai di pinggangnya. Di sisi Cut Rani, seorang penari lelaki nan jombang terlihat mengiringi ketukan kaki Rani pada lantai berpermadi merah.
Tak lama kemudian Rani seperti terbang ke langit yang berlapis. Mata Budiman melihat dengan jelas, Rani sedang berada di langit lapis keempat. Ia disambut seorang Nabi. Lantas Sang Nabi menepuk-nepuk pundaknya. Rani kemudian melesat kencang kembali ke bumi. Ke Tanah Aceh, ke dekat Budiman sedang duduk.

"Kakak." Ia menyapa.
Budiman gelagapan. Adiknya, menyapanya dengan suara lain. Suara itu seperti dipesan dari sorga.
Budiman telah mengenal sorga. Paling tidak dari cerita nabi-nabi yang dituturkan ibunya. Di sorga mengalir sungai yang airnya dari susu dan madu. Buah tumbuh lebat di mana-mana. Dipetik seketika, tumbuh lagi seketika. Di sorga bidadari ada di mana-mana.
Dan kini, adiknya jadi bidadari. Menari di hadapannya. Cut Rani terlihat lebih cantik, lebih putih dan jernih. Pakaiannya alangkah indahnya, tak tertandingi oleh pakaian siapa pun di dunia.

Tak lama kemudian muncul pula ibu dan ayahnya. Orang tuanya itu, memakai pakaian yang indah pula. Memanggil namanya. Keduanya kemudian mendekat dan mencium kening Budiman.
Budiman menangis. Air matanya jatuh ke tanah.
Ia ingin berbicara dengan orang tua dan adiknya. Tapi, lidahnya kelu. Ia ingin menggerakkan tangannya. Tapi tangan itu terasa amatlah beratnya. Ayahnya kemudian berbicara. Suara ayahnya menggema ke seluruh pelosok negeri.
Kata sang ayah:

"Nak, Naggroe Aceh Darussalam adalah sebuah daerah yang unik. Penduduknya dikenal paling gigih menentang penjajahan Belanda. Sepanjang sejarah kolonialisme Belanda di Hindia Belanda, hanya untuk Acehlah, diperlukan seorang penasehat ahli khusus bernama Snouck Hurgronje. Orang ini dibebani tugas khusus untuk mempelajari seluk-beluk Aceh, tentang kebiasaannya, adat dan terutama tentang Islam dan pemahaman orang Aceh atas agama tersebut. Pemikir kapir itu kemudian ternyata berhasil menemukan 'kunci sukses' untuk menaklukan Aceh.
Aceh baru benar-benar bisa ditaklukkan Belanda setelah 1900-an. Bahkan sampai 1942, rakyat Aceh terus mengganyang Belanda. Karena itu, kalau disebut-sebut Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, tidaklah benar, sebab ada bagian dari negeri ini, yang sulit disentuh Belanda.
Itu pun setelah perang hebat yang dikenal dengan Perang Aceh 1983-1904. Perang yang amat melelahkan itu benar-benar membuat Belanda hampir putus asa. Entah berapa banyak serdadu Belanda tewas di tangan pejuang Aceh. Perang hebat itu kemudian melahirkan sejumlah pahlawan Tanah Rencong: Teuku Umar, Cut Nya Dien, Panglima Polim dan sederatan nama lainnya.

Setelah kemerdekaan, Aceh menyumbang sebuah pesawat terbang bagi Indonesia. Pesawat pertama milik negara itu dibeli orang Aceh dengan uangnya sendiri. Berbagai upaya telah dilakukan untuk 'membujuk' Aceh. Pada tahun 1959, pemerintah memberikan status 'Daerah Istimewa' bagi provinsi itu. Rakyat Indonesia menyapa Aceh dengan sebutan, 'Serambi Mekah', atau 'Tanah Rencong'.
Sebutan Serambi Mekah sesungguhnya melekat pada Aceh karena Aceh merupakan pintu gerbang bagi rakyat Indonesia tempo doeloe untuk pergi ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Jemaah haji di Indonesia menjadikan Aceh sebagai tempat persinggahan mereka sebelum dan setelah kembali dari Mekah. Bahkan tidak jarang dari mereka menetap dulu di Aceh guna memperdalam ilmu agama, untuk kemudian baru kembali ke kampung masing-masing. Orang dulu naik haji selain menunaikan rukun Islam kelima, juga untuk menuntut ilmu agama.

Musibah Aceh adalah hukuman bagi Indonesia, bukan untuk Aceh, meski orang lain menyebutnya peringatan.Tapi ayah sudah bicara dengan Tuhan, ini adalah hukuman untuk Indonesia, negerimu!
Ketahuilah Nak, sejak 1511 sejak Melaka jatuh, sejak Islam meluas bermula dari Aceh hingga 2004, terpaut masa selama 493 tahun. Selama ini pula Aceh hanya memberi pada Indonesia, tapi tidak pernah menerima. Yang mereka terima terakhir hanyalah sebuah basa-basi belaka. Juga pembantaian demi pembantaian."

Suara itu berhenti. Hilang. Yang terlihat hanyalah Cut Rani. Gadis itu kembali menari Poh Kipah. Menari dan menari. Lalu dalam liukan terakhir, Cut Rani hilang entah kemana. Mungkin ia kembali ke sorga.
Budiman tersentak dari lamunannya.
Matanya terbelalak, yang terlihat hanyalah negeri yang rusak binasa, Sesayup-sayup mata memandang yang terlihat hanyalah kebinasaan yang tak terpermanai.
Budiman menangis. Sebuah tangis tanpa air mata.

( )
Readmore → Cerpen Tarian dari Langit Cerpen Khairul Jasmi

Sponsor BUS

Dapatkan juga sponsor untuk Blog anda dengan klik gambar di bawah, untuk mengetahui caranya KLIK DISINI. Kalo mau yang lebih tinggi penghasilannya KLIK DISINI Adsense Indonesia

Buat Blog

Alexa Rank

 

Info My Blog

cobi?
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetMsn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
web log free

Recent Comment

| BLOG URANG SUNDA © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |