Friday, January 13, 2012

CERPEN LAMNO (Cerpen Arlen Ara Guci)

0 comments

LAMNO 
Cerpen Arlen Ara Guci 


Meski rakit terkayuh, tapi Walis telah jatuh ke krueng, saat sepeda motor sumbangan Wapres hendak diseberangkannya ke kaki gunung Geurete. Bila seorang loreng itu tak mengulurkan tangan, alamat sepeda motor ikut terjun bebas ke dasar krueng yang baru jadi dibentuk oleh tsunami.
Sepuluh depa dari situ, camp loreng gagah menghadang ke samudera biru. Meski mereka puluhan, hanya satu membantu. Walis masih memahat kebencian pada semua yang ada. Mata elang Walis menghujam ke loreng yang berjasa menyeberangkan sepeda motornya. Tegur sapa pun tak ada di antara keduanya, saat pisah sambut itu usai.
Berbekal kuyup di badan, Walis memacu 80 km/jam di sepanjang lereng Geurete. Lintasan ingatan pada drama pilu di Geurete beberapa kurun silam, ketika GAM memuntahkan peluru dari puncak Geurete ke loreng-loreng yang sedang dititipkan tugas dalam paket DOM, tak menyiutkan nyali Walis memacu menuju Lamno. Bagi Walis GAM adalah saudara, loreng-loreng saudara juga, biru laut mengelilingi Banda, juga saudara. Siapa bersalah di antara ketiganya, kini justru membuat Walis meringis!
Mata Walis mulai berkaca hendak memasuki Meulha, karena Walis kembali menghirup anyir pahit yang sama, sejak dari Peukan Bada, Lhok Nga, Leupung, Lhok Seudu, Krueng Kala. Katanya, tahap darurat telah lewat, berarti evakusi tak ada lagi. Tapi, aroma itu, nyata-nyata masih ditemui juga.
Tak terhitung lagi jumlah petinggi negeri pulang-pergi menjenguk negeri Serambi. Masalah evakuasi, berapa jumlah jenazah yang ditimbun di Lambaro sebenarnya, Walis sinis, meski sekadar untuk percaya. Apalagi masalah jumlah pengungsi, aliran bantuan, barak, mustahil!

Meski dibesarkan di Banda, kecintaan akan tanah kelahiran sepanjang hayat di kandung badan. Walis mati-matian ingin membuktikan. 
"Bang, bagaimana jadinya negeri Serambi...!?"

Geleng Walis di Meulego, Pendopo Gubernuran. Si Abang sebagai relawan menyayangkan sikap pejabat daerah terkesan lamban menenggarai korban yang selamat. Penanganan kelangsungan hidup antara ada dan tiada. Ragam bantuan, posko pengungsian adalah keakraban tak bertuan memayungi sepanjang siang-malam.

"Harus lewat jalurnya, Dek! Tau sendirilah macam mana sistem yang dipasang di negeri ini!"
Membubung sederas samudera sampai ke gendang telinga Walis, ketimpangan yang diberlakukan di negerinya. GAM, Darurat Sipil, Darurat Militer, sekalian Darurat Tsunami melengkapi patahan hati Walis memahami arti sebagai asli anak negeri.

"Tak ada yang lebih mencintai Aceh, selain putera Aceh itu sendiri. Para relawan yang datang dari berbagai pelosok negeri dan dari penjuru bumi, tak akan bertahan lama-lama di sini, suatu waktu, mereka akan kembali berkumpul dengan keluarga mereka, ke kampung asal mereka masing-masing. Kalau air mata telah banyak tumpah di negeri Serambi Mekah ini, darah juga sudah terlalu banyak tumpah di sini, yang kurang tumpah adalah tumpahan keringat!" seruan dai yang tengah naik pamor di negeri ini, menciptakan kepalan bulat-bulat, geraham Walis bertaut.

Pesan itu kembali menghampiri kupingnya saat sepeda motor yang dipacu kencang hendak memasuki Babah Dua menjelang petang.
Ditepikannya sepeda motor itu. Pendar pandangan Walis melumat di semua yang rata sudah dengan tanah. Terasa berat kaki Walis menginjakkan rumah Ahmad Amin, sepupunya, yang kini tersisa jenjangnya saja. 
Ahmad Amin adalah sosok yang bisa dipercaya mewakili pemuda Lamno. Tak mau berdiam diri, selalu giat mencari, tepatnya pekerja keras.
"Sudah bertemu?"
"Belum."
"Tak tanya sama orang desanya yang selamat?"
"Sudah, tetap tak ada."
"Ke posko-posko pengungsian?"
"Sama saja."


Keduanya hanyut mengenang Syuaibah, Inong mata biru berdarah Portugis, berumah di Kuala Daya. Di mana gerangan tergelimpang mayatnya, tak ada apapun yang bisa memberi kabar hingga masuk berbilang bulan lamanya.
"Sanak familinya tak satu pun yang selamat," tutup Ahmad Amin hampa.
Rencananya hari raya haji kemarin, sepasang insan yang tengah digulung asmara ini akan disatukan atas nama perkawinan. Tapi, tsunami lebih dulu mengandaskan impian itu. 
"Semua sudah rata!"

Keduanya mendekat ke Kuala Daya, tiba dekat pertigaan Ujong Muloh, dada Walis menyeruak sesak. Ada gedung berlantai dua miring retak menanti tumbang, itulah Pesantren Budi. Nurhida, kakak perempuan Walis semata wayang, pernah mencoba bertarung hidup dalam nyawa meregang ketika tsunami menerjang.
Tiga hari usai tsunami, selain pasar Lamno, hampir setiap sudut menjadi desa mati. Uluran tangan dari mereka yang selamat untuk mereka yang sekarat menipis. Puskesmas, saluran listrik, telepon, tak berfungsi sama sekali.
Semula orang menyangka Nurhida telah jadi mayat. Saat dijejerkan dalam kantong mayat, ada yang melihat kantong bergerak, pertanda Nurhida selamat, meski sama sekali tak lagi bersuara. Sekujur tubuh Nurhida lebam biru, kaki serta tangan dibalut darah kering, sebagian lain gosong dengan lumpur membalur. Saat tubuhnya diangkat, Nurhida layu seperti tak punya tulang, meski sekadar menegakkan punggung. Mata redup maut, bibir seakan berat dipaksa bergerak. Nurhida dilarikan ke Puskesmas dekat pasar, satu-satunya daerah tak dijangkau air maut itu. Di antara ratusan geletakan korban, perawat belum jua menyentuh Nurhida.
Malahan mereka gempar, saat tersiar kabar, air laut naik! Diboponglah tubuh Nurhida oleh Khairullah sepupunya, menaiki puncak bukit. Penduduk memekik menyelamatkan diri masing-masing.

Beberapa jam menunggu, ternyata kabar air naik isu belaka. Nurhida tambah tersiksa. Selama tiga hari itu tak ada nasi atau pun sepotong makanan yang masuk perutnya. Selama itu, Nurhida juga belum mampu sekadar bersuara. Tepat Subuh sedang bertabuh, Nurhida tak lagi kuasa menanggung segala.
Dan, Walis sekalian hendak menziarahi peristirahatan terakhir Nurhida, kakak yang sering memberinya petuah serta nasehat-nasehat akan kematian. 
Kuala Daya juga rata sudah semua. Nyiur berbaris hijau yang dulu kemilau diterpa sang surya, kini sebagian berserakan, sebagian tertebang. Jalan-jalan rengkah malah berserak pindah beberapa lantak. Krueng Inong lalu lintas nelayan menjelma kubangan mayat. Kemana perginya udang-udang kesukaan yang selalu diburu Walis, ikan-ikan laut yang murah mengeluarkan aroma segar, karena tak perlu di es-kan seperti ikan-ikan kota, kemana lenyapnya perahu-perahu itu? Beribu gugatan, hanya disapukan angin buritan.

Di antara gunungan sampah, keduanya terus menyisir Lamno. Dari situ juga tampak satu camp loreng menghadang ke samudera. Walis meringis, sejak tsunami meluluh lantak negerinya, hampir setiap jengkal ditemuinya camp loreng-loreng. Tiada sedikit jua simpati menyirat di wajah mereka, selain pakaian kebesaran dan senapan. Walis muak menyemak menyaksikan semua itu.

Usai membasuh muka di puncak bukit, menengok makam Peutomeureuhom, keduanya berpisah di Babah Dua. Hendak balik ke arah pasar, Walis menyaksikan para kaum ibu yang kini ditinggal mati suami ulah tsunami mengais sampah di pelosok Lamno. 
"Bagaimana kabar ibumu?" salah seorang dari mereka mendekati Walis. "Hilang!"
"Bapak?"
"Bapak selamat sama adik dua orang. Kak Nurhida dan satu adik paling kecil ada ketemu mayatnya."
Mata mereka berkaca. Walis sudah berjanji pada diri, tak akan mengeluarkan air mata bila kematian datangnya dari Sang Pencipta kematian itu sendiri.
"Apa pekerjaan orang-orang sekarang?"
"Membersihkan sampah."
"Siapa suruh?"
"Dibayar."
"Sama siapa?"
"Panglima Laot."
"Berapa?"
"35.000 rupiah perhari."
"Uangnya darimana?"
"Tak tau!"


Dada Walis naik turun tak teratur, seakan tak ada lagi di tanah sendiri yang masih punya hati. Uang kini telah bicara atas nama kematian! Setidaknya itu pilu tak bertepi bagi anak negeri.
Di bawah siraman rembulan, Walis kembali menekan hati tak ada guna menitikkan air mata lagi. Gemintang tak kemilau menghadirkan risau. Di kaki bukit, Walis menanti pagi.
"Di sini berlaku jam malam!"
"Kenapa?"
"Kontak senjata!"
"Antara....!?"


Pagi merekah di Lamno, Walis sedang berziarah. Al-Quran mini digamit, bibit komat-kamit. Perlahan mendesah, kemudian menderas. Saat mentari pagi sepenggalan naik, Walis siap dengan kendaraannya kembali ke Banda. Di lereng Guerete, dar... der... dor.... Suaranya semakin nyaring. Walis terus memacu tak lagi peduli. Setiba di penyeberangan yang sama, loreng-loreng tengah berhamburan ke hutan-hutan. 
Mereka siapa sebenarnya? Jaman begini sukanya main senapan!? batin Walis diterbangkan angin, sambil menarik tali gas. 
Matahari menyisakan bayang setengah badan, ketika Walis memasuki kota Banda. Walis membujuk hati, kini saatnya berbunga, karena baru pulang dari tanah kelahiran, disitu asal muasal keluarganya. Sekaligus perjalanan perdana lewat darat usai tsunami.


Cerita ini akan diteruskan ke anak cucu, hiburnya pilu.
Sesampai di Seutui, Walis berhasil membuat bibirnya tersungging. Tak tahan sebungkus kebahagiaan baru saja direngkuhnya, Walis telah memekik dari kejauhan, 
"Ayaaah...Ayaah...Walis pulang!"
Ushairy, adik laki satu-satunya membukakan pintu kayu,
"Lamno bagaimana, Bang?"
"Ayah kemana?"
"Temu kubur Kak Nurhida, Bang?"
"Ayah mana, Dek?"
"Inong mata birunya abis semua, Bang?"
"Ayah, dek!?"
"Bang, malam tadi Ayah....."
"Kenapa!?"
"Dibawa..."
"Siapa...?"
Banda Aceh-Lamno, 02 Maret 2005
Hadiah cinta untuk adikku: Chairul Walis di Seutui. Percayalah, Allah begitu mencintai Banda Aceh dan seisinya!

( )
Readmore → CERPEN LAMNO (Cerpen Arlen Ara Guci)

Tuesday, January 10, 2012

CERPEN BULAN MERAH JAMBU

0 comments

Bulan Merah Jambu 



Pagi terasa sepi. Diam tak ada suara. Aku merasa nyaman dipeluk ketenangan. Sunyi. Senyap. Tetapi itu tak lama.
"Zuha muncul di koran! Zuha muncul di koran!" sebuah suara membuat ketenangan melepaskan pelukannya. Suara Idha. Dan bukan hanya mulutnya yang bersuara. Dari kakinya pun keluar suara gedebag-gedebug yang keras. Pula, dalam hitungan detik terdengar pintu berderit. Bahkan berdebam. Mungkin empunya kamar membuka dengan sangat bersemangat. Keheningan pagi terburai menjadi serpih. Lalu ada riuh. Aku tergoda. Bukan karena riuhnya, tapi karena satu nama yang diteriakkan Idha.

Zuha! Zuha muncul di koran!
Akulah yang terakhir membuka pintu. Di dekat meja, kulihat lima gadis mengerumuni Idha yang tengah membentangkan koran. Wajah mereka sangat antusias. Nainy yang pertama kali mendongak ke arahku. "Tabita, Zuha! Ia mengajar anak-anak di sana...," gadis itu berkata kemudian memberikan tempatnya untukku. Juga jarinya menunjuk kolom yang tengah menjadi pusat perhatian.
Oh, Tuhan. Tak apalah hening pagi terburai menjadi serpih. Sebab wajah di lembaran koran itu memang Zuha. Ia berdiri anggun dengan baju merah dan kerudung biru tua. Di belakangnya ada papan tulis dan di depannya anak-anak yang tak berbaju seragam. Mereka bersama dalam sebuah tenda. Sebuah judul mengantar tulisan tentangnya. Zuha pun Turut Mengajar.

Aku melihatnya beberapa saat dan tenyata mataku memanas. Meski bukan foto close up, rasanya dapat kulihat wajahnya dengan jelas. Wajah tirus sejalan dengan tubuhnya yang kurus. Namun, mata yang terletak di bawah lengkung kerudung itu sangat teduh. Sangat teduh. Anak-anak yang duduk di depannya itu pasti dapat merasakan keteduhan matanya meski mata itu sempat bengkak ketika televisi menyuguhkan gambar-gambar memilukan tentang tanah kelahirannya yang luluh lantak tertimpa gelombang dahsyat. Rasanya wajah teduh itu belum lama meninggalkan tempat ini. Pondokan putri yang kamarnya tujuh buah dan salah satu penghuninya adalah dia. Tak lama mata panasku melahirkan bulir bening di kedua sudutnya. Aku terisak. Lalu menyusul isak yang lain. Satu satu hingga semua terisak. Semua mata melahirkan bulir bening yang kemudian pecah menjadi sungai. Pagi ini kami kembali menangis untuk Zuha.
Hari sudah malam. Koran pagi masih kupegang. Aku berdua dengan Nainy duduk di beranda. Bulan bundar menggantung di langit yang berawan. Sudah beberapa hari ini hujan tak datang menyapa. Mungkin hujan sedang berpuas-puas menjatuhkan diri di beberapa tempat -- yang bukan tempat ini. Lalu datanglah banjir di sana. Agh, betapa kita sedang sangat akrab dengan bencana.
"Dia tampak tegar, Nain," aku berkata. Aduh Zuha, malam ini obrolan kami belum juga beranjak dari kamu.
"Aku bersyukur, Ta. Andai aku jadi dia, pasti aku sudah gila dibuatnya. Bagaimana mungkin bapak yang malamnya masih berbicara di telepon paginya hilang dimakan gelombang," Nainy berkata dengan wajah sayu. Anganku melompat. Dulu, begitu sering aku, Zuha, dan Nainy menikmati malam di beranda. Mungkin karena kami terhitung penghuni paling lama di pondokan ini, maka kami bertiga sudah demikian menyatu sebagai sahabat.
Kami suka memandang rembulan. Terlebih jika ia purnama. Kami ngobrol apa saja. Bahkan suka melantur kemana-mana. Termasuk membicarakan rembulan yang sedang menggantung di langit malam.
"Apakah warna rembulan?" Zuha pernah bertanya.
"Kuning emas!" jawabku yakin dan mantap.
"Kuning agak jingga," sangkal Nainy kalem.
"Menurutku, bulan berwarna merah jambu," ujar Zuha disambut penolakan dari aku dan Nainy.

Bagaimana mungin bulan berwarna merah jambu. Aku menunjuk pohon jambu di seberang jalan yang kebetulan sedang berbuah. Warnanya merah. Dan bulan tak sewarna dengan warna merah buah itu. Namun Zuha justru bersenandung: bulan merah jambu, luruh di kotamu, kuayun sendiri langkah-langkah sepi, menikmati angin, menabuh daun-daun, mencari gambaranmu di waktu lalu, sisi ruang batinku hampa rindukan pagi, tercipta nelangsa, merengkuh sukma.*)
Selanjutnya, berkali-kali kita kita di beranda. Dan tetap saja kau katakan bahwa bulan berwarna merah jambu meski aku dan Nainy selalu menolaknya. Agh, Zuha. Sedang apa kau malam ini? Apakah di sana juga sedang terlihat rembulan? Dan apakah akan kau katakan pada orang-orang bahwa warnanya merah jambu? Bukan kuning emas atau kuning agak jingga?
Wajah teduhmu di koran ini membuat segala kenangan tentangmu bertaburan di udara pondokan. Terutama kenangan hari Minggu pagi itu. Kakiku sakit. Mungkin keseleo waktu bergegas-gegas di tangga pondokan. Maka, pukul lima empat lima kau kendarai motor mengantarku ke gereja untuk ibadah pukul enam. Gereja ramai oleh jemaat sebab aroma natal masih kental. Waktu itu aku tak dapat pulang untuk merayakan natal bersama keluarga. Rumahku juga jauh di pulau seberang sementara kita dalam musim ujian. Kau turunkan aku hingga halaman. Jemaat yang hendak masuk memperhatikan kita seolah melihat alien yang barusan turun dari langit. Ada dua hal yang sangat mungkin membuat kita menjadi pusat perhatian. Pertama, kakiku yang berjalan terpincang-pincang. Kedua, kerudung birumu sebagai sebuah bagian pakaian yang tak lazim dipakai orang di lingkungan gereja (di Indonesia).
Namun, daripada merasa salah tingkah dengan perhatian orang, kau memilih untuk tetap berwajah teduh. Juga tak segera beranjak untuk memastikan aku bisa masuk ke ruang ibadah dengan selamat. Dalam gereja, kupanjatkan syukur untuk bantuan yang terasa tulus kau lakukan. Usai kebaktian, begitu keluar pintu sudah kudapatkan kau siap membawaku pulang kembali ke pondokan. Kita kembali menjadi tumpuan perhatian banyak orang. Tapi kita sambut keheranan itu dengan senyuman yang ringan. Kau starter motor, dan begitu melaju, kerudung birumu melambai melawan angin yang menghembus.
Ah, ya. Pagi itu kau memakai kerudung baru. Kemarin kerudung itu masih terbungkus rapi dalam kertas kado bergambar bunga lili. Aku dan Nainy memberikan padamu untuk ulang tahunmu yang keduapuluh satu. Kami memang memilih untuk memberimu kado kerudung berwarna biru. Sebab kami tahu kau menginginkan benda itu. Dua minggu sebelumnya, kita menjelajah Pasar Klewer mengantar Nainy yang diminta untuk belanja pakaian bayi. Menurut hitungan dokter, kakaknya sebentar lagi akan melahirkan.
Kita usai belanja lantas berusaha keluar melalui lorong-lorong ramai dan sumpek. Lorong-lorong itu kunamai labirin. Sebab ia ruwet sehingga aku tak pernah dapat masuk dan keluar pada celah keluar yang sama. Di depan kios kerudung kita tertahan kuli yang sedang membongkar barang. Kita pun berhenti. Matamu tertuju pada sebuah kerudung yang tersampir sebagai barang dagangan. Kau bertanya pada penjualnya, berapa harganya? Ia menjawab, tujupuluh lima ribu. Ouw, harga yang mahal untuk sebuah kerudung. Namun kerudung biru itu memang halus sebab terjalin dari benang sutera. Matamu berpijar menginginkannya. Hanya, kau tak membelinya sebab dompetmu hanya dompet mahasiswa yang lebih sering tebal karena berjenis-jenis kartu dan bukannya uang. Sama persis, dompetku dan Nainy.
Dua puluh lima Desember kau berulang tahun. Tiga hari sebelum tanggal itu, aku dan Nainy kembali menjelajah Pasar Klewer. Mencari kios yang menjajakan kerudung yang dulu kau suka. Itu bukan perkara mudah. Pasar Klewer bukan mall yang serba teratur dan rapi. Entah kami telah berputar berapa kali sebelum akhirnya dapat menarik nafas lega. Kami menemukannya. Dan nafas kami bertambah lega saat kami bisa menawarnya. Dari harga tujupuluh lima ribu yang ditawarkan, kami bisa membuat pedagang itu melepaskan dengan harga lima puluh ribu saja. Kami berbagi. Aku duapuluh lima ribu, Nainy juga duapuluh lima ribu. Kau senang menerimanya. Bahkan, begitu kau buka bungkusnya, dengan antusias kau langsung memakainya. Hari selanjutnya kerudung itu masih kau pakai, juga untuk mengantarku ke gereja. Minggu pagi itu kau masih tersenyum-senyum senang. Terlebih Sabtu malam, abimu di Meulaboh menelepon mengucapkan selamat ulang tahun. Kau bilang, umimu juga turut bicara dan kau juga dapat mendengar suara adik-adikmu walau sayup-sayup saja. Namun siapa sangka bila itu menjadi suara terakhir yang kau dengar?
Minggu siang menjelang sore. Teve dinyalakan untuk melepas penat habis membaca bahan-bahan ujian. Seketika tawa kita berganti duka. Air laut yang didorong gempa telah meluluh-lantakkan segalanya. Kau menangis namun tetap ada ketabahan pada sedu sedannya. Meski demikian matamu bengkak juga. Dua minggu berikutnya kau memaksa untuk pulang. Katamu, kau akan mencari keluargamu. Kami tak dapat menahan meski kami khawatir sebab di sana pasti penuh ketidakpastian. Sore itu kami antar kau hingga pemberangkatan.
Sebulan lalu datang kabarmu lewat pesan pendek di layar ponselku. Abi dan umimu meninggal. Juga dua adikmu yang kau sayangi. Namun, syukur pada Tuhan masih ada satu adik yang selamat. Kau juga bilang, kau tak mungkin lagi kembali ke kota ini meski jelas kuliahmu belum usai. Sebab, di kota ini kau pasti tak dapat melakukan apa-apa sementara di sana banyak kesedihan yang menanti untuk ditangani. Karena itu, kau bilang, meski sedikit aku akan bertindak.
Dan kau memang melakukannya. Pagi tadi, di koran ini dapat kami lihat wajah teduhmu, dibalut kerudungmu yang berwarna biru. Kau berdiri di depan anak-anak yang juga merasakan kehilangan. Apa yang kau katakan pada mereka, Zuha? Berita di koran tak menuliskannya. Namun pasti kata-kata yang menguatkan sebab kau telah membuktikan jika kau kuat menanggung kesedihan seperti yang mereka punya.
"Tabita, sudah malam... masuk yuk," suara Nainy memutus ingatan yang mengembara ke mana-mana. Kulihat di sudut matanya ada bulir bening seperti tadi pagi. Pasti ia juga larut mengingat Zuha. Kami pun berurut masuk pintu pondokan. Di luar bulan masih menggantung disaput awan. Dulu, kami suka berdebat tentang warnanya.

Bandung, 2005
Untuk Yanti di Nias.

*) Potongan lirik lagu Tak Bisa ke Lain Hati Kla Project.
 (Cerpen Tinar Sidha )
Readmore → CERPEN BULAN MERAH JAMBU

CERPEN DIJEMPUT BIDADARI

0 comments

DIJEMPUT BIDADARI 
Cerpen Lila Fitri Aly 


Dari balik terali besi, berhari-hari Juned menunggu kedatangan Cut Anissa, tetapi wajah sang istri tak muncul-muncul juga. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, Juned masih menunggunya, namun Anissa tak hadir-hadir juga. Juned rindu melihat wajah cantik-anggun yang dibungkus jilbab itu. Pikirannya menerawang, benarkah dia telah tiada?
''Bang Juned, bertawakallah. Tak perlu menunggu istrimu yang telah pergi,'' kata Si Gam Cut, temannya, yang berseberangan sel. ''Gam Cut jangan bilang begitu. Ucapanmu membuatku sengsara. Aku tak mau mendengarnya lagi,'' balas Juned setengah marah. Melihat reaksi sahabatnya yang begitu tajam, Gam Cut menarik diri. Dia tidak ingin memperkeruh suasana.
Sejak Anissa tak pernah muncul ke penjara, semangat hidup Juned meredup. Rambutnya, kumisnya, dan jenggotnya dibiarkan tumbuh berantakan. Hari-hari Juned berdiri termenung di balik pintu penjara, memandang ke arah pintu masuk, mengharapkan sipir memanggilnya, sambil mengatakan bahwa istrinya telah menanti di ruang tunggu.
''Bang, Bang Sipir, adakah seseorang mengunjungiku?'' tanyanya pada sipir penjara di kota Jantho itu.
''Tak ada, Bang. Maaf,'' jawabnya singkat dan tak ramah. Lurus langkahnya, tak melihat kiri kanan.
Biasanya Anissa datang seminggu dua kali, sesuai jadwal kunjungan yang telah disepakati. Ketika datang menemui suaminya, dia tak pernah dengan tangan kosong. Selalu ada makanan enak yang dibuatnya, dan teman-teman Juned pun bisa ikut mencicipinya.
''Aku rindu makanan yang dibuat Anissa,'' ucap Juned pada Gam Cut. Keduanya sama-sama dipenjara, tetapi dengan kasus yang berbeda. Gam Cut lebih terhormat karena dia tahanan politik, sementara Juned tahanan kriminal, akibat korupsi. Karena keterbatasan tempat, mereka dijadikan satu. Di waktu senggang, ketika lagi mengganggur, keduanya saling mencurahkan isi hati. Namun, sepi hati itu tak terobati.
Telah tiga bulan Anissa tak muncul. Juned sering cemburu melihat teman-temanya yang lain dikunjungi keluarganya. Biasanya Anissa selalu datang mengunjunginya, walaupun dia tinggal di Banda Aceh. Karena penjara ini di luar kota, Anissa harus naik bus, labi-labi, ataupun naik motor diantar oleh anak tetangganya. Namun, tak ada keluhan dari bibirnya. Melihat pengorbanan istrinya, dan dosanya pada Anissa, Juned sangat malu dan selalu minta maaf padanya.
''Allah saja memaafkan, kenapa aku tidak, Bang,'' jawabnya singkat. Juned menangis kalau Anissa menjawab demikian. Juned tak habis pikir kenapa dia bisa khilaf, sampai hati menyakiti istrinya, yang telah menemaninya dari masa susah. Keterlibatannya dengan perempuan lain yang menghancurkan mereka. Seringkali Juned bermimpi diberikan kesempatan hidup sekali lagi untuk beberapa saat bersama Anissa. Obesesinya membuatnya sering mengigau siang-malam.
Gam Cut yang ada di depannya sering menasehatinya, ''Bang Juned, sadarlah diri. Kok seperti bukan orang beriman. Setiap makhluk di dunia ini tak luput dari kematian. Hanya kita tidak pernah tahu di bumi mana kita dikuburkan. Begitu juga istrimu dan istriku. Mereka sama-sama telah menghadap Allah, walaupun dengan jalan yang berbeda. Istriku tertembak peluru nyasar dan istrimu diambil tsunami. Kalau sudah tiba waktunya, tak ada yang kuasa menolaknya.''
''Aku yakin dia masih hidup. Paling dia terbawa air dan terdampar di suatu tempat,'' ujar Juned getir.
''Semua orang di kampungmu sudah tahu apa yang terjadi pada istrimu. Cut Anissa telah meninggal. Tidak perlu lagi bermimpi. Lebih baik kita mempelajari Alquran untuk mengisi batin ini,'' Gam Cut kembali mengingatkan sahabatnya. Juned terdiam. Dia tetap berharap istrinya selamat. Tak sanggup mendengar kata-kata Gam Cut, Juned membuka buku coretannya. Di antara lembaran-lembaran lusuh, dia mengambil foto Anissa. Foto kenangan hari pernikahan mereka.
Suatu yang mengejutkan terjadi. Juned dibebaskan lebih awal. Dia banyak mendapat remisi, karena tingkah lakunya yang baik, mau bekerja sama dan menyenangkan. Di satu sisi, teman-temannya ikut bahagia dengan berita ini, tetapi di sisi lain, mereka merasa kehilangan. Juned sendiri ragu untuk melangkah ke luar penjara. Kemanakah dia akan pergi?
Tak ada orang yang menjemputnya ketika dia bebas. Sungguh berat kakinya melangkah. Begitu sampai di terminal, dia segera turun. Langkah-langkahnya terus diayunkan, tanpa tahu harus ke mana. Kalau dalam keadaan begini, Juned berpikir kenapa penjara Jantho tidak dimakan tsunami saja. Bukankah dengan demikian urusannya di dunia jadi selesai? Pikiran Juned bergumul. Adakah yang dulu bisa membayangkan, seorang walikota yang memiliki kedudukan terhormat seperti dirinya, akhirnya menjadi seorang yang papa?
Matanya terus membasah. Di dalam usianya yang ke-53, dia harus menjalani hidup sendiri. Mestinya dia hidup bahagia bersama Anissa dengan harta yang tak berlebihan, walaupun tak punya anak. Tapi, amibisi yang terlalu besar telah menghancurkan dirinya. Padahal ketika itu bisnisnya sudah mapan, dan ia bahagia bersama Anissa. Bisnisnya sebagai kontraktor berjalan lancar, karena banyak mendapat proyek pembangunan jalan, jembatan, dan sekolah dari pemerintah daerah.
Hingga suatu ketika, banyak orang mendorongnya terjun ke politik. Diapun tergiur, dan mencalonkan diri sebagai walikota. Ternyata bermain politik besar ongkosnya. Selain menguras hartanya, dia terlibat utang. Juned memang suka tantangan, dan berani menerima risiko.
Diapun memenangkan pertarungan. Namun pendukung-pendukungnya tidak mau menunggu lama. Mereka menuntutnya untuk segera membayar utang itu. Mereka juga menagih proyek-proyek besar. Itulah awal kehancurannya. Karena uangnya terkuras habis, Juned mulai bermain dengan uang anak negeri. Banyak mark up yang harus dilakukan supaya ada margin besar untuk dibagi-bagi. Seperti biasa, ekonomi biaya tinggi tak dapat dihindarinya. Uang-uang itu dipakai untuk membayar ongkos politiknya yang mahal.
Yang paling fatal adalah dia terlibat kisah asmara dengan seorang artis ibu kota. Dia terkesima dengan kecantikannya, badannya yang sexy dan goyangnya yang aduhai. Awalnya perempuan itu direkrut untuk vote getter-nya. Ternyata berkelanjutan dalam ranah pribadi. Tangisan istri tak digubrisnya. Nasehat dari para tetua tak pernah didengarnya. Kembali uangnya dikuras, kini oleh cem-ceman-nya.
Hingga kemudian korupsi yang dilakukanya mulai terungkap di media massa dan berbuntut ke pengadilan. Untuk sementara jabatannya sebagai walikota harus dilepaskan, diganti oleh wakilnya. Namun, karena kasusnya berkepanjangan, dia harus meletakkan jabatannya. Sejak saat itu si artis ibukota pun menghilang dengan mengeruk banyak uang.
''Cut Anissa sedang menunggu labi-labi ketika tsunami menjemputnya,'' kata saksi mata yang ditemui Juned, di Merduati.
Ketika mayatnya ditemukan, Anissa masih memegang erat rantang berisi makanan yang akan diantarkan untuk suaminya. Pada hari Minggu itu dia memang berjanji mau membuatkan tumis kemamah permintaan suaminya. Cut Anissa, surga untukmu istriku, kata Juned berdoa untuk istrinya di kuburan massal itu. Kesetiaan, dan pengabdian kekasih hatinya itu sungguh luar biasa. Hanya perempuan yang berimanlah yang bisa seperti dia. Sementara dirinya hanyalah mantan narapidana.
''Hey, Bang, kalau jalan jangan ngelamun,'' teriak seorang tukang becak. Rupanya Juned telah berjalan agak ke tengah, dari jalan utama yang cukup padat.
''Oh, oh, maaf,'' jawabnya tergagap, sambil meminggirkan dirinya. Tiba-tiba Juned merasa sangat kelelahan dan tak sanggup menapakkan kakinya. Ia jatuh tak sadarkan diri. Kemudian dia mendengar teriakan-teriakan di sekitarnya. Segala macam suara, begitu riuh rendah, dan dia tak tahu berada di mana.
Di kejauahan, Juned melihat lambaian tangan istrinya dengan baju dan kerudung berwarna putih. Cantiknya Anissa bak seorang bidadari. Dia seperti tersenyum menyambut kedatangannya. Junedpun ikut melayang mengikuti gerakan istrinya.

Readmore → CERPEN DIJEMPUT BIDADARI

Saturday, January 7, 2012

CERPEN BISUL DI KENING PAK USTAD

0 comments

Bisul di Kening Pak Ustaz 
Cerpen Zaenal Radar T 


Sepulang dari syuting sebuah sinetron, ustadz Sobrak merenung di kamarnya. Ustadz memikirkan keningnya yang sudah sebulan menderita bisul. Akibat bisul di keningnya yang sebesar telur puyuh itu, Ustadz Sobrak tak lagi bisa bersujud mencium sajadah dengan benar. Dengan begitu, ustadz Sobrak merasa salatnya tidak sempurna.
"Sujud yang sempurna itu menempelkan kening di atas sajadah. Nah, ane? Udah sebulan ini nggak pernah sujud benar-benar menempelkan kening di atas sajadah," keluh ustadz Sobrak melalui HP kepada Zack, temannya yang jadi sutradara sinetron 'religius'.
"Sabar Ustadz. Ustadz kan pernah bilang, bahwa semua penyakit asalnya dari Tuhan. Dan nggak ada penyakit yang nggak bisa disembuhkan," jawab sang sutradara.
"Tapi Zack, ane bingung. Udah berobat ke mana-mana, tapi nggak sembuh-sembuh juga! Gimana ya Zack. Kayaknya ane perei syuting dulu deh." "Wah, gimana dong!? Usatdz kan udah tanda tangan kontrak?"
"Ane malu, Zack! Bisul ane ini udah nggak bisa ditutupin kopiah lagi! Kagak mungkin kan, ane lepas kopiah terus ngumpetin bisul di depan kamera." Di ujung HP, si sutradara tersenyum simpul, "Ya udah, kalo begitu Ustadz nggak usah ikut syuting dulu. Nanti saya akan lapor ke orang unit, untuk sementara ente diganti sama ustadz yang lain aja."
Akhirnya ustadz Sobrak benar-benar perei syuting. Habis mau bagaimana lagi. Seandainya beliau nekad datang, beliau tidak mungkin bisa menyembunyikan bisulnya di depan orang-orang. Ustadz akan bingung menjawab pertanyaan kru tentang keadaan keningnya yang tertutup rapat, bila ia benar-benar ke lokasi syuting, ustadz Sobrak pun memikirkan kemungkinan pertanyaan yang akan ditujukan padanya,
"Ustadz... kok tumben shalatnya nggak jamaah?"
"Ustadz, biasanya di-make-up sama penata rias, nggak make up sendirian kayak gini?"
"Ustadz, pecinya kok kayak ada batunya?"
Jelas saja ustadz Sobrak merasa risih bila nantinya mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebab, semua orang, selain Zack, si sutradara yang masih sahabatnya itu, memang tidak ada yang tahu bila di balik pecinya tumbuh bisul.

Di rumah, keluarganya juga belum tahu. Ayah dan ibunya, adik-adiknya, tidak tahu bila sang ustadz punya bisul di kening. Tapi sebentar lagi ustadz Sobrak akan berterus terang pada mereka. Itu pun kalau mereka mau bicara padanya. Sebab, sejak ustadz main sinetron berbungkus religius itu, keluarga ustadz agaknya menjauhi dirinya. Mereka mengaku tidak suka pada keputusan ustadz Sobrak turut main sinetron.
Ustadz Sobrak menerima main sinetron karena merasa mendapat panggilan jiwa. Ingin memberikan tontonan alternatif buat pemirsa televisi, yang dianggap cuma bisa menyuguhkan tayangan percintaan remaja dan cerita perebutan harta keluarga. Selain itu, bukankan para ustadz dan kiai terkemuka juga ikut ambil bagian di banyak sinetron bertema religius?
Keluarga ustadz Sobrak tidak mau menerima alasan yang disampaikannya. Menurut mereka, sinetron-sinetron bertema religius di televisi banyak yang menyesatkan. Termasuk yang dimainkan oleh ustadz Sobrak sendiri. Pak Haji Muntaha, orangtua ustadz Sobrak, memberikan contoh sisi buruk beberapa tayangan sinetron yang bertema religius itu,
"Coba, Sob, lu bayangin aja..., mana bisa seseorang yang sudah meninggal dunia bisa menjadi pengantin! Bukankah syarat menikah itu harus ada mempelai? Bukan mayitnya? Dan, mana bisa mayit bisa memberikan anak pada istrinya yang rela menikah dengan suaminya yang mayit itu! Sinetron apaan kayak gitu?!"
"Iya tuh, Beh!" kali ini Safira, adik sang ustadz, ikut berkomentar, "Coba deh bayangin aja. Kiai baca tasbih bisa meledakkan buaya? Orang sakit dipukul daun kelor terus wajahnya keluar bercak-bercak yang katanya susuk! Malaikat digambarkan berambut panjang dan sakti mandraguna!"
"Belum lagi mayat yang mental ke got! Mayat kebakar! Mayat dilangkahi kucing! Orang terjepit kuburan!" ibu ustazd Sobrak ikut komentar. "Itu kan peringatan bagi pemirsa tentang azab Allah, Pak, Bu...," sang ustadz membela diri.
"Apa hak kalian tentang azab! Bukankah soal azab itu urusan Allah? Bukan urusan manusia seperti kita? Dan bukankah Allah maha pengampun lagi maha penyayang?"
"Benar Pak, Bu, tapi...."
"Jangan-jangan kalian juga nantinya akan diazab karena memperlihatkan tontonan yang tidak benar! Yang banyak dibumbui tambahan dari fikiran kalian sendiri!" potong Haji Muntaha, sambil menghela nafas berat.
Ketika itu ustadz Sobrak menunduk. Tetapi bukan berarti ia berhenti ikut ambil bagian dalam sinetron yang sudah ia tandatangani kontraknya.

Mengingat semua itu, ustadz Sobrak mulai merasa khawatir soal bisul di keningnya. Mau mengaku pada keluarga, takut disangka mendapat azab Tuhan. Tidak mengadu, ia hanya bisa mengurung di kamarnya, karena malu memperlihatkan 'telur puyuhnya'.
"Kamu kok nggak shalat jamaah di masjid lagi, Sob?" disuatu waktu sang ibu bertanya pada ustadz Sobrak.
"Lagi nggak enak badan, Bu."
"Kenapa kamu nggak ke dokter?"
"Sudah. Tapi belum sembuh."
"Kamu sakit apa? Itu kening kamu kok dibungkus begitu?" ibu sang ustadz mendesak.
Ustadz Sobrak kebingungan. Apakah ia harus berbohong pada sang ibu? Lalu Ustadz membuka keningnya. Maka terlihatlah bisul itu! Ibu sang ustadz melongo.

Keluarga Ustadz Sobrak menjadi gempar setelah tahu bisul itu. Mereka menduga ustadz Sobrak mendapat azab Tuhan. Mereka menyarankan sang ustadz bertaubat. Berhenti bermain sinetron yang penuh kuburan itu. Dan beberapa pekan kemudian, ketika ustadz Sobrak tidak berangkat syuting, bisul dikeningnya kempis. Lenyap tak berbekas!
Keluarga ustadz Sobrak tentu saja senang.
"Alhamdulillah. Mungkin Allah mendengar doa-doa kita!" ujar Haji Muntaha dengan wajah berkaca-kaca.
"Tapi, Beh, ane masih punya hutang kontrak sama rumah produksi enam episod lagi. Ane diminta main lagi."
"Ente mau syuting lagi?"
"Seenggak-enggaknya sampai kontraknya habis, Beh."
Anggota keluarga lain cuma bisa menghela nafas berat mendengar pengakuan ustadz Sobrak.

Setelah syuting satu episode berikutnya, ternyata ustadz Sobrak mengundurkan diri dari sinetron yang kontraknya sudah ditandatangani itu. Produser dan sutradaranya resah. Mereka bingung pada keputusan ustadz Sobrak.
Namun, pada akhirnya, Zack, sutradara yang masih sahabatnya ustadz Sobrak, mau mengerti pada keputusan tersebut. Sebab, Zack sudah mendapat penjelasan langsung dari sang ustadz.
"Saya sudah mendengar keluhan ustadz Sobrak yang sesungguhnya, Pak," ujar Zack, pada sang produser yang tengah pusing.
"I nggak mau tau, Zack! Kalo ustadz Sobrak nggak mau main lagi, susah cari gantinya! You tahu sendirilah, gara-gara diganti pemain lain, rating sinetron kita merosot terus! Selain itu, ustadz Sobrak kan pintar improvisasi. Bahkan dia bisa menambah-nambah cerita dari cerita asli. Nah, sekarang, kalo dia mengundurkan diri, kita akan kerepotan. Belum lagi masalah kita soal bahan cerita. Kita sudah kehabisan stock cerita. Semua azab kubur sudah kita ambil. Semua azab durhaka kita sudah take. Sampai-sampai orang yang durhaka terhadap kucing, anjing.... Bagaimana dong, Zack?" "Tenang Pak Produser. Nanti saya akan usahain bujuk ustadz Sobrak. Tapi masalahnya, ustadz Sobrak sedang sakit."
"Sakit? Kan tempo hari you bilang udah sembuh. Sakit apa sih dia sekarang?"

"Biasa, Pak. Bisul."
Produser tersentak. Baru kemarin sore produser mendengar dari Zack bila kening ustadz Sobrak pernah bisulan. Dan sekarang?
"Bisul? Bukannya you bilang tempo hari ustadz sembuh dari bisulan?"
"Itu yang dikening, Pak. Sekarang yang dilutut! Bisulnya pindah ke lutut!"
"Ha ha ha!" tiba-tiba Pak Produser tertawa terbahak-bahak. Sang sutradara kebingungan.

"Kok, Bapak malah ketawa?"
"Ha ha ha! Tulis itu! Tulis! Kita bikin ceritanya. Ini kisah nyata! Benar-benar nyata! Dan jangan ditambah-tambah atau dikurangi!"
"Maksud Bapak?"
"Suruh penulis skenario bikin cerita tentang bisul di lutut Pak Ustadz!"
"Pak...!?" Zack bingung.
"Ayo cepat! Kita kan harus syuting besok!"
Sutradara hanya garuk-garuk kepala. Lalu ia menghubungi penulis skenario. Tapi ia salah pencet. Telponnya nyasar ke HP Ustadz Sobrak. Pada akhirnya sutradara terlanjur mengobrol dengan ustadz Sobrak. Ustadz mengeluh tentang bisulnya yang semakin parah. Sutaradara tersenyum dan bersorak dalam hati mendengar cerita ustadz Sobrak. Karena, dengan begitu, bahan cerita sinetronnya nanti akan terus bertambah!

Pamulang, 07 Desember 2005
( )
Readmore → CERPEN BISUL DI KENING PAK USTAD

CERPEN AZAN SEPI ENGKONG ALI

0 comments

AZAN SEPI ENGKONG ALI 
Cerpen Pudji Isdriani K


Hidup di ibu kota, tepatnya kota metropolitan seperti Jakarta, sungguh berbeda dengan di desa. Suraji sangat merasakannya begitu dia menginjakkan kaki di Jakarta, kota yang selama dua puluh tahun hanya dilihatnya lewat layar kaca.
Sebenarnya Suraji lebih senang tinggal di kampung. Dia bisa mengurus sawah, kebun dan ternak bebeknya daripada harus ke kota. Namun, ibunya memaksa dia ke Jakarta dan Suraji tak bisa menolak.
''Le kamu harus berangkat ke Jakarta. Ini kesempatan bagus, mumpung ada yang menawari pekerjaan. Terima saja ndak usah mikir njlimet yo.''
''Tapi aku ndak biasa hidup di kota besar, Mak. Nanti bagaimana? Sejak kecil aku kan biasa hidup di lingkungan pedesaan. Meskipun tamat SMA tapi aku gak pengin jadi orang kota."
''Wis, pokoknya kamu harus berangkat. Apa kamu tega menolak permintaan Kang Mansur yang begitu mengharapkan kesediaanmu."
Didesak oleh emaknya, Suraji tak berkutik. Bagaimanapun juga dia memang merasa berhutang budi sama Mansur. Tamat SMP, Suraji tidak punya uang untuk melanjutkan ke SMA. Padahal dia sangat ingin sekolah di SMA. Saat itulah keluarga Mansur membantu, biaya sekolah di SMA menjadi tanggungan keluarga sepupunya itu.
Dengan berbekal baju seadanya Suraji berangkat ke Jakarta, naik kereta ekonomi. Dari Surabaya malam sampai Jakarta siang pada hari berikutnya. Dengan susah payah dan bertanya kanan kiri sampailah Suraji di rumah Mansur. Rumah yang berlokasi di bilangan Tebet Jakarta Selatan itu sungguh besar dan mewah.
Hingga pukul 02.00 Suraji baru bisa tidur. Pagi-pagi dia sudah bangun karena pembantu rumah tangga mengetuk pintu kamarnya. Mansur sudah menunggunya untuk makan pagi.
''Kamu segera sarapan dan ikut saya."
''Baik, Mas.''
Mata Suraji beredar mengelilingi meja makan, dia tidak menemukan nasi. Yang ada di atas meja makan adalah roti tawar, selai kacang, mentega, coklat tabur dan susu. Melihat Mansur makan roti dengan mentega dan coklat tabur, Suraji menirunya.
Selesai sarapan Mansur mengajak Suraji ke kantornya. Di dalam mobil, Suraji kedinginan. Meskipun sudah bersedekap, dinginnya AC mobil mewah milik Mansur serasa menusuk sumsumnya.
Selama dalam perjalanan mata Suraji tak berkedip. Suasana kota metropolitan sungguh seperti bumi dan langit jika dibandingkan dengan desanya. Suraji merasa asing.
Sampai di kantor Mansur, Suaraji langsung mendapat tugas. ''Ji, kamu nanti ikut Nardi ke toko. Tugas kamu menggantikan Wawan yang sedang cuti selama sebulan karena ibunya sakit di kampung.''
''Apa yang harus saya lakukan, Mas?''
''Kamu nanti akan diberitahu oleh Kelik apa saja pekerjaanmu. Pokoknya gampang, daripada di proyek rasanya kamu kurang cocok.''
''Baik, saya siap kok membantu Mas.''
Dengan diantar Nardi, Suraji menuju ke lokasi toko yang terletak di Pasar Senen. Ternyata dia menjadi penanggung jawab toko. Toko tersebut menjual Alat Tulis Kantor, buku-buku umum, buku pelajaran, buku fiksi, jasa fotokopi dan laminating. Karena letaknya strategis, toko tersebut ramai dikunjungi orang. Jadi, meskipun judulnya sebagai penanggung jawab, Suraji ikut cancut taliwondo alias menyingsingkan lengan baju membantu dua orang pegawai toko yang sibuk melayani pembeli.
Meskipun di Pasar Senen banyak toko buku dan alat tulis kantor (ATK), namun Toko Sejahtera milik Mansur laris manis dan selalu ramai pengunjung seperti sarang tawon yang banyak madunya.
Seharian Suraji tenggelam dalam kesibukan barunya. Dia lupa desanya, lupa bebek-bebeknya, juga lupa Sunarsih gadis tetangga yang sedang diincarnya. Setelah itu Suraji bertambah tekun saja bekerja. Bahkan, satu minggu kemudian dia sudah berani kulakan alat tulis kantor, disket, kalkulator dan alat olah raga di Pasar Pagi.
Tanpa terasa sudah satu tahun Suraji bekerja di Jakarta. Toko Sejahtera bertambah maju dan besar bahkan sekarang menjadi distributor buku-buku pelajaran. Suraji menggantikan Wawan yang pindah karena malu. Dia merasa kalah bersaing dengan Suraji yang rajin dan ulet.
Malam itu Suraji leyeh-leyeh, bersantai, di tempat tidurnya yang empuk. Ketika itulah dia mendengar suara azan. Ya, sudah lama dia tidak menjalankan shalat lima waktu dengan tertib. Ada saja yang bolong.
Suara azan itu bergetar dan bergelombang. Waktu itu Suraji pernah mendatangi masjid sumber suara azan itu, dan ternyata yang melantunkan azan adalah laki-laki tua yang berusia 80 tahun. Meskipun suaranya sudah tidak merdu lagi, namun kakek tua itu masih bersemangat mengajak orang lain untuk beribadah. Kakek itu bernama Engkong Ali. Suraji hanya dua kali ke mushala, Suraji sibuk dengan pekerjaan.
''Orang Jakarta itu hanya memikirkan kerja. Coba saja kamu lihat, mushala ini terletak di daerah yang padat penduduknya. Tetapi, yang datang ke sini paling-paling tiga atau lima orang. Itu pun hanya engkong dan anak cucu engkong.'' ''Menurut agama, kerja juga ibadah, Kong. Kalau tidak bekerja mau makan apa?''
''Ya, engkong juga bekerja. Tiap hari jualan soto mie dari pagi sampai sore. Tapi, shalat lima waktu tetap jalan. Khusus hari Jumat engkong tidak jualan, namun engkong gunakan untuk shalat Jumat dan pengajian. Toh engkong tetap hidup sampai sekarang, makan dan pakaian cukup. Apalagi, Tong?''
Saat itu Suraji hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasa bahwa orang hidup itu memang harus bekerja keras. Mansur sukses menjadi pengusaha, karena bekerja keras. Suraji ingin mengail ilmu Mansur. Sukses orang lain pantas ditiru dan dipelajari. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Begitulah pikiran Suraji.
''Engkong sudah merasa cukup dengan menjadi penjual soto mie dan hidup seperti ini. Tapi, Kong, saya ini orang desa. Hidup saya pas-pasan. Saya ingin hidup lebih baik dari sebelumnya. Apakah salah kalau sekarang saya bekerja keras untuk mencapainya.''
''Tidak, anak muda. Selagi kamu masih muda bekerjalah sekuat tenaga. Tetapi manusia hidup itu bukan untuk saat ini saja. Masih panjang jalan yang akan kamu tempuh. Jadi jangan kamu habiskan tenagamu untuk saat ini saja. Engkong bukan orang pandai tapi engkong hidup lebih lama dari kamu. Jadi pengalaman hidup itulah yang menjadi kelebihanku.''
Obrolan dengan engkong Ali tak terlalu dipikirkan Suraji. Laki-laki muda itu tidak peduli. Niatnya sudah bulat, tidak mau pulang kampung sebelum menjadi orang.
Begitulah, sehari lima kali engkong Ali tetap mengumandangkan azan di mushala. Dia tidak pernah patah semangat meskipun penduduk di sekitarnya tidak ada yang shalat di mushalanya.
Suraji terus bekerja. Setiap hari berangkat pagi-pagi dan pulang malam. Dia mencari kiat-kiat supaya tokonya berkembang besar dan banyak pelanggan. Menjadi saudagar harus banyak akal. Mulai dari menambah barang dagangan sampai dengan memberikan diskon harga, hadiah bagi pembelian jumlah besar, mengantar pesanan ATK ke kantor-kantor, bekerja sama dengan sekolah, dan sebagainya. Otaknya terus diputar dan melakukan inovasi. Mansur sangat puas dengan pekerjaan sepupunya itu.
Suraji sama sekali tidak pernah lagi ke mushala. Hingga pada hari itu, pukul 04.15 dia terbangun. Tak lama kemudian terdengar suara azan engkong Ali yang didahului batuk. Seperti biasa, azan engkong Ali bergetar dan bergelombang. Suraji menarik selimutnya, mau tidur lagi.
Tiba-tiba azan engkong terhenti, Suraji menunggu. Engkong azan lagi, namun suaranya serak dan tambah bergetar, ''Hayya alah sholah...,'' lantas berhenti. Kali ini barangkali mikrofonnya mati, batin Suraji. Namun, setelah ditunggu agak lama Engkong Ali tidak melanjutkan azannya lagi.
Seperti ada yang mendorong, Suraji menuju ke mushala. Matanya langsung tertuju pada sesosok tubuh renta yang terlentang dekat mikrofon. Suraji mendekat dan berusaha tahu keadaan engkong Ali. Ternyata, laki-laki tua itu masih sadar namun nafasnya tersengal-sengal.
''Anak muda, lanjutkan azan Subuh yang belum selesai....'' Suara Engkong Ali serak, dengan tatapan mata berharap.
Meskipun masih bingung dan mencemaskan keadaan Engkong Ali, Suraji melanjutkan azan yang terputus. Selesai azan, dia kembali melihat keadaan Engkong Ali. Nafas kakek itu masih tersengal-sengal, namun dia tersenyum. Wajahnya tampak puas.
''Terima kasih, anak muda. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ada pemuda yang mau azan di mushala ini. Rupanya Allah SWT mengutus kamu untuk mengantikan aku yang renta ini....''
Dua hari setelah kejadian di mushala tua itu, Engkong Ali meninggal. Entah kenapa Suraji merasa sedih. Dia selalu terbayang saat Subuh datang ke mushala dan mendapati Engkong Ali dalam keadaan menyedihkan. Haruskah ia mengabulkan permintaan Engkong Ali? Ah, Suraji bimbang.
( )
Readmore → CERPEN AZAN SEPI ENGKONG ALI

ALINA

0 comments

ALINA 

Adalah Puisi Perjalanan Kubur Sutardji Calzoum Bachri berawal kisah ini.

Untuk kuburmu Alina
aku menggali-gali dalam diri
raja dalam darah mengaliri sungai-sungai mengibarkan bendera hitam
menyeka matahari membujuk bulan
teguk tangismu Alina

Alina! Alina! Alina! Siapakah Alina? Yang menggurat gairah, mengunyah sejarah, getarkan tampuk semesta; adakah Alina? Alina di kesementaraan angan menuju keabadian kenangan -- yang entah di mana akhirnya dan entah bagaimana jasad nisbinya. Alina yang punya sejuta cinta dan sekeranjang dosa umat manusia tengah meronta-ronta di liang kuburnya yang tua. Alina yang rahasia, yang berwujud kita, berwujud budaya, berwujud apa saja; tengah menjalani siksa. Siksa Alina!
"Jangan! Jangan ingkari Alina. Jangan sakiti Alina. Jangan dipolitisir Alina. Jangan agung-agungkan Alina. Jangan adakan dan tiadakan Alina. Jangan apa-apakan Alina. Jangan apa-apakan Alina! Biarkan Alina tetap Alina!" lengking saya dalam keadaan luruh yang meluruhkan kesenduan pagi berkabut di sebuah perkampungan kumuh, di pinggiran kota saya yang tertuduh.
Ya, kota saya merasa tertuduh telah merampas, membantai dan memperkosa Alina. Kota saya merasa tersingkir, dileceh-lecehkan, diludahi dan ditelanjangi. Kota saya gelagapan dan gemetar dalam amarah diamnya yang mendidih. Kota saya melambai-lambai, menggapai-gapai dan tidak mau tenggelam. Kota saya patah. Kota saya gerah. Wajahnya berlumur darah. Darah-darah yang melimpah. Darah-darah yang beriak-riak, berombak-ombak, bergulung-gulung melintasi samudera hati diri-hati diri, hingga akhirnya terhempas di pantai liang kubur Alina. Oh, kota saya yang berantakan!
Dan, ketika liang kubur Alina mulai mereguk genangan darah demi genangan darah yang memang bermuara ke sana, kesenduan pagi segera menyusut untuk segera terbang ke alam panas. Pagi tiba-tiba membara. Pagi-pagi dalam prahara. Pagi-pagi dalam huru-hara. Pagi-pagi jadi sangat berbahaya. Di persimpangan-persimpangan, di pusat-pusat perbelanjaan, di salon-salon kecantikan, di emperan-emperan kaki lima, di lorong-lorong sempit, di depan kantor-kantor pemerintah dan swasta, di halaman-halaman sekolah, di pinggir kali, di pasar ikan, di pasar sayur, di pasar-pasar lelang umur manusia, orang-orang ternganga sambil menatap pilu ke ufuk liang kubur Alina. Mereka bertanya-tanya apa tanda ini semua? Apa makna ini semua?
Dengan hati berdebar-debar mereka segera membentuk barisan. Tanpa aba-aba mereka segera bergerak. Derap langkah menggemuruh, membungkamkan diam mereka yang resah. Pagi terasa semakin panas! Parade mereka -- penduduk kota saya -- semakin mantap berderap, semakin cepat bergerak. Peluh mulai bercucuran. Amarah mulai terpancar dari muka mereka. Ada yang merasa tersayat pedih. Ada yang merasa teriris perih. Tetapi mereka semua berusaha diam, berusaha membungkam rasa, membungkus luka, menyeret damba, menggapai semesta. Dan semua menuju ke saya. Mereka menuju ke saya!
Saya terbeliak-beliak menyaksikan kerumunan orang yang begitu banyak. Besar-kecil, tua-muda, lelaki dan wanita berdesak-desak mengerumuni saya. Mereka semua menikam saya dengan pandangan matanya yang dingin, sinis dan mengerikan. Ribuan mulut dikancip-kancipkan. Ribuan tangan diancung-ancungkan. Ribuan kepala ditengadahkan. Ribuan dada ditepuk-tepuk. Ribuan kenangan dirobek-robek, diremas-remas kemudian dicampakkan ke muka saya. Mereka marah! Dan marahnya ditujukan kepada saya! Mengapa harus ke saya? Mengapa saya?
"Kau!" tuding seorang nenek dengan beringasnya.
"Kembalikan aku! Kembalikan kau!" jerit histeris seorang cukong bertubuh jangkung.
"Bantai saja kau! Sikat semua kau! Tunggu apa lagi kau!" terisak-isak seorang bocah bergumam.
Kemudian semua bergumam-gumam, semua berbisik-bisik, semua mengerang-ngerang dan semua mengerat-ngerat keberadaan saya. Saya terpelanting kesana-kemari dalam keterkejutan yang patah-patah. Saya gerah, kecut dan lunglai. Saya terabaikan. Saya merasa digorok-gorok, dicincang dan diiris tipis-tipis. Habis! Habislah saya! Tapi saya tidak tahu apakah saya yang kehabisan ataukah saya yang dihabiskan.

Yang jelas saya jadi sangat merana, menderita, terlunta-lunta akibat malapetaka Alina. Alina? Mengapa saya terhina karena Alina? Begitu tegakah Alina? Mengapa saya ternoda karena Alina? Begitu berkuasakah Alina? Pasrahkah saya demi Alina? Oh, ini bencana apa? Ini bencana apa?
"Keterlaluan sekali! Saya tidak mau diperlakukan seperti ini. Saya benci! Saya tak mau mati dalam sekarat seperti ini. Kasihan Alina bukan berarti kasihanilah saya. Alina tetap Alina! Saya bukan Alina! Biarkan saya tetap saya. Saya tak tahan lagi, saya tak rela jika diganyang seperti ini. Biarkan saya kembali kepada saya. Biarkan saya...," ratap saya dengan terhiba-hiba.
Udara mendadak gemetar. Daun-daun, batu-batu, dinding-dinding, tiang-tiang listrik, jembatan-jembatan, perasaan-perasaan, kekecewaan-kekecewaan, kebohongan-kebohongan, nista-nista, ambisi-ambisi, persepsi-persepsi, kolusi-kolusi, imaji-imaji, bergetar-getar. Semua bergetar-getar. Begitu asingnya suasana ini tercipta. Saya sedang diperdaya! Saya sedang diperdaya!
Suatu ketika seraup hawa panas menyebar, menampar muka-muka penduduk kota saya yang tercengang-cengang; pilu dalam tanda tanyanya masing-masing. Namun mereka tetap saja menikam saya dengan ketercengangannya dan tanda tanya yang menggelegak di benaknya. Mereka jadi sangat buas dan beringas dalam katup gamangnya yang sukar diterjemahkan. Mereka sepertinya bukan lagi mereka!
"Oh, Alina..., mengapa mereka menghimpit-himpit saya dengan bala bencana seperti ini? Apa salah saya, Alina? Tolonglah saya, Alina! Ah, tetapi tidak! Tidak! Saya tak perlu dikasihani. Saya bukan jenis manusia banci. Lupakan saja saya. Biarkan saya tetap saya. Acuhkanlah saya supaya saya segera merdeka. Ya, merdeka!"
Tetapi semua jadi percuma. Saya merasa tersia-sia tanpa jiwa, tanpa rasa, tanpa apa-apa. Saya jadi ringan polos-telanjang, melayang-layang dan membentur ruang batas yang tak berbatas. Kemudian perlahan-lahan saya meluncur, meraup baying-bayang dan sisa angan-angan yang menyekat di ubun-ubun penduduk kota saya. Penduduk kota saya semakin terperangah dan terus saja marah-marah. Mereka blingsatan kesana-kemari, sibuk dalam mencari-cari.
Agaknya penduduk kota saya telah kehilangan sesuatu yang entah apa, yang pernah jadi miliknya, yang paling dicintainya. Mereka semakin sibuk mencari-cari, menyusup ke riol-riol, mengais-ngais bak sampah, membongkar-bongkar arsip negara, mengaduk-aduk gudang beras, gudang tepung, gudang hati, gudang mimpi, gudang sepi, memilah-milah sejarah, mengobrak-abrik gairah, melesat ke semesta! Mereka terus mencari-cari. Mereka larut dalam pencariannya sendiri-sendiri.
Meresapi makna malapetaka ini saya jadi sakit sekali. Mengapa semua harus berakhir seperti ini? Adakah ini dendam Alina? Adakah ini kutuk Alina? Mengapa semua harus merasakan siksa? Siksa! Oh, terlalu purba makna yang tersirat dari siksa yang tersiksa dirimu Alina. Alina, adakah engkau rindu? Mungkin kami yang tertipu!
Sebuah kekuatan menyerap tubuh saya mendekati liang kubur Alina. Saya terkesiap dan segera bergerak-gerak, menghentak-hentak untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuatan laknat ini. Seluruh kekuatan saya kerahkan. Sebuah kehormatan saya pertaruhkan. Tetapi semua jadi sia-sia. Saya harus mengaku kalah. Tubuh saya semakin lemah. Saya merasakan lelah. Oh, mengapa harus ada kekalahan?
Udara semakin membara. Pagi kehilangan rupa. Angin merah menderu-deru menciptakan suasana neraka. Kata-kata mengalir begitu cepat dan tersaruk-saruk dalam perjalanannya yang mendidih, menggelegak, berbuncah-buncah, meleleh di dinding-dinding kusut kota saya. Jalan-jalan protokol dan lorong-lorong dingin terlipat-lipat. Pepohonan menguap. Taman kota membusuk. Wajah kota saya terkelupas dan bopeng-bopeng. Kota saya terluka! Kota saya terluka!
Sedikit demi sedikit tubuh saya digiring ke tepi liang kubur Alina untuk dibenam di sana . Saya mencoba untuk berbuat, tetapi tidak tahu harus berbuat apa karena saya sudah dicekam untuk tidak berbuat apa-apa. Saya relakan saja jika ini memang akhir yang harus saya terima. Perlahan-lahan tubuh saya mulai dibenamkan ke liang kubur Alina. Saya juga tidak tahu harus bersedih atau bersuka ria. Saya diam saja, menerima apa adanya. Tubuh saya semakin terbenam, semakin tenggelam dalam liang merah membara milikmu Alina! Milikmu Alina!
Lambaian terakhir sempat saya ancungkan, sebagai ucapan selamat tinggal kepada seluruh penduduk kota saya yang semakin sibuk mencari-cari. Saya tidak tahu apa yang mereka cari. Adakah mereka mencarimu, Alina? Oh, Alina, terimalah saya seutuhnya. Seutuhnya di keabadianmu, Alina!
Sekali mata saya terbeliak. Kemudian perlahan menjadi sendu, sayu dan terasa begitu syahdu.
Udara kian membara.
Tapi, dimanakah Alina?! Dimana Alina?!

.... Saya dibohongi lagi! Saya dibohongi lagi! (Cerpen Saiful Bahri )
Readmore → ALINA

CERPEN AKU DATANG BERSAMA LAUTAN

0 comments

Aku Datang Bersama Lautan 
Cerpen Firman Venayaksa 


Sambil mendengar lengking burung kematian, aku berdiam di altar langit, bersiap melanjutkan kembali pekerjaanku. Mataku terus saja menyapu tiap adegan yang dipertontonkan Allah; sukma-sukma yang meronta, nafas yang terkubur lumpur, muka yang jengah, mata yang terbelalak, penuh dengan sobekan-sobekan kejadian, seakan tak sanggup menampung kecemasan tentang lautan yang tak lagi ramah. Marah! Kemudian aku melayang-layang di tengah himpitan ketakutan mereka dan aku mengintip sepasang lelaki dan perempuan sedang sibuk dengan kalimat-kalimat.
"Inong, mana Inong, Tengku? Agam, mana Agam, Tengku? Jangan biarkan mereka berdiri di tepi lautan lagi. Jangan biarkan mereka terus berkelakar di tepi lautan lagi, Tengku."
Seorang lelaki yang dipanggil Tengku tak mau menatap istrinya lagi. Ia tak kuasa. Ia terus bertasbih mengarah kiblat. Komat-kamit doa ia layangkan kepada Allah. Aku sendiri melihat panah doa itu melesat ke arah langit, namun terbentur sesuatu, dan panah doa itu tak lagi punya sayap, kembali ke tanah, berakhir menjadi abu.
"Tengku, ayo cepat bediri, kita tak punya lagi waktu untuk diam. Orang-orang sudah berlari ke tenda-tenda pengungsian. Orang-orang sudah meninggalkan kita. Oh Agam, oh Inong, di manakah kalian berada? Sudah lenyapkah diterkam lautan atau kalian telah selamat, pergi ke tempat-tempat pengungsian bersama mereka? Apakah kalian membawa pakaian, mi instan dan buku-buku pelajaran? Di tenda pengungsian itu kalian harus tetap sekolah agar menjadi orang berilmu. Inong, boneka kesayanganmu masih di sini. Sudah berlumur lumpur, tapi masih lucu seperti katamu. Inong, ibu akan membawakan boneka ini untukmu, sayang."
"Agam, pistol-pistolanmu juga masih di sini. Ah, ibu masih ingat kalau besar nanti cita-citamu ingin menjadi tentara kan? Cita-citamu itu akan terwujud anakku dan engkau akan membasmi tiap penjahat, persis seperti katamu. Ibu akan membawakan juga untukmu, semoga kita bertemu dengan segera. Tengku, ayo Tengku. Cepat beranjak dari tempat ini. Sebentar lagi lautan akan datang kembali dan kita akan dimangsa dengan segera. Ayo!"
Perempuan itu menjamah tangan Tengku dan menarik-nariknya. Namun lelaki itu tetap saja tak mau memalingkan muka. Ia tetap bertasbih. Cucuran air mata lembut mulai menganak sungai di pipinya. Airmatanya memang tidak ganas seperti lautan yang marah, yang mereka lihat sebelumnya, tapi air mata itu telah membuatku lupa akan tugas yang seharusnya kukerjakan. Airmata itu telah menenggelamkan niatku untuk mengajaknya ke negeri akhirat.
"Tengku, segeralah beranjak dari tempat dudukmu. Sudah waktunya kita berlari. Dengar, aku mendengar kembali kegaduhan di sana. Orang-orang menjerit histeris. Derap langkahnya aku dengar, Tengku. Bukankah kau mendengarnya pula? Mereka sedang dimangsa lautan dan kita pun harus segera menjauh dari tempat ini. Bila tidak, kita akan sama seperti orang-orang yang mendahului kita. Aku tak mau mati hari ini, Tengku. Tapi aku juga tak mau meninggalkanmu. Jadi, marilah kita sama-sama melangkahkan kaki."
"Kita cari Inong dan Agam. Aku tak mau mereka menangis, aku tak kuasa mendengar mereka merintih mencari-cari kita. Mainan mereka sudah ada dipangkuanku, waktunya untuk memberikan boneka dan pistol-pistolan. Mereka akan terhibur dengan mainan ini, Tengku. Segeralah beranjak dari tempat ini. Lekas. Apa sebenarnya yang kau tunggu? Lautan itu? Oh, tidak. Engkau menunggu lautan itu rupanya. Aku tak mau menunggu lautan. Aku tak mau berperang dengan lautan. Kita akan mati mengenaskan. Lautan terlalu gagah untuk dikalahkan. Lautan terlampau bengis untuk ditaklukan."
"Aku tak menunggu lautan, Cut Nyak." Akhirnya suara lelaki itu pun mulai terdengar kendati terbata. Aku tetap khusyuk mengintip obrolan mereka, benar-benar lupa dengan pekerjaanku.
"Lantas jika tak menunggu apa-apa, mengapa engkau masih termenung di tempat ini. Aku tahu engkau meminta pertolongan Allah, tapi bukankah kita bisa bertasbih di tempat lain, di tempat yang aman?"
"Nyut Nyak, bertasbih tidak mengenal tempat dan waktu. Lagi pula, di manakah tempat yang aman itu? Di tempat aman mana yang engkau maksud, istriku? Di tenda-tenda pengungsian itu? Di sana aku rasa dia tak mau datang, terlalu banyak orang, terlalu banyak suara-suara. Lagi pula aku tidak merasa terancam. Takdir tak pernah membuatku terancam. Takdirlah yang membuat hidup kita menjadi aman, Cut Nyak."
"Apa maksudmu, Tengku? Jadi engkau menunggu seseorang? Siapa? Gubernur? Mentri-mentri? Presiden? Siapa Tengku? Jelaskan kepadaku dengan segera. Kau dengar, kini derap langkah orang-orang tak lagi bersuara, sudah sirna. Suara-suaranya digantikan dengan debur lautan yang pernah kita dengar sebelumnya, yang memisahkan kita dengan Inong dan Agam. Oh, Tengku, suara lautan yang samar-samar itu mulai merambat di telingaku, di telingamu juga kan? Tengku, mari kita pergi dari tempat ini. Suara kematian sudah mulai memburu kita. Deburan keras itu siap mengancam jiwa kita. Aku tak mau mati di sini, Tengku. Inong dan Agam masih membutuhkan kita. Boneka dan pistol-pistolan belum sempat aku berikan."
"Dia akan datang bersama lautan. Aku sudah merasakannya, Cut Nyak. Tunjukkan wajahmu, tunjukkan wajahmu."
"Siapa yang akan datang bersama lautan, Tengku? Hanya, hanya malaikat kematian yang datang bersama lautan. Hanya dia yang akan menemani lautan. Mengangkat ruh kita menuju semesta akhirat."
"Betul Cut Nyak. Malaikat maut yang aku tunggu."
"Apa? Jadi engkau ingin mati, Tengku? Kau ingin kita mati? Tidak, Tengku. Jangan lakukan itu. Ayo kita pergi. Aku tidak mau bertemu dengan malaikat kematian, aku ingin selamat. Masih ada Inong dan Agam yang harus kita rawat, masih ada harapan yang menunggu kita di masa depan. "Masa depanku sudah berada di hadapanku. Tak berapa lama lagi aku akan bertemu dengan lautan, berjumpa dengan malaikat maut. Keselamatanku berada di tangannya."

"Ya Allah, air sudah mulai nampak. Lihat, Tengku. Lautan itu begitu ganas dan aku tak bisa berdiam di tempat ini. Lupakan malaikat maut. Mari pergi bersamaku. Kita cari Inong dan Agam."
Perempuan itu mencoba untuk menarik tangan Tengku berkali-kali. Akhirnya Tengku berdiri, kemudian memeluk istrinya dengan lembut dan mencium keningnya berkali-kali. Wajahnya nampak berseri. Senyum hangatnya membuat Cut Nyak merasa aneh. Lalu akupun menampakan diri dari persembunyianku. Tengku menundukan wajahnya penuh rasa takzim, sementara Cut Nyak menantang dengan sorotan matanya yang tajam dan penuh pertanyaan-pertanyaan.
"Assalamualaikum," sapa Tengku.
"Waalaikum salam," jawabku lirih.
"Jadi engkau yang bernama malaikat kematian?"
Nada suara Cut Nyak yang tercekik membuatku terhenyak.
"Aku ingin membawa suamimu ke negeri akhirat."
"Tidak!"
"Cut Nyak!" hardik Tengku.
Cut Nyak kini berada di depanku dengan sorot mata menantang. "Wahai malaikat maut, jangan engkau renggut suamiku. Betapa aku begitu menyayanginya. Aku tak tahu lagi apakah aku masih bisa hidup tanpa suamiku. Tidak. Aku tak mungkin bisa hidup tanpa suamiku. Jadi bawalah aku serta bersamanya. Pergi ke negeri akhirat."
"Aku tak bisa berdamai dengan takdir. Aku hanya menjalankan tugas," jawabku.

Tengku mencoba untuk memegang bahu Cut Nyak yang mulai menggigil menahan tangis, namun tangannya ia tepis. Kini air mata itu pun mengalir dan Cut Nyak menangis sejadi-jadinya.
Setiap kali aku menjalankan tugas, aku selalu diiringi tangis. Tangisan-tangisan itu sudah biasa aku lihat dan kerap kali memohon agar menunda pekerjaanku, tapi sekali lagi, aku tak bisa berdamai dengan takdir. Takdir adalah hukum yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugasku, pun ini kali.
"Jika engkau tak mau mengajak serta aku, maka tundalah ajakanmu kepada suamiku. Ajaklah lautan itu pergi ke tempatnya, jangan mampir ke tempat ini, jangan biarkan menerkam suamiku. Aku tak sudi kehilangan suamiku."

Dengan bahasa cinta, Tengku merengkuh kekasihnya,
"Cut Nyak kekasihku, bersetialah dengan takdir. Kita hanya berpisah barang sesaat. Lagi pula lautan itu tidak akan menerkamku. Ia hanyalah kendaraan yang diutus Allah, yang akan membawaku ke sana, ke masa depanku. Masa depanmu adalah mengasuh Inong dan Agam. Sampaikan salamku kepada mereka."

"Lalu bagaimana jadinya masa depanku tanpa dirimu, Tengku? Masa depanku akan suram tak berkesudahan. Masa depanku akan legam seperti malam. Masa depanku tandas tanpa cintamu."
Dari arah kejauhan, suara-suara bocah memanggil-manggil mereka. Suara polos tak berdosa mengajak naluri keibunya meninggalkan Tengku seorang diri. Cut Nyak langsung menuju suara itu. Dipeluknya Inong dan Agam, boneka dan pistol-pistolan tak lupa ia berikan.
Kini, aku pun menyelesaikan tugasku. Lautan merengkuh jasad Tengku, aku memapah ruhnya, pergi meninggalkan Cut Nyak, Inong dan Agam. Sekali lagi, tangisan-tangisan mengajakku berdamai dengan takdir.

Tanah Air, 2005

Readmore → CERPEN AKU DATANG BERSAMA LAUTAN

CERPEN AIR MATA SURTI

0 comments

AIR MATA SURTI 
Cerpen Ismalinar 


Tidak seorang pun yang ingin jadi penduduk kelas bawah, termasuk Agus dan Surti. Alur kehidupan yang dijalani keduanya memuarakan mereka sebagai pasangan suami istri dengan seorang anak, berprofesi sebagai buruh pabrik sepatu, tinggal di kamar ukuran tiga kali tiga meter, penghasilan hanya cukup untuk makan.
Surti telah dua kali melahirkan. Kesehatan anak keduanya bermasalah. Sejak lahir, setiap habis menangis tubuh mungilnya membiru. Surti membawa bayinya ke Puskesmas. Dokter mengatakan kemungkinan besar si bungsu sakit jantung. Ia dirujuk ke rumah sakit Cipto.
"Oalah Nak, hidup kita susah begini, kok ngambil penyakit orang kaya," Surti bergumam sambil mencium pipi biru anaknya. Air matanya menetes saat menerima surat rujukan dari dokter Puskesmas.
Sebagai ibu, Surti ikhlas berhenti bekerja dan membawa anaknya berobat ke Cipto. Tapi, mereka terbentur biaya. Meskipun kartu miskin bisa diurus tetap saja ada yang harus dibayar. Dari rumahnya ke Cipto tiga kali naik angkutan umum. Pulang pergi enam kali ongkos. Dari mana uangnya? Upah Agus hanya cukup untuk bayar sewa kamar dan beli beras. Selama ini, upah Surti untuk beli lauk-pauk dan biaya lainnya. Tidak ada jalan keluar. Si Bungsu gagal berobat ke rumah sakit besar.
Tidak sanggup hidup berat di dunia, bayi merah Surti balik kepada Sang Khalik. Pasangan itu tergoncang. Mereka merasa bersalah. Terutama Surti. Hatinya perih dan pedih. Ia terluka.
Hidup Surti dan Agus terus mengalir. Seiring dengan berjalannya waktu, luka jiwa Surti berangsur sembuh. Meski, sakitnya masih terasa. Dalam keadaan batin belum stabil tersebut, badai kembali menghantam mereka. Krismon melanda negeri pertiwi, sehingga mempengaruhi kehidupan berbagai kalangan. Agus dan Surti turut jadi korban. Pabrik tempat Surti dan Agus bekerja bankrut.
Setiap hari, Agus, Surti, dan teman-temannya tetap datang ke pabrik. Mereka bergerombol dan mengobrol. Tidak ada pekerjaan lagi. Ketika sebuah koran memberitakan bahwa pemilik pabrik tempat mereka bekerja kabur ke luar negeri, semua karyawan dan buruh tersentak. Mereka merasa kecolongan. Secara spontan mereka berdemo di depan pabrik.
Namun, beberapa hari berdemo, tidak seorang pun petinggi pabrik yang menghampiri para karyawan. Mereka raib tak berbekas. Hanya wartawan yang memotret dan mewawancarai pendemo. Karena itu, Agus dan teman-temannya memutuskan berdemo di halaman kantor Depnaker. Mereka menuntut pemerintah memaksa pemilik pabrik bertanggung jawab terhadap nasib karyawannya.
Surti putus asa. Hari-harinya dan Agus habis untuk berdemo. TV 14 inci, satu-satunya hiburan Si Sulung, telah terjual. Surti sangat ketakutan membayangkan ia dan Agus tidak punya uang sama sekali. Ia tak mampu membeli nasi saat si Sulung lapar. Si Sulung akan lapar berhari-hari dan meninggal, seperti Si Bungsu. Tubuh Surti menggigil. Sebagai ibu, ia merasa tidak berguna lagi.
Diambilnya pisau. Lama diperhatikannya sisi mata pisau yang tajam. Surti melihat Si Bungsu di sana. Ia sehat dan montok. Di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap. Sambil terbang kian ke mari, Si Bungsu memanggil-manggil Surti. Ia mengajak Surti bermain-main di taman bunga yang indah. Surti ingin bergabung dengan Si Bungsu. Gagang pisau dipegangnya erat. Ia siap melayang.
"Mama mau potong apa?" tanya Si Sulung polos. Surti terperanjat. Si Sulung menyadarkannya kembali ke alam nyata. Buru-buru Surti meletakkan pisau. Dipeluknya Si Sulung dengan penuh haru. Si Sulung telah menyelamatkan jiwanya. Hampir saja ia menjadi pengikut setan, setan jahat yang mewujud Si Bungsu untuk menggodanya.
"Maafkan Mama, Nak. Mama tak akan meninggalkanmu. Mama akan cari uang. Kamu tidak boleh busung lapar," Surti berjanji. "Tuhan, ampuni hamba," mohonnya tulus. "Stop berdemo. Uang kita hanya cukup untuk bertahan seminggu, Bang," kata Surti pada Agus.
"Tidak! Abang dan teman-teman ingin kerja lagi atau dapat pesangon. Masa kerja kita telah belasan tahun, jadi pantas dapat pesangon," Agus bersikukuh. "Untuk makan sehari-hari, Sur, ngutanglah dulu di warung. Kalau pesangon telah keluar, semua kita bayar," Agus tetap kukuh pada pendiriannya.
Semalaman Surti tidak bisa tidur. Ia ingin berjualan. Tapi, tidak punya modal. Surti memeras otaknya, agar dapat ide, bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang. Tiba-tiba, Surti ingat Ipan, pengasong koran di pabrik. Sejumput harapan singgah di kepala Surti. Surti pernah mengobrol panjang lebar dengan Ipan. Dari Ipan, Surti tahu untuk berdagang koran tidak perlu modal. Yang penting mendapat kepercayaan dari agen. Kalau sudah dipercaya, ambil koran pagi, langsung dijual. Besok paginya, ke agen lagi mengambil koran yang terbit hari itu dan membayar koran yang dibawa kemarin.
"Aku akan dagang koran," Surti memutuskan. Bibirnya tersenyum. Puas. Tapi sayang, sejak pabrik tutup Surti tidak pernah lagi bertemu Ipan. Maka ia mencari sendiri alamat agen koran. Dengan bertanya ke sana ke mari akhirnya ia berhasil menemukan rumah sang agen. Syukurlah, si agen bersedia mengutangi Surti. Ia menyarankan Surti berjualan di tempat yang ramai. Saat itu juga terbayang di pikiran Surti perempatan jalan dekat pabriknya. Siang malam perempatan itu selalu ramai.
Sore itu Surti pulang dengan tubuh dekil dan keringat di jidat. Ternyata, berdagang koran juga berat. Dini hari, ketika orang lain masih berselimut, ia harus berangkat ke bursa koran, menembus dinginnya cuaca. Begitu mendapat koran, langsung dibawanya ke tempat mangkal. Seharian menunggu pembeli, panas terik membakar kulit, setiap detik menghirup debu jalanan. Namun, Surti puas. Hari pertama ia jualan, korannya laris manis. Lima korannya bersisa, tapi bisa dikembalikan ke agen. Surti tidak menanggung rugi.
Malamnya, Surti mengibaskan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Agus. "Bang Gus, ini untung Sur hari ini. Banyak ya, Bang," wajahnya sumbringah. "Kalau kita gerobak koran yang ada rak-raknya, kita bisa dagang majalah juga. Pasti labanya lebih gede lagi. Sekarang Sur hanya bisa mengasong koran dan tabloid," Surti menerangkan. "Tapi, kalau dagang majalah, harus kita beli kontan. Agen tidak kuat memodalinya."
Agus tidak bereaksi. Ia terlihat bengong. Jauh di lubuk hatinya, ia malu pada Surti. Untuk mengimbangi usaha Surti mencari uang, Agus berjanji dalam hatinya akan menggantikan tugas harian Surti, memasak dan merapikan rumah, serta menjaga Si Sulung. Jika ia berdemo, Si Sulung akan dibawanya.
Hampir setengah tahun Agus dan teman-temannya menghabiskan waktu menuntut haknya. Atas izin Tuhan, keluar juga pesangon yang didambakan Agus. Tapi jumlahnya sedikit. Itu pun ditalangi pemerintah. Uangnya hanya cukup untuk membuat gerobak koran dan modal membeli majalah. Agus kecewa. Ia berharap, uang pesangonnya jauh lebih besar. Sebab yang di-PHK hanya dua orang, yaitu dirinya dan Surti. Surti menghiburnya. Dibujuknya Agus agar pasrah pada Tuhan. Ia juga mengajak Agus berjualan koran.
Siang itu Surti bersama Agus, dan Si Sulung, menunggui gerobak koran. Mereka baru saja memakan nasi bungkus yang dibeli di Warteg. Sejak berjualan majalah dan punya gerobak, pembeli tambah banyak. Dagangan mereka terlihat semarak.
Tapi tiba-tiba, ketika mereka melayani pembeli, tiga mobil loosback berhenti di depan dagangan Surti. Puluhan petugas trantib melompat turun. Petugas menyuruh Surti dan Agus keluar gerobak. Selanjutnya, mereka beramai-ramai mengangkat gerobak Surti ke atas mobil. Koran, tabloid, dan majalah, ikut mereka bawa. Sebagian bahkan berserakan, terinjak kaki petugas.
Agus dan Surti terkesima. Ketika Surti melihat dagangannya terinjak-terinjak, hatinya mendidih. Bagaikan singa betina terluka Surti mengamuk. Diberikannya si sulung kepada Agus. Dengan membabi buta Surti menarik, menjambak, dan memukul seorang petugas. Ia berteriak-teriak histeris. Agus dengan sebelah tangannya menggendong Si Sulung berusaha merangkul Surti. Tapi, tenaga Surti telah berlipat ganda. Ia berontak dari rangkulan Agus.
Seorang petugas memegang kedua tangan Surti. Surti kesal, diludahinya petugas itu. Tersinggung diludahi, tangan besar sang petugas menampar pipi Surti. Melihat istrinya ditampar, Agus kehilangan kendali. Diambilnya sebuah batu di tanah dan dipukulkannya ke kepala petugas. Kepala petugas itu bocor. Darah mengucur deras.
Agus dan Surti diringkus petugas yang lain. Sebelum dibawa ke kantor polisi, petugas yang marah, karena temannya terluka, menghajar Agus. Tubuh Agus babak belur. Ia pingsan. Surti mati rasa. Pikirannya kosong. Si sulung menghilang. Seorang penculik anak, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Surti dan Agus tidak bisa lagi memikirkan anak semata wayangnya itu.
Para petugas trantib pulang ke rumah. Bercengkerama dengan anak istri mereka. Tugas hari itu sudah dilaksanakan dengan baik. Jalan protokol telah bersih. Insentif dijamin dapat. Di balik senyum puas petugas trantib dan atasannya itu, terdengar tawa Surti bercampur tangisan pilu. Tangis yang mendayu, mengiringi lagu kehidupannya. Menyapa Agus yang linglung di penjara.
Otak Agus serasa mau pecah memikirkan keberadaan si Sulung. Mungkinkah Agus menyusul Surti ke rumah sakit gila? Aparat tak lagi peduli. Yang penting jalan bersih. Masyarakat nyaman. Tahun depan sang bakal penguasa terpilih lagi.
"Horas Indonesiaku! Horas penguasa! Aku Surti pendukungmu! Aku adalah sampah yang harus kau buang, Tra la la la la. Kau gus-sur, Tri li li li." Surti terus bernyanyi sepanjang waktu, diselingi seringai, tawa, tangisan, rintihan dan makian.
( )
Readmore → CERPEN AIR MATA SURTI

Sponsor BUS

Dapatkan juga sponsor untuk Blog anda dengan klik gambar di bawah, untuk mengetahui caranya KLIK DISINI. Kalo mau yang lebih tinggi penghasilannya KLIK DISINI Adsense Indonesia

Buat Blog

Alexa Rank

 

Info My Blog

cobi?
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.NetMsn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
web log free

Recent Comment

| BLOG URANG SUNDA © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |